RAJA dan RATU Raih 5% di Blok Kasuri, Langkah Awal FLNG Indonesia
Gambar atau konten salah?
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan anak usahanya, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), telah menandatangani perjanjian akuisisi proyek pengembangan gas alam dan fasilitas floating liquefied natural gas (FLNG) terintegrasi pertama di Indonesia yang dimiliki oleh Genting Berhad.
Direktur Utama RAJA, Djauhar Maulidi, menjelaskan bahwa akuisisi ini dilakukan melalui dua transaksi yang saling terkait di sisi hulu dan hilir. Di sisi hulu, RATU menandatangani Farm Out Agreement (FOA) dengan Genting Oil Kasuri Pte Ltd (GOKPL) untuk pengambilalihan 5% participating interest di Blok Kasuri. Sementara di sisi hilir, RAJA menandatangani Share Sales and Purchase Agreement (SSPA) dengan Genting LNG Pte Ltd (GLNG) untuk akuisisi 5% saham PT Layar Nusantara Gas (PTLNG), perusahaan pengembang fasilitas midstream dan kapal FLNG pertama di Indonesia.
GOKPL dan GLNG keduanya merupakan anak usaha tidak langsung Genting dengan kepemilikan 95%.
“Kami melihat Blok Kasuri sebagai salah satu proyek strategis dengan potensi signifikan dalam mendukung ketahanan energi nasional dan pengembangan ekosistem LNG Indonesia ke depan,” ujarnya dalam keterangan, Senin (11 Mei 2026).
Akuisisi hilir ditargetkan rampung pada akhir Juli 2026 setelah penandatanganan shareholders agreement dan pemenuhan kondisi-kondisi lain dalam SSPA. Sementara, akuisisi hulu bergantung pada persetujuan SKK Migas dan pemerintah Indonesia, dengan penyelesaian paling lambat Februari 2027.
Blok Kasuri terletak di Provinsi Papua Barat. Saat ini 100% participating interest-nya dimiliki oleh GOKPL, yang telah memperoleh persetujuan Pemerintah Republik Indonesia atas First Plan of Development untuk Lapangan Asap, Kido, dan Merah (AKM).
Lapangan AKM dirancang untuk memasok sekitar 230 mmscfd gas alam ke fasilitas FLNG berkapasitas 1,2 mtpa selama periode operasional sekitar 18 tahun, melalui model pengembangan terintegrasi end-to-end yang mencakup onshore gas processing plant, jaringan pipa penghubung, hingga proses konversi menjadi LNG. Selain itu, sekitar 102 mmscfd tambahan gas alam juga dialokasikan untuk kebutuhan domestik guna mendukung ketahanan energi nasional. Proyek ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan LNG di Indonesia.
Akuisisi 5% ini menjadi langkah awal dalam membangun kemitraan strategis jangka panjang dengan Genting. Kedua pihak saat ini juga tengah menjajaki potensi peningkatan partisipasi serta peluang kerja sama strategis lainnya di masa mendatang. Kerja sama ini juga membuka peluang bagi penciptaan lapangan kerja dan pengembangan teknologi LNG.
Proyek ini menandai langkah signifikan bagi Indonesia dalam memperkuat posisi energi nasional, sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan industri LNG domestik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
