Surabaya Sambut Hari Lahir Pancasila 2026, BPIP Tegaskan

Vera T. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 97 dibaca
Bisik.id
Surabaya Sambut Hari Lahir Pancasila 2026, BPIP Tegaskan

Gambar atau konten salah?

Pada 01 Juni 2026, Surabaya menjadi panggung bagi peringatan Hari Lahir Pancasila. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengisi ruang tersebut dengan pidato yang menegaskan peran Pancasila dalam kehidupan berbangsa.

Pidato tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan peringatan tersebut. Ia menekankan pesan kebangsaan, penguatan nilai‑nilai Pancasila, dan ajakan kepada masyarakat untuk menjaga persatuan serta semangat gotong‑royong di tengah berbagai tantangan bangsa.

Teks pidato resmi ini nantinya dibacakan dalam upacara yang digelar oleh instansi pemerintah, lembaga pendidikan, hingga berbagai organisasi di Indonesia. Kehadiran pidato dari Kepala BPIP juga menjadi pedoman dalam menyampaikan semangat nasionalisme dan pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari‑hari.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Om Swastiastu,

Namo Buddhaya,

Salam Kebajikan,

Rahayu, Rahayu, Rahayu,

Salam Pancasila!

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Hari ini, 1 Juni 2026, kita kembali berdiri di atas tanah pusaka untuk memperingati Hari Lahir Pancasila.

Lebih dari sekadar seremoni tahunan, hari ini adalah momen refleksi untuk memastikan bahwa api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia.

Tema yang diusung dalam peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 adalah "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", sebuah pernyataan tegas bahwa nilai‑nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, namun demikian juga menjadi jawaban terciptanya perdamaian dunia yang abadi.

Pancasila adalah "bintang penuntun" yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan. Pancasila adalah "jangkar moral" kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat Pembukaan Undang‑Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang kita anut adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik.

Sebagai bangsa yang besar, kita terus menunjukkan kepemimpinan nyata. Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi kita dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa‑bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Indonesia Raya bukanlah mimpi kosong. Namun, kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral bisa menyesatkan. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology). Jangan biarkan nilai‑nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah.

Kepada para Menteri dan Kepala Daerah, saya titipkan Pancasila di tangan kalian. Pastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan sosial memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak‑hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan. Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan kita.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan kita. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas dengan semangat persatuan dan kuat karena nilai‑nilai kemanusiaannya.

Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa di Republik yang kita cintai.

Selamat Hari Lahir Pancasila! Jayalah Indonesiaku! Merdeka! Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Om Shanti Shanti Shanti Om, Namo Buddhaya, Rahayu, Rahayu, Rahayu, Salam Pancasila! (irb/hil)

Pidato ini menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar sejarah, melainkan landasan moral dan kebijakan luar negeri Indonesia, serta panggilan bagi generasi muda untuk menjaga semangat gotong‑royong dan persatuan.

PancasilaHari Lahir PancasilaBPIPpersatuanperdamaian duniakebijakan luar negerigenerasi muda

Komentar

Memuat komentar...