Selisih Nilai Bahasa Indonesia TKA SD‑SMP vs SMA‑SMK

Iwan D. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Selisih Nilai Bahasa Indonesia TKA SD‑SMP vs SMA‑SMK

Gambar atau konten salah?

Rata‑rata nilai Bahasa Indonesia pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) menunjukkan perbedaan signifikan antara jenjang SD‑SMP dan SMA‑SMK. Menurut data yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), nilai rata‑rata pada jenjang SD dan SMP masing‑masing adalah 60,14 dan 60,83, sementara nilai rata‑rata pada jenjang SMA‑SMK berada di angka 55,38.

Dalam taklimat media yang diadakan di Gedung E Komplek Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat pada hari Selasa, 26 Mei 2026, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik) Kemendikdasmen, Rahmawati, menjelaskan alasan di balik perbedaan nilai tersebut. Ia menegaskan bahwa “Bahasa Indonesia capaiannya, baik SMP/sederajat maupun SD/sederajat, ini hasilnya lebih tinggi dibandingkan hasil TKA jenjang SMA/MA/SMK/sederajat. Untuk bahasa Indonesia antara SMP/sederajat dengan SD/sederajat ini senada, sama‑sama di angka 60, beda di dua koma belakang digitnya.”

Rahmawati menyoroti dua faktor utama yang memengaruhi perbedaan nilai: Aspek Teknis dan Aspek Substansi. Pertama, Aspek Teknis mencakup perbedaan waktu ujian dan persiapan. Pada jenjang SD dan SMP, peserta hanya menghadapi satu mata pelajaran ujian dalam satu hari. Sebaliknya, peserta SMA‑SMK menghadapi beberapa mata pelajaran sekaligus, misalnya Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, dalam satu sesi. Selain itu, masa persiapan bagi peserta SMA‑SMK hanya berlangsung 3‑4 bulan, sedangkan peserta SD dan SMP memiliki waktu persiapan yang lebih lama dan lebih terstruktur.

Rahmawati menjelaskan, “Kemarin waktu SMA kan mapel wajib numpuk jadi satu, Bahasa Indonesia, setelah itu Matematika, langsung mengerjakan Bahasa Inggris.” Ia menambahkan bahwa persiapan yang lebih lama pada jenjang SD‑SMP memungkinkan murid lebih siap ketika menghadapi ujian. “Jadi, ini dari aspek teknis yang kemungkinan besar mempengaruhi hasil dari TKA jenjang SMP/sederajat maupun SD/sederajat,” jelasnya.

Selanjutnya, Aspek Substansi berkaitan dengan tingkat kognitif yang diuji dalam soal TKA. Kerangka kerja TKA membagi soal menjadi tiga level kognitif: knowing (pengetahuan), applying (penerapan), dan reasoning (penalaran). Seiring bertambahnya jenjang, proporsi soal penalaran meningkat, sementara proporsi soal pengetahuan menurun. “Semakin tinggi jenjangnya, proporsi penalaran meningkat, proporsi knowing pengetahuannya berkurang,” kata Rahmawati.

Ia menegaskan bahwa jenjang SMA‑SMK menuntut level kognitif yang lebih tinggi dibandingkan SMP dan SD. Kerangka kerja ini bertujuan menguji kemampuan bernalar murid seiring usia dan pengalaman belajar yang telah mereka lalui. “Seharusnya kemampuan bernalar meningkat (seiring bertambahnya usia dan tahun belajar), maka instrumennya kita meng‑assess lebih banyak penalaran, ternyata nilainya tidak mencapai. Artinya kemampuan bernalar harus lebih didorong di pembelajaran kita seiring dengan tuntasnya konsep‑konsep,” ujarnya.

Contoh konkret yang diberikan Rahmawati adalah perbedaan materi yang dipelajari di setiap jenjang. Pada SD, murid belajar konsep geometri, bilangan, dan aljabar. Di SMP, mereka menerapkan konsep tersebut secara lebih intensif. Sedangkan di SMA, murid diharapkan dapat menerapkan konsep tersebut pada bidang lain, lintas disiplin, dan pada masalah yang tidak rutin. “Jadi, seperti itu hasil analisa kami terhadap tren antara hasil SMA dibandingkan dengan SMP, (dan) dibandingkan dengan SD,” tambahnya.

Dengan mempertimbangkan kedua aspek tersebut, perbedaan nilai TKA Bahasa Indonesia antara jenjang SD‑SMP dan SMA‑SMK dapat dipahami sebagai kombinasi faktor teknis ujian dan tingkat kognitif yang diuji. Perbedaan waktu persiapan, jumlah mata pelajaran, dan fokus pada penalaran menjadi kunci utama yang memengaruhi hasil akhir. Mengetahui faktor-faktor ini dapat membantu pendidik dan siswa menyesuaikan strategi belajar agar dapat meningkatkan performa pada ujian berikutnya.

TKAnilai rata-rataSD‑SMPSMA‑SMKAspek TeknisAspek Substansikognitif

Komentar

Memuat komentar...