Sapu-sapu Jadi Pakan Ternak, Solusi Harga Tepung Ikan Impor
Gambar atau konten salah?
Susi Pudjiastuti pernah mengusulkan supaya hasil tangkapan ikan sapu‑sapu tidak sekadar dikubur, melainkan diolah menjadi pelet pakan ternak dan pupuk tanaman. Ide ini membuka mata banyak pihak bahwa spesies invasif yang mendominasi sungai dan danau di Indonesia sebenarnya menyimpan potensi ekonomi besar bila diproses dengan inovasi yang tepat.
Alih‑alih dipandang sebagai hama yang merugikan dan berujung dimusnahkan, riset ilmiah justru mengungkap bahwa ikan sapu‑sapu adalah sumber protein hewani berkualitas tinggi yang mampu menjadi solusi bagi mahalnya harga pakan di industri perikanan saat ini. Di balik reputasinya sebagai “hama” perairan, tersimpan potensi ekonomi dan biologis yang luar biasa jika dikelola dengan pendekatan sains yang tepat.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hasnidar, et al. (2021) dalam publikasi berjudul “Analisis Kimia Ikan Sapu‑Sapu (Pterygoplichthys Pardalis Castelnau 1855) Dari Danau Tempe”, daging ikan sapu‑sapu segar mengandung protein sebesar 15,20%, lemak 6,27%, dan kadar abu 4,74%. Selain itu, ikan ini mengandung sepuluh jenis asam amino esensial, mulai dari leusina, arginina, hingga triptofan. Kandungan asam lemak tak jenuh seperti Omega‑3 (DHA dan EPA) serta Omega‑6 (linolenat dan linoleat) menjadikannya bahan baku pakan yang sangat berkualitas untuk memacu pertumbuhan biota budidaya.
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) melakukan penangkapan ikan sapu‑sapu di anak Kali Ciliwung, Matraman, Jakarta, pada 20 April 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berencana membentuk petugas penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP) khusus untuk menangkap dan mengatasi ikan sapu‑sapu agar upaya menjaga ekosistem perairan di Jakarta dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Di industri akuakultur, pakan merupakan komponen biaya terbesar yang mencapai 60% hingga 70% dari total modal usaha. Tingginya harga pakan komersial sebagian besar dipicu oleh ketergantungan pada tepung ikan impor sebagai sumber protein hewani utama. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ruslaini, et al. (2023) berjudul “Pelatihan Pembuatan Tepung Ikan Sapu‑Sapu Sebagai Bahan Pakan Alternatif Berkelanjutan di Kelurahan Padaleu Kendari”, pemanfaatan ikan sapu‑sapu menjadi tepung dapat menjadi solusi substitusi yang sangat bernilai ekonomis. Tepung ikan sapu‑sapu memiliki kadar protein yang sangat tinggi, bahkan dalam beberapa studi, kadar protein pada dagingnya yang diolah menjadi tepung dapat mencapai angka 75,5%. Memanfaatkan bahan lokal yang melimpah ini, pembudidaya dapat menekan biaya produksi sekaligus membantu mengendalikan populasi spesies invasif di perairan umum.
Berikut langkah‑langkah membuat tepung ikan sapu‑sapu, disajikan dalam urutan proses:
- Pembersihan: Ikan sapu‑sapu dibersihkan dengan cara mengeluarkan isi perut (usus) dan insangnya menggunakan pisau atau gunting bedah. Disarankan untuk membelah bagian perut ikan agar proses pengeringan nantinya bisa berlangsung lebih cepat.
- Pengukusan: Ikan yang telah bersih disusun rapi ke dalam wadah pengukusan dan dikukus selama kurang lebih 30 menit. Proses pengukusan ini sangat penting untuk memudahkan pemisahan daging dari tulang dan sisik ikan yang sangat keras.
- Pemisahan Daging: Setelah dikukus, daging ikan dipisahkan dari tulang dan sisiknya. Pemisahan ini bertujuan agar proses pengeringan lebih efektif dan mempermudah tahap penepungan.
- Pengeringan: Daging (serta tulang dan kulit jika ingin diikutkan) dijemur di bawah sinar matahari selama 2 hingga 3 hari. Jika intensitas matahari kurang, pengeringan bisa memakan waktu hingga 4‑5 hari sampai benar-benar kering. Pengeringan bertujuan mengurangi kadar air untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan memperpanjang umur simpan.
- Penggilingan (Penepungan): Bahan yang telah benar-benar kering digiling menggunakan mesin penggiling. Karena ikan sapu‑sapu didominasi oleh tulang yang kokoh dan keras, penggunaan mesin penggiling lebih disarankan daripada alat manual. Masukkan bahan sedikit demi sedikit ke dalam mesin agar proses penghalusan lebih optimal. Selain mesin giling, penggunaan blender juga dimungkinkan untuk skala kecil.
- Pengayakan: Hasil gilingan kemudian diayak untuk mendapatkan tekstur tepung yang halus dan memisahkannya dari ampas atau bagian yang masih kasar.
Tepung ikan sapu‑sapu yang sudah jadi dapat langsung dimanfaatkan sebagai campuran pakan atau disimpan dalam jangka waktu tertentu untuk dijual guna menambah penghasilan. Tepung ini diketahui memiliki kandungan gizi yang lengkap, termasuk protein tinggi yang berkisar antara 56,51% hingga 65,45%.
Meski data ilmiah menunjukkan manfaat ikan sapu‑sapu yang besar, tingkat adopsi di masyarakat peternak masih menghadapi beberapa kendala. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Abdullah, et al. (2025) berjudul “Hambatan Adopsi Pemanfaatan Ikan Sapu‑Sapu Sebagai Pakan Ternak Di Perairan Danau Kabupaten Soppeng”, ditemukan bahwa 93% responden awalnya tidak mengetahui bahwa ikan sapu‑sapu memiliki manfaat sebagai pakan ternak. Selain ketidaktahuan, hambatan teknis seperti sulitnya penanganan karena kulit yang keras (73% responden) dan anggapan bahwa proses pengolahan membutuhkan biaya tambahan (50% responden) menjadi faktor penghambat. Sebab itu, diperlukan intensitas penyuluhan dan pendampingan teknologi agar potensi sumber daya lokal ini dapat diserap secara maksimal untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan peternak di pedesaan.
Manfaat ikan sapu‑sapu sebagai bahan baku pakan alternatif (mengolahnya menjadi tepung atau pelet) merupakan fakta ilmiah yang didukung oleh data kimiawi dan uji pertumbuhan. Transformasi ikan ini menjadi pakan mandiri bukan hanya strategi untuk menekan biaya operasional akuakultur, tetapi juga bentuk manajemen ekosistem yang cerdas. Melalui dukungan teknologi pengolahan dan edukasi yang berkelanjutan, ikan sapu‑sapu dapat diubah dari ancaman lingkungan menjadi aset ekonomi yang berharga. Pada akhirnya, mengubah status ikan sapu‑sapu dari pengganggu ekosistem menjadi pakan berkualitas adalah langkah nyata menuju kemandirian budidaya yang berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan ikan sapu‑sapu secara terencana, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada tepung ikan impor, menurunkan biaya pakan, dan mengendalikan populasi spesies invasif. Potensi ini menandakan bahwa sumber daya alam yang sebelumnya dianggap negatif dapat menjadi peluang ekonomi jika dikelola dengan pendekatan ilmiah dan teknologi yang tepat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Taufik Sekap Pacar 1,5 Tahun, Akui Menyesal
Kawanan Monyet Serbu Dua Dusun, Warga Ciamis Waswas
Puluhan Ton Eceng Gondok Disikat dari Waduk Jangari Cianjur
Lima Jemaah Haji Tasikmalaya Meninggal di Tanah Suci
Bandung Terima 151 Mesin RDF Hibah, 50 Titik Bantuan TNI AD
DPRD Jabar: Jangan Korbankan Beasiswa Miskin Demi Sekolah Swasta
Berita Terbaru
Yamaha Fazzio Hybrid: Dari Kanvas Kreatif hingga Motor Fungsional
Rektor ITB Usulkan Mahasiswa Tahu Nilai UTBK Dulu Sebelum Daftar Kampus
Toyota Fortuner Pelat Merah Dilelang, Pajak Cuma Rp 1,8 Juta
Tecno Rilis EllaClaw, Agen AI yang Bisa Otomatiskan Tugas Ponsel
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Jepang Kembali Gagalkan Tim Eropa, Lolos ke 32 Besar Piala Dunia
