Sistem Ekonomi Sirkular Diterapkan di Pesantren untuk Kemandirian Pangan
Gambar atau konten salah?
Jakarta - Sebuah sistem terpadu yang menggunakan prinsip ekonomi sirkular telah dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian pangan. Sistem ini menggabungkan pertanian hidroponik, peternakan ayam, perikanan, pengolahan sampah organik, hingga energi surya dalam satu ekosistem yang disebut "4 in 1". Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan, mengelola limbah, dan mengurangi biaya operasional dengan memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan.
Limbah organik dan kotoran ternak diolah menjadi pakan menggunakan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Pakan ini kemudian digunakan untuk ayam dan ikan lele. Air dari kolam ikan didaur ulang untuk mendukung sistem hidroponik, sementara hasil panen ikan diolah menjadi produk olahan.
“Sistem ini menjawab berbagai tantangan, mulai dari kebutuhan pangan 25 santri dan 10 asatidz, pengelolaan sampah organik, hingga pengurangan biaya operasional pesantren. Limbah organik pesantren dan kotoran ternak diolah menjadi pakan. Kami juga mengolah ikan lele menjadi produk seperti abon lele. Dengan demikian, sistem ini menciptakan proses produksi pangan yang efisien, minim limbah, dan ramah lingkungan,” jelas inovatornya, Dr. Dino Rimantho.
Dari aspek energi, sistem ini didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 1 kWp. Energi ini digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional, seperti penerangan, penetasan telur ayam, pompa hidroponik, dan mesin pengolah sampah.
Dalam kunjungan ke lokasi, Dewan Pengawas Pertamina Foundation, Narendra Widjajanto, mengungkapkan bahwa inovasi ini sudah diimplementasikan dan memberikan manfaat nyata bagi pesantren. “Kami melihat bahwa inovasi ini tidak hanya sekadar konsep, tetapi benar-benar diterapkan. Tantangan ke depan adalah mengembangkan model bisnis agar pesantren dapat memperoleh pendapatan dari sistem ini. Saya berharap ini bisa direplikasi di pesantren lain,” katanya.
Direktur Keuangan Pertamina Foundation, Tito Rahman Hidayatullah, menambahkan bahwa sistem ini berkontribusi pada pembangunan ekosistem kemandirian yang berkelanjutan. “Melalui PFsains, kami ingin menghadirkan solusi yang berkelanjutan dan berdampak langsung. Harapan kami adalah menciptakan kemandirian pangan dan pusat pembelajaran kewirausahaan bagi para santri,” ujarnya.
Program PFsains telah dilaksanakan sejak tahun 2020 dan mendukung hilirisasi puluhan inovasi teknologi dan energi melalui pendanaan serta pendampingan. Program ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi sesuai dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Sistem ini menunjukkan potensi untuk mengubah cara pengelolaan sumber daya di pesantren, menciptakan lingkungan yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, diharapkan pesantren dapat menjadi contoh bagi lembaga lainnya dalam mengatasi tantangan pangan dan energi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pajak 0% 50 Tahun untuk Investor PFII
Indonesia Kejar Rp 51.000 Triliun Dana Family Office Global
PFII Ditarget Beroperasi Tahun Ini, PP Masih Digodok
Pemerintah: Belum Ada Rencana Revisi Anggaran Pertahanan
Anggaran MBG Dipangkas, BGN Klaim Tak Lagi Rp 268 T
PHK Naik 32.389, Menkeu: Itu Siklus Wajar
