Rupiah Jatuh di Rp18.000, Prediksi Lebih Rendah Besar

Eko P. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 99 dibaca
Bisik.id
Rupiah Jatuh di Rp18.000, Prediksi Lebih Rendah Besar

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan akan terus melemah, menandai kemungkinan jatuhnya mata uang Garuda di atas Rp 18.000 per dolar AS minggu depan. Analisis ini datang dari seorang pakar komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, yang menilai bahwa tren ini tidak hanya dipicu faktor teknikal atau kebijakan moneter Bank Indonesia, melainkan masalah struktural dalam perekonomian nasional.

“Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200,” kata Ibrahim kepada 29 Mei 2026.

Menurutnya, kelemahan rupiah berakar pada defisit neraca transaksi berjalan yang masih sangat bergantung pada impor energi, khususnya minyak mentah. Ia menyoroti bahwa harga minyak di anggaran pemerintah (APBN) masih di US$ 70 per barel, sementara nilai tukar rupiah berada di Rp 16.500. Namun, saat ini rupiah sudah di Rp 17.900 dan harga minyak mentah naik di atas US$ 90. Akibatnya, pemerintah harus mengeluarkan dolar dalam jumlah besar untuk menutupi defisit tersebut, sementara 85% impor minyak mentah disubsidi. “Pemerintah harus mengeluarkan dolar yang cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini,” tutur Ibrahim.

Di sisi pasar modal, banyak perusahaan asing yang terdaftar di Indonesia harus membagikan dividen atau bagi hasil kepada pemilik sahamnya. Hal ini meningkatkan permintaan dolar domestik, yang pada gilirannya memperlemah rupiah. “Sudah kita kekurangan dolar, kemudian beban dividen yang harus dibagikan terhadap para investor, terutama investor asing di perusahaan-perusahaan yang listing di bursa, di pasar modal. Nah ini membuat satu kegaduhan tersendiri,” ucap Ibrahim.

Pasar logam mulia juga tidak luput dari pengaruh. Harga emas dunia masih berfluktuasi di tengah ketidakpastian global, sementara nilai dolar terhadap rupiah terus menguat. Investor lebih memilih memindahkan aset mereka dari emas ke dolar, mencari keuntungan dari momentum pelemahan mata uang Garuda. “Dana yang tadinya mereka investasikan di logam mulia, di emas digital, mereka pindahkan. Kenapa? Momentum untuk mendapatkan keuntungan secara jangka pendek itu ada di indeks dolar, bukan di logam mulia,” ujarnya.

Rencana pemerintah tentang ekspor satu pintu melalui BUMN baru, Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), menambah ketidakpastian bagi investor asing. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menekan praktik transfer pricing dan under invoicing, namun pelaksanaannya dianggap terlalu cepat dan tidak ada sosialisasi yang memadai. “Ekspor satu pintu melalui DSI ini membuat kegaduhan. Memang secara jangka panjang bagus, karena pemerintahan di luar negeri pun sama, di Eropa juga sama seperti itu. Tapi karena dalam kondisi yang tidak baik-baik saja saat ini ekonomi, ini membuat kegaduhan tersendiri,” jelas Ibrahim.

Ia menambahkan, “Pemerintah benar bahwa dengan satu pintu ini kemungkinan besar tidak akan ada kebocoran untuk ekspor ilegal. Karena selalu tidak sesuai secara kertas dan secara teknis itu berbeda. Tetapi ini pun juga menjadi beban tersendiri, terutama bagi perusahaan-perusahaan tambang yang sudah melakukan kontrak kerja jangka pendek maupun jangka menengah, jangka panjang dengan perusahaan-perusahaan di luar negeri.”

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, juga menilai nilai tukar rupiah akan terus melemah. Ia memperkirakan dolar akan “ngamuk” hingga menembus Rp 18.000. Namun, ia menegaskan bahwa jika rupiah melewati angka tersebut, pelemahan akan mempercepat dan menembus Rp 19.000 per dolar AS. “Jadi bahkan bukan Rp 18.000, tapi level psikologis setelah Rp 18.000 ke Rp 19.000, pelemahannya akan jauh lebih cepat karena batas psikologisnya memang sudah menembus,” tuturnya.

Bhima menyoroti bahwa sentimen negatif investor asing, khususnya atas kebijakan pemerintah, menjadi pendorong utama pelemahan rupiah. Ia menilai bahwa kebijakan ekspor satu pintu diluncurkan begitu cepat sehingga menimbulkan ketidakpastian aturan. “Ini perubahannya terjadi begitu cepat, diumumkan begitu cepat. Sebelumnya bahkan belum ada sosialisasi ataupun pembahasan misalnya dengan para pelaku usaha. Sehingga ini juga menurunkan minat berinvestasi di Indonesia,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa pelaku pasar saat ini masih memantau kondisi fiskal domestik dan efektivitas program pemerintah. Kekhawatiran bahwa defisit APBN akan terus melebar karena beban subsidi energi dan program populis seperti MBG, Kopdes Merah Putih, masih menjadi faktor penting. “Ada kekhawatiran defisit APBN-nya masih akan terus melebar karena ada beban biaya subsidi energi, dan juga ada beban dari program-program populis atau program mercusuar Prabowo seperti MBG, Kopdes Merah Putih yang efek ekonominya masih diragukan tapi anggarannya cukup besar,” ujarnya.

Secara keseluruhan, analisis kedua pakar menegaskan bahwa kombinasi faktor struktural, kebijakan fiskal, dan dinamika pasar modal serta logam mulia berkontribusi pada tekanan melemahnya rupiah. Ketidakpastian regulasi, terutama terkait ekspor satu pintu, menambah ketidakstabilan persepsi investor. Jika tren ini berlanjut, rupiah berpotensi menembus batas psikologis di atas Rp 18.000 dan melaju lebih jauh ke Rp 19.000 per dolar AS, memperparah kondisi mata uang Garuda di pasar global.

rupiah melemahdefisit neracaminyak mentahekspor satu pintukebijakan fiskalpasar modallogam mulia

Komentar

Memuat komentar...