Stasiun Gundih Meningkatkan Penumpang 10% dengan KA Banyubiru
Gambar atau konten salah?
Stasiun Gundih tampak kecil, tapi fasadnya langsung memikat. Bangunan menonjol dengan arsitektur kolonial Belanda khas stasiun besar pada masa awal kereta api di Jawa.
Stasiun ini beroperasi sebagai stasiun regional di jalur penghubung Semarang, Solo, dan Surabaya. Sejak dulu, Gundih menjadi simpul percabangan lintas yang penting. Hingga kini, fungsinya tetap berjalan berkat layanan kereta seperti KA Banyubiru yang melayani naik turun penumpang di stasiun ini.
KA Banyubiru melayani relasi Semarang Tawang – Solo Balapan dengan tarif Rp 40.000. Waktu tempuhnya sekitar dua jam. Layanan ini memberi pilihan perjalanan yang terjangkau bagi masyarakat yang ingin bepergian antarkota.
Dengan adanya layanan ini, warga Grobogan dapat pergi ke Semarang atau Solo untuk bekerja, belajar, atau berobat dengan lebih mudah. Sebaliknya, masyarakat dari kota juga bisa datang ke wilayah Gundih untuk menikmati Waduk Kedung Ombo, hutan jati Geyer, hingga kuliner khas daerah sekitar.
Pada Triwulan I 2026, tercatat 10.530 pelanggan naik dan 11.161 pelanggan turun di stasiun ini. Jumlah itu naik 10,05% dibandingkan periode yang sama tahun 2025, menunjukkan semakin banyak warga menggunakan kereta api untuk beraktivitas.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan bahwa layanan kereta api terus dikembangkan agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. “KA Banyubiru membantu masyarakat melakukan perjalanan jarak dekat dan menengah dengan lebih mudah. Hal ini membuat banyak daerah tetap terhubung dan aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan lancar,” ujar Anne dikutip dari rilis KAI, 27 April 2026.
Stasiun Gundih selain menjadi titik perjumpaan, juga spot foto yang instagramable. Bangunan ini memiliki kayu jati yang masih terawat. Bangunan utamanya memanjang dengan tata letak simetris, dilengkapi atap tinggi dan lebar yang membantu sirkulasi udara di iklim tropis. Dindingnya tebal dengan pintu dan jendela berukuran besar.
Suasana di sekitar stasiun yang dikelilingi hutan memberi pengalaman perjalanan yang tenang dan menyenangkan.
“Kehadiran kereta api di Stasiun Gundih menunjukkan bahwa perjalanan memberi dampak luas bagi masyarakat. Akses terhadap pekerjaan semakin terbuka, peluang usaha berkembang, dan hubungan antarwilayah terasa dekat,” kata Anne.
Stasiun Gundih tetap menjadi penghubung penting di Jawa Tengah. Peningkatan penumpang menunjukkan peran kereta api dalam memfasilitasi mobilitas dan ekonomi lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
