Situs Adan‑Adan di Kediri: Candi Buddha dengan Kompleks Luas

Jaka M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 113 dibaca
Bisik.id
Situs Adan‑Adan di Kediri: Candi Buddha dengan Kompleks Luas

Gambar atau konten salah?

Situs Adan‑Adan terletak di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Meskipun pernah menjadi sorotan karena klaim bahwa kompleksnya lebih besar dari Candi Borobudur, kabar tersebut sudah diluruskan. Namun, situs ini masih menonjol karena beberapa keistimewaan yang menarik perhatian arkeolog.

Keistimewaan pertama datang dari ciri Buddhis yang jarang ditemui di Jawa Timur. Di wilayah yang mayoritas peninggalan berbau Hindu, Situs Adan‑Adan menampilkan ciri agama Buddha yang kuat. "Ciri Buddhisnya jelas. Dan di Jawa Timur, candi berlatar agama Buddha itu sangat jarang. Ini yang membuatnya istimewa," ujar Kabid Cagar Budaya dan Permuseuman Disbudpar Kabupaten Kediri, Eko Priatno, pada 09 Mei 2026. Keberadaan Buddha di Kediri dianggap penting karena dapat membuka informasi baru tentang perkembangan peradaban dan agama di daerah tersebut pada masa lampau.

Selanjutnya, arsitektur situs ini berbeda dari Borobudur. Sementara Borobudur terkenal dengan relief cerita yang menghiasi dindingnya, Situs Adan‑Adan lebih menonjolkan dekorasi visual. "Kalau Borobudur penuh relief cerita, sedangkan di sini lebih dekoratif. Secara visual, ini memberikan karakter bangunan yang berbeda dan punya nilai seni tersendiri," jelas Eko. Karakter artistik ini menjadi identitas khas situs, membedakannya dari situs Buddha lainnya di Indonesia.

Ukuran bangunan utama juga menjadi sorotan. Menurut Eko, bangunan utama diperkirakan hanya berukuran sekitar 7x7 meter hingga 8x8 meter. Namun, kompleks pendukungnya diduga membentang luas dari Dusun Candi hingga wilayah Wonorejo. "Bangunan utamanya mungkin tidak sebesar Borobudur, tapi kompleks pendukungnya diduga cukup luas dan terdiri dari banyak ruang," pungkasnya. Jadi, meski bangunan utamanya kecil, keseluruhan kawasan masih dianggap luas.

Keistimewaan lain adalah dugaan keterkaitan dengan Situs Tondowongso, yang berjarak sekitar 3 kilometer. Jika penelitian membuktikan koneksi antara keduanya, kawasan tersebut berpotensi menjadi salah satu pusat peradaban kuno terbesar di Kediri. Temuan ini masih terus dikaji oleh para peneliti dan arkeolog untuk memastikan hubungan antara kedua situs purbakala tersebut.

Karena sebagian besar area situs berada di atas tanah milik warga, Pemerintah Kabupaten Kediri mengambil langkah khusus untuk menjaga kelestarian kawasan. Salah satu langkah adalah melibatkan keluarga pemilik lahan menjadi juru pelihara situs. "Kami mengambil salah satu keluarga pemilik tanah menjadi juru pelihara. Tugasnya menjaga keamanan, kebersihan, dan merawat situs, honornya dari kami," ungkap Eko. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pelestarian warisan budaya.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk terus melakukan eksplorasi dan penelitian terhadap Situs Adan‑Adan, meski sempat terkendala perubahan lembaga penelitian dan keterbatasan anggaran. "Yang pasti menjadi kewajiban bagi kita untuk terus melakukan eksplorasi terhadap potensi objek cagar budaya untuk membuka informasi masa lalu," tutupnya.

Secara keseluruhan, Situs Adan‑Adan menawarkan gambaran unik tentang sejarah Buddha di Jawa Timur, arsitektur yang berbeda, dan potensi luas yang belum sepenuhnya terungkap. Penelitian lanjutan dan partisipasi masyarakat menjadi kunci untuk mengungkap lebih banyak tentang peradaban kuno di wilayah Kediri.

Situs Adan‑AdanKediriBuddhaArkeologiBorobudurTondowongsoPelestarian

Komentar

Memuat komentar...