Ressa Rossano & Putra Denada Nikah Sederhana di Banyuwangi
Gambar atau konten salah?
Pada 22 April 2026, Putra Denada dan Ressa Rossano menggelar pernikahan sederhana di Banyuwangi. Ressa menjelaskan acara tersebut bersifat intimate dan hanya dihadiri keluarga serta orang-orang terdekat di desanya.
Pada 10 Mei 2026, Ressa mengungkapkan prosesi pernikahannya memang digelar secara intimate dan hanya dihadiri keluarga serta orang-orang terdekat di desanya di Banyuwangi. Ia menyatakan, “Iya, intimate. Cuma keluarga saja sama orang-orang terdekat saja. Itu juga acaranya cuma akad saja. Nggak ada resepsi‑resepsian.” Ressa menekankan bahwa pernikahan itu bersifat sederhana.
Saat ditanya mengapa Ressa tidak menggelar resepsi pernikahan, ia menjelaskan beberapa pertimbangan. “Kalau orang Banyuwangi itu nikahnya ya di kampung gitu. Kedua, kondisi jauh. Di kampung ini maksudnya sederhana, sederhana banget,” ujarnya.
Ia juga menyebut alasan lain terkait keluarga. Apalagi adiknya, Aisha, berada di Singapura. “Kan cuma nikah, akad‑akad saja. Terus yang kedua kondisi jauh. Yang ketiga kasihan adiknya Ressa kalau ditinggal. Jadi dari Ressa sendiri sih itu,” lanjutnya.
Setelah menikah, Ressa dan Rofita mengaku masih dalam masa awal sebagai pasangan suami istri. Bahkan usia pernikahan mereka belum genap satu bulan.
Keduanya juga kompak mengatakan hubungan mereka jarang diwarnai pertengkaran. Rofita menilai suaminya sebagai sosok yang humoris meski terlihat cuek di depan orang lain.
Rofita menambahkan, “Memang aslinya kalau Ressa itu humoris sih. Suka ngelucu. Kalau sama orang memang judes kelihatannya,” jelas Ressa.
Soal bulan madu, pasangan ini mengaku sudah menjalani momen tersebut tak lama setelah akad nikah. Momen itu juga sebagai perayaan ulang tahun Ressa.
Rofita mengatakan, “Sudah sih,” dan Ressa menutup dengan, “Ke Bali. Setelah tanggal 22 itu nikah, kebetulan tanggal 23 kan ulang tahunnya Ressa, jadi sekalian ke Bali.”
Kini, pasangan ini masih berada di fase awal pernikahan, menyesuaikan kehidupan bersama di kampung halaman. Keterbatasan jarak dan keinginan menjaga kedekatan keluarga menjadi faktor utama dalam keputusan mereka.
Kisah ini menunjukkan bahwa pernikahan masih bisa dipertahankan secara sederhana, meski di era modern. Fokus pada keluarga dan kebersamaan tetap menjadi inti bagi pasangan yang memilih jalur tradisional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
