Fasilitas Kalah Saing, SD Negeri di Semarang Sepi Murid

Ratna D. · 4 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Fasilitas Kalah Saing, SD Negeri di Semarang Sepi Murid

Gambar atau konten salah?

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, angkat bicara soal banyaknya sekolah dasar negeri (SDN) di kotanya yang kekurangan murid. Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah fasilitas SDN yang kalah menarik dibandingkan sekolah swasta.

"Menurut Kepala Dinas Pendidikan saya, kalau dilihat-lihat SD kita itu memang kurang menarik," kata Agustina di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Senin, 13 Juli 2026.

Selama ini, kata Agustina, pembangunan dan perbaikan fasilitas pendidikan lebih banyak dipusatkan ke jenjang SMP. Akibatnya, banyak SD negeri yang tertinggal soal sarana dan prasarana.

"Makanya Kepala Dinas mengajukan supaya SD negeri dibuat sedemikian rupa supaya lebih bagus dan canggih seperti SD swasta," ucapnya.

"Karena ternyata selama ini titik pembangunannya ada di SMP. SMP-nya bagus-bagus, SD-nya memang masih ketinggalan," imbuh dia.

Agustina menjelaskan, hasil survei Dinas Pendidikan menunjukkan banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di SD swasta.

"Ternyata surveinya membuktikan bahwa orang tua itu nyaman kalau anak-anak sekolah di tempat yang memang fasilitasnya canggih. Sementara sebagian besar SD kita kalah canggih sama SD-SD swasta," jelasnya.

Karena itu, Dinas Pendidikan mengusulkan peningkatan fasilitas di SD negeri. Mulai dari memperbarui bangku hingga memperkuat akses internet.

"Mereka mengusulkan bangkunya diperbaiki, internetnya diperkuat dan fasilitas lainnya ditingkatkan. Kalau memang anggarannya cukup ya boleh saja," kata Agustina.

Ada yang bilang minimnya murid di SD negeri karena Kota Semarang kekurangan anak usia sekolah akibat perubahan demografi. Agustina membantah.

"Nggak lah. Pertumbuhan penduduk kita masih plus, bukan menuju nol. Memang ada wilayah tertentu yang kondisinya seperti itu, tapi secara umum jumlah anak usia SD masih ada," tegasnya.

Ia menambahkan, sekarang masyarakat punya lebih banyak pilihan sekolah dibanding beberapa tahun lalu. Makin banyak SD swasta bermunculan.

"Kalau dulu semuanya ditampung di SD negeri. Sekarang ada pilihan sekolah swasta," ujarnya.

Hanya tiga siswa baru di SDN Purwoyoso 1

Sebelumnya, SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang cuma menerima tiga murid baru tahun ini. Meski jumlahnya sangat sedikit, sekolah tetap menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara meriah.

Di kelas 1, hanya ada tiga murid yang memulai pelajaran di hari pertama. Sebelumnya mereka disambut maskot sekolah untuk MPLS tahun ini, Si Badut.

Beberapa meja kosong dibiarkan tak terpakai dan ditata di bagian belakang kelas. Sementara ketiga anak itu mendengarkan penjelasan guru dengan saksama.

Kepala SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang, Hajar Riatiani, mengatakan awalnya ada lima calon siswa yang mendaftar. Dua di antaranya tidak melakukan daftar ulang, jadi hanya tiga siswa yang resmi masuk.

"Yang mendaftar online ada lima. Tapi dua tidak daftar ulang, jadi yang fix masuk hanya tiga siswa saja," kata Hajar di SDN Purwoyoso 01, Senin, 13 Juli 2026.

Menurut Hajar, minimnya jumlah siswa baru bukan karena fasilitas sekolah yang kurang. Tapi kondisi demografi yang menjadi penyebab utama rendahnya jumlah pendaftar.

"SDN Purwoyoso 01 itu lengkap semua untuk kelas terpenuhi ada 6 kelas, masing-masing ada lab komputer tidak dompleng kelas, perpustakaan, ruang UKS, musala, lengkap. Halaman juga ada, Smart TV bantuan pemerintah juga ada, terus fasilitas olahraga," urainya.

"Tapi sedikitnya siswa ini karena lingkungan demografi. Di sekitar sekolah ini sudah tidak ada perumahan yang produktif. Rata-rata penduduknya sudah lansia, tidak punya anak usia masuk SD," lanjutnya.

Banyak warga pindah ke daerah perbatasan seperti Kaliwungu, Kabupaten Kendal, yang punya banyak perumahan subsidi. Soalnya harga rumah di Kota Semarang sudah terlalu mahal.

"Kemudian sekolah sekitar kita juga masih kekurangan siswa. Jadi kita tidak mendapat limpahan dari sekolah sekitarnya," tuturnya.

Tahun ajaran sebelumnya, SDN Purwoyoso 01 menerima 11 murid baru. Di tengah tahun ajaran, jumlahnya bertambah satu, jadi total 12 siswa baru.

Rangkaian MPLS dimulai sejak pukul 07.00 WIB pagi. Semua guru menyambut para siswa di gerbang sekolah bersama maskot Si Badut.

"Yang pertama penyambutan peserta didik. Guru-guru sama maskot badut berdiri di depan gerbang menyambut siswa dari kelas 1-6. Kemudian dilanjutkan upacara pembukaan, pengalungan cocard untuk peserta didik baru," kata Hajar.

Tiga murid baru juga mendapat perlengkapan sekolah gratis: topi, dasi, atribut kelas, dan tanda pengenal sekolah. Dalam waktu dekat, sekolah juga akan membagikan seragam batik dan seragam olahraga secara gratis.

"Kemudian perkenalan guru dan tenaga pendidik, dilanjutkan perkenalan siswa dan permainan sederhana antarsiswa," jelas Hajar.

"Berikutnya ada tur keliling sekolah, pengenalan fasilitas, menyanyikan Jingle MPLS, dilanjutkan mewarnai gambar lingkungan sekolah dan penyampaian kesan hari pertama," lanjutnya.

Meski hanya menerima tiga murid baru, Hajar menegaskan sekolah tetap memberikan penyambutan terbaik bagi siswa-siswi baru tahun ajaran 2026/2027.

"Berapapun muridnya tetap kita sambut dengan meriah. Setiap tahun kita ganti tema. Kali ini temanya sirkus, ada badutnya juga," ucapnya.

"Kita tetap semangat, tidak ngelokro, tidak kendor, pembukaan tetap semeriah mungkin, biar anak-anak semangat untuk kembali belajar," imbuhnya.

Dari dua kasus ini, terlihat ada dua faktor berbeda yang menyebabkan SD negeri sepi peminat. Pertama, fasilitas yang kalah saing dengan swasta. Kedua, perubahan demografi di lingkungan sekitar sekolah. Keduanya butuh penanganan yang berbeda dari pemerintah kota.

fasilitas SDNkekurangan muridsekolah swastaperubahan demografipeningkatan fasilitaspilihan sekolahKota Semarang

Komentar

Memuat komentar...