Rupiah Terpuruk, Nilai Tukar Mencapai Rp 17.500 per Dolar

Ika P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 103 dibaca
Bisik.id
Rupiah Terpuruk, Nilai Tukar Mencapai Rp 17.500 per Dolar

Gambar atau konten salah?

Denpasar – Rupiah terus terpuruk di bawah tekanan dolar Amerika Serikat. Nilai tukar kini menembus rekor di Rp 17.500 per dolar, jauh melampaui target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini.

Menurut Ronny P Sasmita, kepala Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), pemerintah harus menjaga kredibilitas fiskal dan APBN agar pasar tetap yakin defisit tetap terkendali. “Kredibilitas fiskal harus dipertahankan agar pasar tidak meragukan kemampuan negara dalam mengelola keuangan,” ujarnya.

Ronny menekankan pentingnya memulihkan kepercayaan pasar. “Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi. Kadang satu pernyataan pejabat saja bisa membuat rupiah masuk angin lebih cepat dari yang dibayangkan,” ujar Ronny, 15 Mei 2026. Ia berharap investor yang sebelumnya menarik modalnya dapat kembali menyuntikkan dana ke Indonesia, sehingga nilai tukar dapat menyeimbangkan.

Selanjutnya, Ronny mendorong pemerintah memperkuat ekspor dan memperbesar devisa. Ia menyebut kebijakan baru DHE harus dioptimalkan untuk menjaga nilai tukar. “Ekspor yang kuat akan menambah cadangan devisa, memberi tekanan positif pada rupiah,” tambahnya.

Di jangka panjang, Ronny mengajak pemerintah mempercepat hilirisasi dan substitusi impor. Tujuannya menekan ketergantungan terhadap barang impor sehingga rupiah tidak langsung terpukul oleh gejolak global.

Secara teori, Ronny berujar bahwa nilai tukar rupiah bisa kembali ke target APBN 2026 sebesar Rp 16.500. Namun ia menegaskan bahwa proses penguatan saat ini sangat bergantung pada dinamika global beberapa bulan ke depan, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed dan tensi geopolitik dunia.

“Kalau tekanan eksternal mulai mereda dan arus modal asing kembali masuk ke emerging markets termasuk Indonesia, peluang ke arah sana tetap terbuka. Namun pemerintah dan pasar juga harus realistis bahwa volatilitas global saat ini memang jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu,” papar Ronny.

Menurut Yusuf Rendy Manilet, kepala Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Bank Indonesia di jangka pendek harus tetap aktif menjaga pasar valas supaya pelemahannya tidak terlalu tajam dan tidak memicu kepanikan. Ia menilai bahwa untuk menguatkan rupiah atau kembali seperti target di APBN memerlukan hal yang jauh lebih besar.

Rendy menekankan perlunya menjaga kepercayaan pasar. Ia berujar, “Tapi yang paling penting sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar,” tegas Rendy.

Ia juga menyoroti struktur ekonomi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku, energi, dan aliran modal asing. “Struktur ekonomi yang masih terikat pada impor membuat rupiah langsung ikut terpukul setiap ada gejolak global,” ujarnya.

Rendy menambahkan bahwa Indonesia perlahan perlu mengubah struktur ekonominya dengan memperkuat industri dalam negeri. “Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor‑sektor yang selama ini membuat impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri,” papar Rendy.

Ia juga menegaskan pentingnya kepastian kebijakan. “Kepastian kebijakan juga sangat penting untuk dihadirkan pemerintah. Investor bisa menerima aturan yang ketat, asalkan jelas dan konsisten. Hal paling membuat mereka menahan diri biasanya bukan aturannya, tetapi perubahan yang terlalu mendadak dan sulit diprediksi,” tambahnya.

Dengan semua rekomendasi ini, rupiah masih harus menunggu dinamika global dan kebijakan domestik yang konsisten. Keberhasilan penguatan rupiah akan bergantung pada kepercayaan pasar, stabilitas fiskal, dan kemampuan Indonesia mengurangi ketergantungan impor melalui hilirisasi dan industri dalam negeri.

rupiahAPBNkredibilitas fiskaldevisahilirisasiimporindustri dalam negeri

Komentar

Memuat komentar...