Siswa Baru Antusias Jalani MPLS 2026, Ini Kisah Mereka

Bayu K. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Siswa Baru Antusias Jalani MPLS 2026, Ini Kisah Mereka

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Ribuan siswa baru di seluruh Indonesia memulai petualangan mereka di jenjang pendidikan yang baru. Tahun ajaran 2026/2027 resmi dimulai dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang ramah dan inklusif. Kegiatan ini wajib diikuti oleh semua siswa baru, tanpa terkecuali, baik yang bersekolah di negeri maupun swasta.

Salah satu sekolah yang mendapat kunjungan langsung dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah adalah SMA Labschool Kebayoran, Jakarta. Dua siswa baru di sekolah ini, Sandrina Emily Damanik dan Qayz Algebra, mengaku antusias menjalani hari pertama MPLS. Mereka sudah merasakan semangat itu sejak sebelum hari H tiba.

Sandrina bercerita bahwa pihak sekolah mengadakan pra-MPLS terlebih dahulu. Tujuannya untuk memberi sosialisasi kepada para siswa baru. “Dari pra-MPLS sampai hari pertama ini, saya merasa sangat senang,” ujar Sandrina di sela-sela kegiatan MPLS di SMA Labschool Kebayoran, Jakarta, pada Senin, 13 Juli 2026.

Sebelumnya, Sandrina adalah alumni dari SMP BPK Penabur Pondok Indah. Di sekolah lamanya, jumlah murid tidak terlalu banyak. Karena itu, ia sangat senang bisa bertemu banyak teman baru di sekolah barunya. “Kebetulan sekolah saya sebenarnya tidak memiliki banyak murid, jadi ketika masuk sini saya sangat senang untuk dapat melihat banyak sekali murid dan dapat lebih banyak teman lagi. Saya dapat lebih banyak interaksi dengan banyak orang dan itu sangat membuat saya senang,” ungkapnya.

Bukan hanya teman sebaya, Sandrina juga memuji kakak kelas dari OSIS dan MPK, serta para guru. Menurutnya, mereka sangat mendukung dan terbuka terhadap murid baru. Hal ini membantu siswa baru seperti dirinya untuk lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Perasaan serupa dirasakan oleh Qayz. Ia mengaku senang karena pra-MPLS dan hari pertamanya berjalan lancar. Sambutan hangat dari kakak kelas membuatnya merasa diterima. “Dan kakak-kakaknya menyediakan aktivitas-aktivitas yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga interaktif bagi kami,” jelas Qayz.

Memilih Keluar dari Zona Nyaman

Sandrina punya alasan kuat memilih SMA Labschool Kebayoran. Ia ingin keluar dari zona nyaman. Sejak duduk di kelas 9 SMP, ia sudah mengincar sekolah ini karena memiliki jejak prestasi yang baik, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

“Menurut saya ini adalah salah satu sekolah, yang paling baik untuk saya untuk dapat lebih mengembangkan lagi, untuk saya keluar dari comfort zone saya dan dapat bersaing dengan lebih banyak anak,” ungkapnya.

Faktor lain yang membuat Sandrina tertarik adalah keberagaman. Sekolah lamanya mayoritas muridnya memiliki agama yang sama. Di SMA Labschool, ia menemukan perbedaan agama dan ras. Hal ini justru membuatnya terkesan. “Masuk sini saya harus melewati berbagai perbedaan, tetapi saya sangat senang karena inklusivitasnya itu tetap sangat dijalani, tetap ketika ada kegiatan untuk yang Muslim, yang Kristen, dan yang sebagainya juga tetap dilibatkan. Jadi untuk itu saya sangat bersyukur,” kisahnya.

Tahu Sekolah dari Medsos, Sempat Culture Shock

Cerita Qayz berbeda. Ia berasal dari SMP Negeri 2 Siantan di Anambas, Kepulauan Riau. Menariknya, ia mengetahui SMA Labschool Kebayoran dari media sosial. Ia menilai prestasi akademis dan pendidikan di sekolah ini sangat bagus dan cocok untuk pengembangan dirinya.

“Menurut saya pilihan terbaik untuk saya untuk menjadi siswa yang lebih developed skills dan be a better leader for all,” jelas Qayz.

Qayz merantau sendirian ke Jakarta. Ia mendapat dukungan penuh dari keluarga dan orang tuanya. Di hari pertama sekolah, ia diantar oleh tantenya. Namun, orang tuanya sempat melihat dan mengantarnya sebelum MPLS dimulai.

Qayz berhasil masuk melalui jalur prestasi. Ia memiliki segudang pengalaman, seperti menjadi Ketua OSIS periode 2024-2025, Ketua Forum Anak 2024-2026, dan pemenang Award for Verbal Commendation dari Asia International Youth Model United Nations di Kuala Lumpur.

Suasana SMA Labschool Kebayoran sempat membuatnya kaget. Ia mengalami culture shock. Bukan karena hal yang negatif, melainkan karena ia menemukan banyak teman dari berbagai daerah. Ada yang dari Jambi, bahkan hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Saya culture shock banget karena banyak siswa dan kakak-kakaknya baik banget menyambut saya dengan teman-teman saya. Itu kayak 'wah' sih karena banyak diverse dari orangnya, ada yang dari Jambi, ada yang dari jauh-jauh sampai NTB, banyak sekali teman-teman yang saya ketemu di sini,” bebernya.

SMA Labschool Kebayoran menggelar MPLS selama lima hari. Setiap harinya, kegiatan sudah dikemas oleh guru dan didampingi oleh OSIS serta MPK. Sandrina dan Qayz mengaku paling menantikan hari kelima. Pasalnya, MPLS akan digelar di taman dengan berbagai kegiatan menarik, termasuk pertunjukan bakat atau talent show.

MPLS menjadi gerbang awal bagi siswa baru untuk mengenal lingkungan sekolah, teman, dan guru. Bagi Sandrina dan Qayz, momen ini bukan sekadar formalitas, melainkan awal dari perjalanan panjang yang penuh dengan pengalaman baru dan tantangan. Keberagaman yang mereka temukan sejak hari pertama menjadi modal berharga untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka dan tangguh.

MPLSsiswa barutahun ajaran 2026/2027SMA Labschool Kebayoraninklusivitaskeberagamanculture shockzona nyaman

Komentar

Memuat komentar...