Rumah Adat Tengger di Ngadisari: Warisan Budaya Tetap Hidup
Gambar atau konten salah?
Suku Tengger yang bermukim di lereng Gunung Bromo tetap menjaga tradisi dan adat istiadat leluhur. Budaya dan ritual mereka masih hidup, sekaligus rumah adat yang menjadi identitas komunitas.
Di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, masih banyak rumah adat Tengger yang berdiri kokoh di jalur menuju wisata Bromo. Walaupun zaman berubah, bangunan‑bangunan ini tetap menjadi saksi sejarah.
Beberapa rumah telah dipugar, namun pemilik biasanya menjaga bentuk dan ciri asli. Rumah milik Suhartina, warga 89 tahun, adalah contoh terbaik. Bangunan ini dipercaya berusia lebih dari 200 tahun dan sekitar 80 persen materialnya masih kayu asli.
Rumah Suhartina pernah mengalami pemugaran berulang. Pada tahun 2010, atap diperbaiki setelah kerusakan akibat erupsi Gunung Bromo. Lantai kayu yang dulu dipakai diganti dengan keramik, menyesuaikan kebutuhan penghuni.
“Ini peninggalan dari leluhur. Saya hanya meneruskan amanah untuk merawatnya. Bagian kayu dan dinding masih asli. Yang diganti hanya sebagian atap yang rusak akibat erupsi Gunung Bromo. Selebihnya masih dipertahankan karena kondisinya masih kuat,” ujar Suhartina pada 30 Mei 2026.
Rumah adat Tengger memiliki tiga ruangan utama. Padhayon menjadi ruang tamu, Peturon berfungsi sebagai kamar tidur, dan Pawon atau Pedharingan menjadi dapur serta tempat perapian. Pawon sangat penting karena kawasan Bromo berada pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, suhu udara dingin, sehingga ruangan ini sering dipakai sebagai tempat berkumpul keluarga atau tamu sambil menghangatkan badan di dekat tungku.
Keberadaan Pawon menegaskan betapa pentingnya ruang ini dalam kehidupan sehari‑harian masyarakat Tengger. Meskipun modernisasi datang, mereka tetap memelihara nilai‑nilai warisan leluhur.
Bagi wisatawan yang menapaki Gunung Bromo, mengunjungi permukiman warga Tengger di Desa Ngadisari menawarkan pengalaman mendalam. Di sana, pengunjung dapat melihat langsung rumah adat, bertemu penduduk, dan memahami budaya Suku Tengger yang masih lestari.
Rumah‑rumah ini bukan sekadar bangunan; mereka adalah jendela masa lalu yang masih berfungsi. Menjaga keaslian, seperti yang ditekankan Suhartina, memastikan warisan leluhur tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Dengan menjaga rumah adat dan adat istiadat, Suku Tengger menunjukkan bahwa warisan budaya dapat hidup berdampingan dengan modernitas. Pengunjung yang menghargai kebudayaan lokal akan menemukan kedalaman sejarah di setiap kayu, dinding, dan perapian yang masih menyala di desa ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
