Ribuan Lampion Terbang di Candi Borobudur Saat Waisak
Gambar atau konten salah?
Festival Lampion Waisak di Candi Borobudur Surabaya menjadi sorotan utama setiap tahun. Ribuan lampion yang diterbangkan ke langit malam menandai perayaan Tri Suci Waisak yang diikuti umat Buddha dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Tradisi ini lebih dari sekadar pertunjukan visual; ia memuat makna simbolis yang erat kaitannya dengan ajaran Buddha.
Di dalam perayaan, lampion dianggap sebagai simbol pencerahan dan pelepasan hal negatif. Lampion yang menyala mengingatkan manusia akan pentingnya kebijaksanaan, yang dalam ajaran Buddha diwakili oleh api. Api pada lampion menandakan semangat dan petunjuk, menghapus kegelapan batin atau kebodohan (moha). Ia juga mengingatkan pada momen pencerahan Siddhartha Gautama.
Proses pelepasan lampion dimulai sebelum penerbangan. Peserta menuliskan doa dan harapan pada lampion. Saat lampion naik, prosesi ini dipercaya sebagai bentuk harapan agar doa‑doa dan niat baik tersampaikan ke langit, sekaligus meninggalkan beban negatif seperti amarah, keserakahan, dan kesedihan. Lampion menjadi simbol pembebasan dari hal-hal yang menghalangi pencerahan.
Sejarah perayaan Waisak di Candi Borobudur bermula pada 1937. Sejak saat itu, perayaan berkembang menjadi peringatan nasional pada 1953. Tee Boan An tercatat sebagai pelopor perayaan nasional pertama, yang pada saat itu juga dihadiri duta besar negara-negara sahabat. Pilihan Candi Borobudur sebagai pusat perayaan tidak lepas dari nilai sakralnya dan diyakini menyimpan relik rambut Buddha.
Seiring waktu, tradisi pelepasan lampion di Candi Borobudur menjadi salah satu rangkaian utama peringatan hari Waisak. Kegiatan ini menarik perhatian wisatawan lintas agama, menambah nilai budaya dan spiritual bagi tempat suci tersebut. Setiap tahun, ribuan lampion terbang menambah keindahan langit malam, memancarkan cahaya yang simbolik bagi semua yang hadir.
Tradisi lampion tidak hanya terbatas di Indonesia. Di Korea Selatan, perayaan Yeondeunghoe menandai parade lentera yang meriah di berbagai wilayah. Vietnam memperingati Phat Dan dengan lampion berbentuk teratai, simbol penghormatan. Di Jepang, Hana Matsuri atau Festival Bunga menampilkan perpaduan unsur alam dan simbol cahaya, memperingati kelahiran Buddha.
Dengan demikian, lampion dalam perayaan Waisak bukan sekadar acara visual. Ia memuat makna simbolis yang berkaitan dengan refleksi diri, pencerahan, dan nilai-nilai ajaran Buddha. Setiap lampion yang diterbangkan membawa harapan, kebijaksanaan, dan pembebasan dari beban negatif, menandai perjalanan spiritual bagi setiap peserta.
Perayaan Lampion Waisak di Candi Borobudur telah menjadi tradisi yang terus berkembang, menggabungkan unsur sejarah, budaya, dan spiritualitas. Ia memperkuat hubungan antarumat beragama dan menegaskan nilai pencerahan dalam kehidupan sehari‑hari.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai