Smelter Freeport Gresik Beroperasi September 2026
Gambar atau konten salah?
Smelter milik PT Freeport Indonesia yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur, akan kembali beroperasi pada September tahun ini. Padahal, pabrik pengolahan ini sebelumnya sudah dijadwalkan berjalan sejak 2024, tetapi terhambat oleh insiden kebakaran.
Smelter baru ini memiliki kapasitas produksi konsentrat sebesar 1,7 juta dry metric ton (dmt) per tahun. Hasil olahannya berupa katoda tembaga, emas, dan perak murni batangan.
"Rencana smelter baru ini akan mulai berproduksi kembali atau mengolah pemurnian konsentrat dari Papua itu pada September tahun ini, dan akan dilakukan ramp-up sampai dengan akhir tahun," ujar Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas dalam rapat kerja di Komisi XII DPR pada Selasa, 14 Juli 2026.
Tony menjelaskan, smelter baru di Gresik sebenarnya sudah mulai beroperasi secara terbatas sejak Juni 2024. Pada Agustus 2024, pabrik itu bahkan sudah memproduksi olahan konsentrat yang didatangkan dari tambang di Papua. Namun, pada Oktober 2024 terjadi kebakaran di area smelter.
"Namun demikian, pada tahun 2024 di bulan Oktober terjadi kebakaran di area smelter, yaitu di salah satu unit kecil yaitu gas cleaning plant. Yang itu walaupun unitnya kecil, tapi itu sangat vital karena di gas cleaning plant ini yang akan menangkap SO2 dari hasil furnace yang kemudian SO2 ini ditangkap supaya tidak tercemar ke udara dan diproses menjadi asam sulfat," jelas Tony.
Perbaikan segera dilakukan. Smelter pun sudah siap berproduksi lagi pada Mei 2025. Tapi masalah baru muncul. Pada September 2025, terjadi longsor di salah satu area tambang Freeport, yaitu Grassberg di Papua. Akibatnya, pasokan konsentrat ke smelter baru di Gresik terhenti.
Smelter di Gresik akhirnya hanya bisa memurnikan sisa konsentrat yang ada di gudang hingga sekitar Desember 2025. Setelah itu, smelter berhenti total beroperasi karena tidak memiliki bahan baku untuk diolah.
"Tapi di satu sisi berhenti total itu menyebabkan kita mampu untuk melakukan pemeliharaan-pemeliharaan dan perbaikan-perbaikan untuk memastikan bahwa pada saatnya nanti smelter baru tersebut kemudian bisa sudah mendapat asupan konsentrat lagi dari upstream, dari hulu di Papua, itu untuk memastikan bahwa semua proses sudah dicek semuanya dan bisa beroperasi kembali," papar Tony.
Dia melanjutkan, operasional tambang di Papua berangsur-angsur membaik setelah insiden longsor. Ditargetkan pada September tahun ini, tambang sudah bisa memasok kembali konsentrat ke smelter di Gresik.
Saat ini, tambang Freeport di Papua baru bisa beroperasi dengan kapasitas 60% sejak longsor terjadi. Pihak perusahaan masih melakukan perbaikan agar semua benar-benar aman sebelum produksi ditingkatkan secara maksimal. Paling optimal, tahun ini tambang bisa memproduksi 65% konsentrat dari kapasitas yang ada.
"Semester satu tahun depan akan mencapai 75% dari kapasitas, dan menuju akhir tahun di 2027 itu akan menuju ke 100% kapasitas," beber Tony Wenas.
Smelter ini merupakan bagian dari proyek strategis Freeport untuk memurnikan hasil tambang di dalam negeri. Gangguan produksi akibat kebakaran dan longsor menunjukkan betapa rentannya rantai pasok antara tambang di Papua dan pabrik pengolahan di Jawa Timur. Pemulihan bertahap menjadi kunci agar target produksi penuh pada 2027 bisa tercapai.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Menkeu: Dana Mobil Kopdes Baru Cair Setelah Audit
DEN Temui Prabowo di Hambalang, Bahas Ekonomi dan GovTech
Harga Beras Tinggi, Bapanas Sebut Akar Masalah di Gabah Petani
Harga Ayam dan Telur Mulai Naik Pasca Bulan Suro
Bapanas Target Salurkan Beras 10 Kg ke 33,24 Juta KPM Agustus
Harga Minyakita Masih di Atas HET, Pemerintah Perketat Distribusi
Berita Terbaru
Smelter Freeport Gresik Beroperasi September 2026
Bali Gabungkan Sekolah Sepi Murid, Jadi Solusi Kekurangan Guru
Rumah 30 Tahun Rusak Parah, Ahi Akhirnya Dapat Bantuan Perbaikan
Damkar Bandung Antar Anak Berkebutuhan Khusus ke RSJ
Kyohei Yoshina Jadi Rekrutan Kelima Persija
Rivalitas Inggris vs Argentina: Empat Duel Ikonik
Huawei Rilis FreeClip 2 S dengan Desain Elegan
Dian Sastro Bukan Dosen Tetap UI
