Rumah Kolonial 208 Tahun di Sidoarjo, 60‑70 Bangunan Tersisa
Gambar atau konten salah?
Sidoarjo, di Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, masih berdiri sebuah rumah bergaya Indis yang berasal dari era kolonial Belanda. Rumah ini diperkirakan berusia 208 tahun dan menampilkan penanda tahun 1818 yang masih terlihat jelas di bagian bangunan.
Rumah tersebut menjadi bukti nyata bahwa kawasan Kedungcangkring telah berkembang sejak lebih dari dua abad lalu. Ketua RW 01 Dusun Kauman, H. Nurkholis menjelaskan bahwa di lingkungan RW 01 terdapat sekitar 60 hingga 70 rumah peninggalan zaman kolonial Belanda. Hingga kini, rumah‑rumah itu masih berdiri kokoh dan ditempati oleh ahli warisnya.
Menurut Nurkholis, penghuni rumah‑rumah tua itu cenderung merupakan generasi ketiga hingga keempat. Ia menyebutkan, “Salah satu rumah tertua yang dibangun pada 1818 bahkan kini hanya ditempati satu orang keturunan generasi keempat.” Kondisi rumah masih asli, hanya atap dan genteng yang pernah diganti karena usia dan sempat ambruk.
Selain rumah tahun 1818, di kawasan tersebut juga ditemukan sejumlah bangunan dengan penanda tahun lain seperti 1903, 1915, 1919, dan 1931. Ciri khas arsitektur kolonial terlihat dari bentuk pintu dan jendela yang tinggi serta memanjang.
Nurkholis menjelaskan bahwa Dusun Kauman dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan batik yang maju di wilayah Sidoarjo bagian timur. Banyak pedagang dari luar daerah hingga mancanegara datang ke kawasan itu untuk membeli kain batik produksi warga setempat. “Dulu cerita dari nenek moyang banyak tamu dari Cina dan Arab datang ke sini untuk belanja batik. Produk sini dikenal sebagai Batik Kedungcangkring,” ujarnya.
Ia menambahkan, di wilayah itu juga pernah berdiri perserikatan dagang pengusaha pribumi, termasuk Sarekat Dagang Islam. Jejak sejarah tersebut masih terlihat pada salah satu rumah tua melalui ukiran dan kaca grafis berlambang Sarekat Islam.
Kedungcangkring tidak hanya dikenal sebagai sentra batik, kawasan ini juga memiliki sejarah penting dalam sektor pertanian tebu pada masa kolonial. Jalur air di wilayah tersebut dibuat terstruktur untuk mendukung irigasi sekaligus operasional Pabrik Gula Porong. “Sampai sekarang masih ada rumah pompa air tahun 1920 di depan pintu masuk kampung,” kata Nurkholis.
Menurutnya, kawasan rumah‑rumah tua di Dusun Kauman kini kerap dikunjungi komunitas pecinta bangunan kuno, instansi pemerintah, hingga lembaga resmi untuk kepentingan edukasi dan pendataan cagar budaya. “Hampir setiap bulan ada tamu yang datang. Minggu lalu juga ada dari Pemprov dan Kementerian Pariwisata yang melakukan penelusuran bangunan bersejarah,” ujarnya.
Warga berharap deretan rumah kuno di Dusun Kauman dapat terus dilestarikan sebagai warisan sejarah sekaligus pengingat kejayaan ekonomi batik di masa lampau.
Rumah‑rumah kolonial ini menampilkan arsitektur yang masih utuh, sekaligus menjadi saksi bisu perjalanan ekonomi dan budaya di Sidoarjo. Keberadaan rumah‑rumah tersebut menunjukkan bahwa warisan kolonial masih hidup dalam kehidupan sehari‑hari penduduk setempat, sekaligus menjadi titik fokus bagi pelestarian sejarah dan edukasi generasi berikutnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
