Rumah Fatmawati di Bengkulu: Mesin Jahit Bendera Negara

Bima J. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 80 dibaca
Bisik.id
Rumah Fatmawati di Bengkulu: Mesin Jahit Bendera Negara

Gambar atau konten salah?

Kunjungan ke Rumah Fatmawati Sukarno di Bengkulu langsung menjadi prioritas. Lokasi rumah bersejarah ini berada di Jalan Fatmawati Nomor 10, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu.

Dari luar, bangunan ini terlihat sederhana dan tidak terlalu besar. Tersedia halaman depan untuk parkir motor. Pengunjung yang membawa mobil harus mencari tempat parkir di luar area rumah tersebut.

Begitu memasuki halaman, terlihat patung setengah badan berkerudung yang merepresentasikan sosok Ibu Fatmawati, berdiri tidak jauh dari pagar.

Struktur rumah ini adalah rumah panggung khas Melayu, ditopang oleh tiang-tiang kayu dan hanya terdiri dari satu lantai. Untuk naik ke beranda, pengunjung harus menaiki tangga berubin putih. Sepatu wajib dilepas sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.

Interior didominasi material kayu. Dindingnya terbuat dari papan bercat, lantainya kayu berpelitur. Pintu utama terdiri dari dua daun pintu simetris dengan ventilasi khas rumah lama.

Di ruang tamu, terpampang dua foto besar Sukarno dan Ibu Fatmawati dalam pigura kayu. Dinding lain menampilkan berbagai foto yang mendokumentasikan perjalanan hidup Fatmawati, mulai masa muda hingga menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.

Informasi di salah satu sudut ruangan menyebutkan bahwa rumah ini dibangun pada tahun 1915. Di sinilah Fatmawati kecil menghabiskan masa kecilnya bersama orang tuanya, Hasandin dan Siti Chadidjah. Nilai historis rumah ini terasa sangat kuat.

Menariknya, tidak ada biaya tiket masuk untuk mengunjungi rumah ini. Saat berkunjung, saya disambut oleh seorang penjaga bernama Pak Marwan. Ia dengan ramah menjaga rumah dan bahkan membantu pengunjung mengambil foto.

Menurut Pak Marwan, rumah ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Ia juga mengungkapkan memiliki hubungan kekerabatan dengan Fatmawati. Ayah Pak Marwan adalah adik dari Hasandin, ayah Fatmawati. Ini menjadikan Pak Marwan sebagai sepupu Fatmawati, meskipun perbedaan usia mereka cukup jauh.

Rumah ini merupakan properti pribadi keluarga besar Fatmawati. Pemerintah Kota Bengkulu mempercayakan pengelolaannya kepada Pak Marwan.

Di ruang tamu, terdapat foto yang memperlihatkan Sukarno, Inggit Garnasih, Ratna Djuami, dan beberapa orang lain di depan rumah tempat Sukarno diasingkan di Bengkulu antara tahun 1938 hingga 1942. Keterangan foto menyebutkan bahwa mereka adalah anggota perkumpulan olahraga bulu tangkis, dan Fatmawati adalah salah satu anggotanya. Dari pergaulan inilah, kisah cinta antara Sukarno dan Fatmawati dimulai.

Selanjutnya, saya melihat kamar tidur Fatmawati. Di dalamnya terdapat ranjang besi lengkap dengan tirai. Pak Marwan menegaskan, "Ranjang ini asli, yang dulu dipakai Ibu Fatmawati."

Namun, benda paling bersejarah tersimpan di kamar lain: mesin jahit tua. Mesin inilah yang digunakan Fatmawati untuk menjahit Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Menyaksikan mesin jahit tersebut memberikan kesan mendalam. Ini adalah alasan utama kunjungan ke Bengkulu—menyaksikan saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia.

Pak Marwan menawarkan kesempatan untuk berfoto bersama mesin jahit bersejarah itu.

Saya juga menemukan foto menarik lainnya. Foto tersebut menampilkan Ibu Fatmawati mengenakan kebaya saat menghadiri sebuah pesta. Keterangan foto menyebutkan bahwa Ibu Fatmawati sedang menari dan bernyanyi bersama teman-temannya, setelah hidup terpisah dari Bung Karno.

***

Rumah Fatmawati Sukarno berfungsi sebagai penanda penting sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya peran Ibu Fatmawati sebagai penjahit bendera pusaka.

Rumah Fatmawati SukarnoBengkuluSejarahMesin JahitIbu NegaraRumah PanggungPak Marwan

Komentar

Memuat komentar...