Surabaya Waspada Hantavirus: Deteksi Dini & Waktu Penting

Wulan M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 107 dibaca
Bisik.id
Surabaya Waspada Hantavirus: Deteksi Dini & Waktu Penting

Gambar atau konten salah?

Hantavirus sering menipu. Pada tahap awal, demam, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem dapat terlihat seperti flu biasa. Karena tanda-tandanya tidak jelas, banyak orang tidak menyadari infeksi sampai gejala sudah parah.

Gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi: demam, kelelahan ekstrem, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan muntah. Jika tidak diobati, kondisi dapat berubah cepat menjadi gangguan pernapasan serius. Pada tahap ini, penanganan medis segera sangat penting untuk mencegah komplikasi yang mengancam nyawa.

Di Surabaya, belum ada kasus hantavirus yang terkonfirmasi. Namun, pemerintah kota bersama Dinas Kesehatan tetap meningkatkan kewaspadaan. dr Billy Daniel Messakh menegaskan bahwa meski belum ada kasus, masyarakat diminta tetap waspada dan melaporkan gejala.

“Hantavirus ini sebenarnya bukan penyakit baru. Sudah lama ada dan penularannya dari tikus. Sampai sekarang di Surabaya juga belum ada kasus yang terbukti positif,” ujar dr Billy. Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan menjaga daya tahan tubuh.

Dinkes Surabaya mengaktifkan pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk transportasi publik, seperti bandara, pelabuhan, dan jalur transportasi darat. Alat pemindai suhu elektronik digunakan untuk mendeteksi orang yang suhu tubuhnya tidak normal. “Kalau ada yang terdeteksi suhu tubuhnya di atas normal, tentu harus segera dipantau atau dilakukan langkah pengawasan lebih lanjut,” ujarnya.

Risiko penularan hantavirus masih rendah bagi masyarakat luas. Maria Van Kerkhove, Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, menjelaskan bahwa penularan antarmanusia memerlukan kontak fisik yang sangat dekat. Ia menegaskan, “Ketika kami menyebut 'kontak dekat' untuk penularan antarmanusia, yang kami maksud adalah kontak fisik yang sangat, sangat dekat. Misalnya, berbagi kamar tidur, berbagi kabin, atau memberikan perawatan medis langsung. Ini sangat berbeda dengan COVID dan sangat berbeda dengan influenza,” tegasnya.

Berbeda dengan COVID-19 yang mudah menyebar melalui udara dalam interaksi sehari-hari, hantavirus varian Andes memerlukan kontak fisik yang jauh lebih dekat dan intens agar dapat menular. Pemerintah daerah masih menunggu arahan teknis dari pusat terkait mekanisme skrining hantavirus. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta panduan resmi kepada WHO.

“Kami masih menunggu guidance (panduan) dari Kementerian Kesehatan terkait screening. Namun, Pemkot Surabaya tetap aktif berkoordinasi dan menyiapkan langkah antisipasi,” jelasnya. Ia juga mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak. Namun, bila harus beraktivitas, warga diminta tetap menjaga kebugaran tubuh dan menggunakan perlindungan diri.

Bagi warga yang akan bepergian ke luar negeri, Dinkes Surabaya mengingatkan pentingnya melengkapi vaksinasi seperti meningitis, influenza, dan pneumonia. Vaksinasi tersebut dapat diakses masyarakat di surabaya.go.id. “Untuk warga yang bepergian ke luar negeri, vaksinnya harus dilengkapi. Itu penting sebagai perlindungan,” pungkasnya.

Walaupun belum ada kasus di Surabaya, langkah pencegahan dan deteksi dini tetap dijalankan. Masyarakat diingatkan untuk tetap waspada, memantau suhu tubuh, dan menyiapkan vaksinasi bila bepergian ke luar negeri. Dengan langkah-langkah ini, risiko penularan dapat ditekan dan kesehatan publik tetap terjaga.

HantavirusgejalapenularanSurabayaDinkesvaksinasisuhu tubuh

Komentar

Memuat komentar...