Salat Idul Adha di Seberang Tanggul Lumpur Lapindo Penyintas
Gambar atau konten salah?
Di Sidoarjo, ribuan warga yang pernah terdampak semburan lumpur Lapindo mengadakan salat Idul Adha di seberang tanggul penahan lumpur. Acara berlangsung di sekitar Desa Jatirejo dan halaman Masjid Nurul Azhar, Porong. Tradisi tahunan ini menjadi momen penuh haru sekaligus ajang silaturahmi bagi mereka yang selama dua puluh tahun terpisah akibat bencana.
Ketua Yayasan Nurul Azhar, Muhammad Masruq, menjelaskan bahwa salat Idul Adha di dekat tanggul memiliki makna mendalam bagi para penyintas Lumpur Lapindo. “Ini menjadi ajang reuni tahunan bagi warga terdampak lumpur yang dulu tinggal di sini. Mereka datang khusus untuk salat dan bertemu kenalan lama. Ada yang dari Malang, luar Sidoarjo hingga warga lama Porong,” ujarnya.
Menurutnya, lokasi salat yang berada persis di depan tanggul menjadi sarana refleksi dan mengenang desa-desa yang kini hilang sejak 29 Mei 2006. Masruq menegaskan bahwa meski kawasan sekitar Masjid Nurul Azhar kini sudah sepi dan tak lagi masuk dalam peta wilayah lama, aktivitas dakwah dan pelayanan sosial tetap berjalan. “Meski lokasi Masjid Nurul Azhar persis di depan Lumpur Lapindo sudah tidak ada warga, bahkan dihapus dari peta wilayah dan masuk kelurahan sebelah, kami tetap bertahan dan menjalankan amanah warga yang sudah pindah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keteguhan berdakwah menjadi bagian dari teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS yang tetap berdakwah dalam kondisi apa pun. “Keteguhan berdakwah harus terus berjalan meski berat dan sepi pengingat,” tambahnya.
Selama Idul Adha tahun ini, yayasan tetap melaksanakan penyembelihan hewan kurban berupa 5 ekor sapi dan 3 ekor kambing. Semua sapi merupakan titipan jamaah lama yang dahulu tinggal di sekitar wilayah terdampak. Sementara tiga kambing berasal dari program hadyu sesuai ketentuan KPHU Kementerian Agama dan fatwa ulama Mesir. Daging kurban sebagian besar diserahkan kembali kepada mudahi untuk dibagikan kepada tetangga dan warga di tempat tinggal mereka sekarang. Sebagian lagi untuk jamaah aktif masjid, panitia dan warga Porong, jelasnya.
Masruq mengatakan sekitar 80 persen penerima daging kurban merupakan warga Porong yang menjadi korban Lumpur Lapindo yang masih menetap di sekitar wilayah terdampak. Selain menjadi pusat ibadah, Masjid Nurul Azhar juga tetap aktif menjalankan layanan sosial bagi warga korban Lumpur Lapindo.
Yayasan tersebut hingga kini masih mengelola panti asuhan dan lembaga kesejahteraan sosial yang membantu anak-anak korban bencana agar tetap bisa bersekolah. “Kami membantu biaya pendidikan anak-anak warga terdampak yang kesulitan ekonomi minimal sampai SMA, bahkan ada yang sampai perguruan tinggi. Alhamdulillah sudah ada yang lulus dan bekerja sampai luar Jawa,” ungkapnya.
Tak hanya itu, yayasan kini juga telah memiliki dua pondok pesantren. Salah satunya berada di kawasan industri Ngoro dengan sekitar 70 santri dan 1.500 siswa. Masruq sendiri merupakan warga terdampak Lumpur Lapindo yang rumahnya dulu berada di sekitar area tersebut. Ia telah menjabat Ketua Yayasan Nurul Azhar sejak awal semburan lumpur hingga sekarang.
Dengan melaksanakan salat Idul Adha di lokasi yang dulu menjadi kampung halaman mereka, warga korban semburan lumpur Lapindo menunjukkan keteguhan hati dan solidaritas yang kuat. Mereka tidak hanya mengingat masa lalu, tetapi juga memperkuat jaringan sosial dan spiritual di tengah kondisi yang masih terasa sepi. Acara ini menegaskan bahwa meski wilayah fisik telah berubah, nilai kebersamaan dan gotong‑royong tetap hidup di antara para penyintas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
