Surabaya Siap Bangun Pompa & Storage Air Banjir Selatan
Gambar atau konten salah?
Eri Cahyadi, wali kota Surabaya, menegaskan bahwa penanganan banjir di wilayah selatan menjadi prioritas utama pemkot. Ia menyatakan bahwa target menuntaskan semua proyek ini pada tahun ini, dengan harapan pada 4 Mei 2026 tidak akan ada lagi banjir di daerah tersebut.
Rencana utama meliputi pembangunan rumah pompa di beberapa titik strategis. Salah satu lokasi adalah kawasan Panjang Jiwo, tepat di depan SPBU. Lokasi lain berada di depan Gereja Bethany Nginden, di mana setiap tahun terjadi banjir. Eri mengatakan, “Jadi nanti kami akan bangun rumah pompa baru di Panjang Jiwo depan SPBU, satu lagi di depannya Gereja Bethany Nginden. Karena setiap tahun (depan) Gereja Bethany itu banjir. Jadi kami nanti akan bangun di sana di tahun ini,” ujarnya.
Selain itu, pemkot akan menambah fasilitas storage air di beberapa jalan. Penyimpanan ini bertujuan membagi aliran hujan sehingga saluran irigasi tidak terbebani. “Ketika tidak bisa dibangun, maka kita buat storage baru yang ada di jalan,” ujarnya. Penyimpanan ini akan disesuaikan dengan kapasitas saluran yang ada; bila masih memungkinkan pengerukan, opsi tersebut dipilih. Jika tidak, storage dibangun untuk mengurangi beban aliran.
Untuk kawasan Menanggal dan Gayung Kebonsari, pemkot akan menyesuaikan metode pembangunan dengan kondisi saluran. Jika anggaran untuk box culvert belum memungkinkan, tahap awal akan menggunakan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP). Di sisi lain, pada Jalan Tenggilis Mejoyo dan depan Apartemen Metropolis menuju Panjang Jiwo, pelebaran saluran tidak memungkinkan karena terhalang jaringan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi). Oleh karena itu, pemkot memilih membangun storage air di jalan sebagai solusi alternatif.
Menurut Eri, pemetaan aliran air menjadi kunci penting. Ia menekankan perlunya menghitung perubahan arah aliran, elevasi saluran, dan posisi rumah pompa secara detail. “Makanya tadi saya mengajak teman-teman (lurah, camat, dan kepala dinas) untuk memastikan dan memahami, bahwa aliran air seperti ini, ada yang kami balik aliran airnya, maka secara otomatis elevasinya harus tahu, terus rumah pompa-rumah pompanya di mana,” jelasnya.
Ia optimis bahwa titik-titik yang sudah menjadi fokus penanganan akan bebas genangan pada November 2026. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka pendek dalam penanganan genangan di wilayah Surabaya selatan. “Insyaallah bulan November, kalau pun terjadi hujan, maka titik-titik yang kami datangi tadi tidak terjadi lagi genangan di sana. Jadi jangka pendeknya dikerjakan tahun ini. Karena nanti tahun depan tidak boleh lagi ada (banjir) wilayah di sini. Kami pindah wilayah lain,” katanya.
Perubahan fungsi lahan di Surabaya turut memperparah persoalan genangan. Saat ini, hampir seluruh aliran air hujan langsung masuk ke saluran irigasi karena resapan air semakin berkurang akibat padatnya permukiman. “Jadi dulu Surabaya (bangunan masih) sepi, semua aliran air dimasukkan ke irigasi. Jadi ketika semua resapan itu (saat ini) habis dengan rumah, maka tidak ada resapan air, langsung masuk ke irigasi semua air hujan,” pungkasnya.
Dengan rencana ini, pemkot berharap dapat mengurangi frekuensi banjir di Surabaya Selatan. Pembangunan rumah pompa, storage air, dan penyesuaian saluran diharapkan menjadi solusi efektif untuk mengelola aliran hujan di kota yang padat permukiman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
