Samosir Capai 103.516 Pengunjung, Pendapatan PAD 1,6 Triliun

Wahyu T. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 73 dibaca
Bisik.id
Samosir Capai 103.516 Pengunjung, Pendapatan PAD 1,6 Triliun

Gambar atau konten salah?

Samosir, sebuah kabupaten di Sumatera Utara, mencatat lonjakan kunjungan wisatawan selama liburan Nyepi dan Lebaran 2026. Selama delapan hari, daerah ini mencatat 103,516 kunjungan, menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 1,604,389,00 miliar. Angka ini berasal dari 15 objek wisata yang dikelola oleh Pemkap Samosir. Arus masuk terlihat jelas di jalur Danau dan akses darat via Tele.

Data yang dirilis oleh Disbudpar menunjukkan bahwa dari 18 Maret 2026 hingga 25 Maret 2026, beberapa objek wisata mengalami peningkatan kunjungan yang tajam. Waterfron City Pangururan tetap menjadi tujuan utama, menarik 1,952 pengunjung dari dalam Samosir dan 34,734 pengunjung dari luar Samosir. Panorama Tele berikutnya dengan 219 pengunjung dalam dan 31,739 pengunjung luar. Objek lain juga mencatat angka tinggi: Air Terjun Efrata (13,616), Tomok (12,146), Pantai Pasir Putih Parbaba Pintu I (2,899), Aek Rangat (2,429), Pantai Pasir Putih Pintu II Bumdes (1,100), Pantai Pasir Putih Pintu III Bumbes (910), Tatea Bulan (660), DTW Lagundi (479), PIKT (206), Batu Sawan (196), Batu Hobon (101), Air Terjun Naisogop (76), Siallagan (29), dan DTW Parlombuan (25).

"Kunjungan wisatawan periode 18 -25 Maret 2026 sebanyak 103,516 pengunjung. Dari kunjungan tersebut, Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai 1,604,389,00 miliar," ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Samosir, Tetty Naibaho kepada detikSumut, Kamis (26/3/2026).

Tetty menambahkan bahwa jumlah kunjungan tetap tinggi, namun ia belum dapat memberikan perbandingan detail dengan tahun sebelumnya. "Tetty juga mengatakan tingkat kunjungan wisatawan ke Samosir masih ramai. Ia juga menyebut belum dapat memberikan infomasi lebih rinci terkait perbandingan kunjungan tahun ini dengan tahun lalu." Ia mencatat bahwa lonjakan tetap berlanjut meski kantor pemerintah sudah kembali beroperasi. "Masih ramai. Belum bisa kami simpulkan, masih ada 2 hari lagi," ungkapnya.

Periode puncak liburan, dari 18 Maret 2026 hingga 24 Maret 2026, menunjukkan aliran pengunjung tertinggi. "Misalnya di Waterfront Pangururan itu bisa sampai 10 ribuan orang dari pagi sampai sore. Tapi yang menonton pertunjukan itu 6,500 orang per hari karena tidak semua menonton," lanjutnya. Kawasan itu bergetar, dengan pedagang dan penampil mengisi promenade. Objek populer lain yang disebutkan adalah Bukit Sibea-bea, Bukit Holbung, dan Batu Hoda, masing-masing menarik ribuan wisatawan yang ingin menikmati alam.

Tetty juga mengungkapkan bahwa semua penginapan, termasuk hotel dan homestay, penuh. Banyak wisatawan harus tidur di ruang publik. "Lebih lanjut, Tetty membeberkan bahwa seluruh penginapan maupun hotel di Samosir juga kehabisan kamar bahkan banyak wisatawan yang tidur di area fasilitas publik." Ia menjelaskan bahwa kapasitas telah terlampaui: "Melebihi kapasitas ya karena kita yang dari ratusan hotel maupun ribuan homestay itu full bahkan melebihi kapasitas sehingga wisatawan ada yang tidur di area terbuka mungkin menggunakan musala bahkan ada yang di depan gereja. Ada juga yang kami dampingi untuk ke rumah-rumah yang memang selama ini tidak menjadi homestay tapi mereka kita dampingi untuk dapat menerima wisatawan untuk tidur," jelasnya. Penyelenggara mengatur area tidur sementara dan bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk menampung pengunjung.

Data ini menyoroti permintaan kuat terhadap objek wisata Samosir pada liburan besar. Arus tinggi menekan infrastruktur dan kapasitas akomodasi, mendorong pihak berwenang mempertimbangkan langkah-langkah pengelolaan keramaian. Mereka menilai opsi seperti membatasi jumlah pengunjung pada jam puncak, memperbaiki jalur transportasi, dan memperluas fasilitas penginapan.

Situasi ini menegaskan perlunya pengembangan pariwisata yang seimbang, memastikan arus pengunjung tidak menenggelamkan sumber daya daerah sekaligus memberi manfaat ekonomi. Hal ini juga menyoroti pentingnya perencanaan berkelanjutan untuk melestarikan warisan alam dan budaya Samosir.

SamosirKunjungan WisatawanWaterfron City PangururanPADInfrastrukturPenginapanDisbudpar

Komentar

Memuat komentar...