Srandul Yogyakarta: Warisan Budaya Beradaptasi di Kotagede

Bima J. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 126 dibaca
Bisik.id
Srandul Yogyakarta: Warisan Budaya Beradaptasi di Kotagede

Gambar atau konten salah?

Srandul adalah seni tradisi yang pernah tersebar di wilayah DI Yogyakarta, mulai dari Bantul, Sleman, hingga Gunungkidul. Kesenian ini telah menjadi pertunjukan turun‑turun, di mana pewarisan turun ke generasi berikutnya.

Pencipta Srandul belum dapat diidentifikasi secara pasti. Bahkan etimologi nama Srandul masih menjadi teka‑teki. Sebuah literatur menyebut bahwa nama berasal dari kata pating srendul yang berarti campur aduk. Penamaan ini dianggap mencerminkan sifat seni yang menggabungkan cerita‑cerita berbeda, dan setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri dalam lakon yang dibawakan.

Seperti kesenian rakyat lainnya, Srandul biasanya menceritakan kisah yang mirip dengan model‑model adegan dan plot cerita rakyat. Dalam sejarahnya, Srandul dikenal dengan cerita rakyat seperti Demang Cokroyudo dan Prawan Sunthi. Namun, pada satu pertunjukan saja, dapat ada tema umum yang disesuaikan dengan konteks zaman.

Pentas Srandul biasanya digelar pada acara‑acara besar masyarakat, misalnya upacara daur hidup seperti pernikahan dan khitanan. Selain menghibur, Srandul juga memiliki pesan tersirat yang tidak selalu diungkap secara eksplisit.

Berikut ini kita akan melihat Srandul yang ada di Kampung Bumen Purbayan Kotagede. Seni tradisional ini lahir pada era tahun 70an dan hingga kini telah diwariskan ke generasi muda. Salah satu pelopor Srandul di Bumen adalah Pak Basiran dan putranya, Mas Anter Asmorotedjo. Pak Basiran mengenalkan serta mempopulerkan Srandul dengan tatanan dramaturgi lakon, sementara Mas Anter lebih fokus pada pengembangan gerak dan koreografi.

Dengan demikian, Srandul dari Bumen Purbayan memiliki dua varian. Pertama, versi tari yang dikreasikan dengan musik kekinian. Kedua, versi yang diiringi gamelan live dengan cerita Panji. Dua upaya ini dianggap strategis agar Srandul tetap relevan dengan zaman dan tetap diminati oleh generasi Z (GenZ).

Secara struktural, pertunjukan Srandul menggunakan oncor bersumbu yang diletakkan di tengah sebagai pancer atau poros. Para pemeran atau penari mengitari oncor tersebut. Gerakan tari lebih dinamis dan komikal, meski terkadang repetitif. Tata rias dan kostum sederhana: kemeja putih, selendang, dan celana panji dengan warna terang. Dialog dalam lakon mengadopsi melodi shalawat Jawa, yang bersifat pitutur dan mengajarkan nilai‑nilai kejawaan.

Sejauh ini, Srandul pernah dipentaskan dua kali. Pertama, versi tari karya Anter Asmorotedjo dengan iringan musik midi dan komposisi musik Jawa kontemporer di Pentas Bandara YIA pada bulan Mei. Kedua, versi lakon episode Kethek Ogleng dalam alur cerita Panji di Pentas Selasa Wagen Monumen SO 1 Maret, dengan iringan gamelan live pada bulan Juni.

Biasanya, pembukaan Srandul dimulai dengan para pemain mengelilingi oncor sambil menyanyikan tembang Jawa yang bersifat shalawat. Lagu tersebut berisi doa kepada Tuhan. Doa ini dipanjatkan bersama iringan para penari yang berkeliling sambil membawa oncor (obor). Doa dinyanyikan dengan khusyuk, dan dibacakannya doa dimaksudkan agar pertunjukan tidak mendapat halangan sampai selesainya acara.

Dengan segala unsur tradisional dan modern yang terkandung, Srandul tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Yogyakarta. Seni ini tidak hanya menghibur, namun juga menyampaikan nilai budaya secara halus kepada penonton. Melalui adaptasi musik dan cerita, Srandul berhasil menarik perhatian generasi muda, menjaga agar tradisi ini tidak tergerus oleh zaman.

SrandulYogyakartatradisikesenian rakyatgenerasi mudakoreografigamelan livewarisan budaya

Komentar

Memuat komentar...