Semarang Siapkan Tiga Skema Atasi Sampah, Target 2027.

Fandi R. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Semarang Siapkan Tiga Skema Atasi Sampah, Target 2027.

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Kota Semarang tengah menyiapkan proyek besar untuk mengatasi masalah sampah yang sudah menahun. Proyek itu bernama Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik, atau disingkat PSEL. Targetnya, proyek ini mulai berjalan pada tahun 2027.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang menyampaikan hal ini. Ia menjelaskan bahwa PSEL hanyalah satu dari tiga skema besar yang sedang disiapkan pemerintah kota untuk menangani sampah.

"Skemanya kan kalau sampah Kota Semarang ini ada tiga. Nomor satu waste to energy listrik," kata Agustina di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Senin 13 Juli 2026.

Proyek PSEL, menurutnya, sudah masuk tahap persiapan. Kerja sama aglomerasi dengan Kabupaten Kendal bahkan sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu proses lelang.

"Tinggal menunggu proses lelang yang dilakukan oleh Danantara. Ini kita menunggu aja nih prosesnya," ujarnya.

Agustina menjelaskan bahwa PSEL nantinya hanya akan mengolah sampah baru yang masuk setiap hari. Sampah itu akan diubah menjadi energi listrik. Sementara itu, tumpukan sampah lama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang akan ditangani dengan skema terpisah. Sampah lama itu akan diolah menjadi bahan bakar, atau disebut waste to fuel.

"Yang kedua ada dari kasat yang menurunkan proses untuk mengolah sampah yang sekarang ada di TPA. Ini juga masih proses MoU," katanya.

Selain dua skema itu, pemerintah kota juga menyiapkan program bernama Local Service Delivery Project (LSDP). Program ini bertujuan mendorong pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat. Dengan begitu, sampah bisa ditangani sejak dari sumbernya.

"Skema LSDP, pemberdayaan masyarakat untuk pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Tiga-tiganya dalam proses persiapan karena akan jalan di tahun 2027," jelasnya.

"Jadi dapat dibayangkan, TPA Jatibarang sampah yang deposit menumpuk ke sana akan selesai menjadi waste to fuel, yang masuk diselesaikan PSEL, yang tercecer di masyarakat dengan program LSDP. 3,7 akan menjadi fuel," lanjutnya.

Kondisi TPA Jatibarang saat ini sudah sangat kritis. Tempat pembuangan itu sudah kelebihan kapasitas. Timbunan sampah di sana kini mencapai sekitar 3 juta ton. Angka itu diperkirakan akan terus bertambah.

"Sekarang sudah 3 juta, akhir tahun 2026 akan ada 3,36 juta, pokoknya satu hari 1.000 ton. Tahun 2027 akhir berarti akan 3,7 juta lah ini mau diapakan? Maka ada pengolahannya ini," urainya.

Untuk skema kedua, sampah lama di TPA Jatibarang akan diolah menjadi bahan bakar. Proses ini masih dalam tahap nota kesepahaman atau MoU.

Skema ketiga adalah LSDP. Program ini mendorong pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat. Dengan begitu, sampah bisa ditangani sejak dari sumbernya, bukan hanya di tempat pembuangan akhir.

"Skema LSDP, pemberdayaan masyarakat untuk pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Tiga-tiganya dalam proses persiapan karena akan jalan di tahun 2027," jelasnya.

Agustina juga menggandeng Tim Penggerak PKK hingga tingkat RT untuk mendukung pengelolaan sampah di masyarakat. Setiap RT mendapat bantuan dana sebesar Rp 3 juta. Salah satu kegunaan dana itu adalah untuk pengelolaan sampah.

"PKK tiap RT saya beri bantuan Rp 3 juta, salah satunya untuk sampah toga, nyamuk, jentik, jadi berkala. Ini 1.700 ton setahun. Kecil sih, berarti sehari 3 ton. Jadi tidak memengaruhi yang masuk ke PSEL nantinya. Tapi setidaknya sampah di lingkaran mereka habis," tuturnya.

TPA Jatibarang saat ini sudah kelebihan kapasitas. Timbunan sampah mencapai sekitar 3 juta ton. Setiap hari, ada 1.000 ton sampah baru yang masuk. Pada akhir tahun 2026, diperkirakan timbunan sampah akan mencapai 3,36 juta ton. Pada akhir tahun 2027, angkanya bisa menjadi 3,7 juta ton.

"Sekarang sudah 3 juta, akhir tahun 2026 akan ada 3,36 juta, pokoknya satu hari 1.000 ton. Tahun 2027 akhir berarti akan 3,7 juta lah ini mau diapakan? Maka ada pengolahannya ini," urainya.

Dari tiga skema yang disiapkan, PSEL akan mengolah sampah baru yang masuk setiap hari menjadi listrik. Sampah lama di TPA Jatibarang akan diolah menjadi bahan bakar. Sementara itu, LSDP akan memberdayakan masyarakat untuk mengelola sampah dari hulu ke hilir.

Agustina mengatakan, bantuan Rp 3 juta untuk setiap RT memang kecil. Dalam setahun, hanya sekitar 1.700 ton sampah yang bisa diolah dari tingkat RT. Itu berarti hanya sekitar 3 ton per hari. Jumlah itu tidak akan banyak memengaruhi volume sampah yang masuk ke PSEL nantinya. Tapi setidaknya, sampah di lingkungan warga bisa habis.

"Jadi dapat dibayangkan, TPA Jatibarang sampah yang deposit menumpuk ke sana akan selesai menjadi waste to fuel, yang masuk diselesaikan PSEL, yang tercecer di masyarakat dengan program LSDP. 3,7 akan menjadi fuel," lanjutnya.

Persoalan sampah di Semarang memang sudah darurat. Setiap hari, 1.000 ton sampah baru masuk ke TPA Jatibarang. TPA itu sudah tidak mampu menampung. Dengan tiga skema ini, pemerintah kota berharap masalah sampah bisa teratasi. Tapi semua masih dalam proses persiapan. Baru pada 2027 semuanya akan berjalan.

PSELsampahSemarangTPA Jatibarangwaste to fuelLSDPpengelolaan sampah

Komentar

Memuat komentar...