Sema Chintya: Gagal Ginjal Stadium 5 Akibat Hipertensi

Dian P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Sema Chintya: Gagal Ginjal Stadium 5 Akibat Hipertensi

Gambar atau konten salah?

Di Bekasi, seorang wanita bernama Sema Chintya baru saja didiagnosis gagal ginjal stadium 5 pada usia 31 tahun. Meski rutin minum air putih, ia tidak menyangka kondisi ginjalnya terus memburuk karena hipertensi yang tidak terkontrol.

Sema baru mengetahui masalahnya ketika muncul banyak lebam di tubuhnya pada tahun 2024. Saat diperiksa, tekanan darahnya mencapai 193/129. Ia mengungkapkan rasa sakit kepala yang hebat dan mengingat bahwa ia pernah didiagnosis hipertensi pada usia 25 saat hamil, namun ia tidak pernah minum obat.

“Rasanya itu kepalaku sakit banget. Aku memang ketahuan hipertensi di usia 25 pas lagi hamil, tapi memang aku tuh nggak pernah minum obat,” ujar Sema dalam unggahan TikTok.

Ia tidak menyangka bahwa hipertensi yang selama ini dianggap sepele menjadi pemicu utama kerusakan ginjalnya. Diagnosis gagal ginjal stadium 5 datang pada usia 31, setelah ia mengalami gejala yang semakin jelas.

Beberapa bulan sebelum divonis, Sema mulai menyadari perubahan pada wajahnya. Ia mengalami kantung mata dan wajah tampak bengkak, yang sempat ia kira hanya karena kelelahan biasa. Dokter kemudian menjelaskan bahwa wajahnya menunjukkan tanda khas gangguan ginjal berupa edema atau penumpukan cairan.

“Ternyata kata dokter penyakit dalam, muka aku khas orang kena ginjal, yaitu edema atau penumpukan cairan di wajah,” ujarnya.

Menurutnya, bengkak di wajah sudah terlihat lebih dari tujuh bulan sebelum diagnosis ditegakkan. Namun gejala gagal ginjal yang lebih berat baru terasa sekitar satu bulan sebelumnya. Selain wajah bengkak, ia juga mengalami sejumlah keluhan lain, seperti:

  • Lebam muncul di tubuh tanpa sebab jelas
  • Nafsu makan menurun
  • Berat badan turun drastis
  • Wajah tampak pucat
  • Sering mual dan muntah
  • Mudah lelah

Kasus ini menjadi pengingat bahwa rajin minum air putih saja tidak cukup untuk menjaga kesehatan ginjal bila faktor risiko lain diabaikan. Sema mengaku pernah menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap sekitar dua tahun sebelum didiagnosis gagal ginjal. Namun saat itu ia tidak menyadari hasil pemeriksaan menunjukkan fungsi ginjalnya tinggal sekitar 47 persen.

Ia juga menyesali kebiasaannya mengabaikan sakit kepala yang ternyata berkaitan dengan hipertensi. “Kebiasaan yang menurut aku dampaknya nyata banget ke tubuh itu menghiraukan sakit kepala, overthinking, dan stres,” katanya.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk ginjal. Ketika pembuluh darah di ginjal menyempit dan rusak, aliran darah menuju ginjal ikut berkurang. Akibatnya, ginjal tidak mampu bekerja optimal untuk menyaring limbah dan cairan berlebih dari tubuh.

Hal ini kemudian menciptakan lingkaran berbahaya. Cairan berlebih dalam tubuh justru membuat tekanan darah semakin tinggi dan kerusakan ginjal terus berlanjut hingga akhirnya menyebabkan gagal ginjal. Hipertensi bahkan menjadi salah satu penyebab terbesar gagal ginjal kronis setelah diabetes.

Gejala awal gangguan ginjal sering kali samar dan muncul perlahan. Karena itu, penting untuk rutin memeriksa tekanan darah dan fungsi ginjal, terutama bagi pengidap hipertensi. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Wajah atau kaki bengkak
  • Tekanan darah tinggi sulit terkontrol
  • Mudah lelah
  • Mual berkepanjangan
  • Perubahan frekuensi buang air kecil
  • Nafsu makan menurun

Pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi kerusakan ginjal lebih dini sebelum kondisinya berkembang menjadi gagal ginjal stadium lanjut.

Kasus Sema menunjukkan betapa pentingnya menanggapi gejala ringan dan menjaga hipertensi. Dengan pengawasan yang tepat, kerusakan ginjal dapat dicegah atau ditunda, sehingga kualitas hidup tetap terjaga.

Gagal ginjalHipertensiBekasiSema ChintyaEdemaTekanan darah tinggiGejala

Komentar

Memuat komentar...