Surat Kartini Buka Pintu Pendidikan Wanita Indonesia

Dedi S. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 139 dibaca
Bisik.id
Surat Kartini Buka Pintu Pendidikan Wanita Indonesia

Gambar atau konten salah?

Raden Ajeng Kartini menjadi nama yang tak asing bagi banyak orang. Ketika mendengar namanya, kebaya, sanggul, dan peringatan setiap 21 April biasanya muncul di benak. Namun jasa Kartini bagi Indonesia jauh lebih dalam daripada sekadar simbol emansipasi perempuan.

Kartini lahir di tengah budaya Jawa yang masih menahan ruang gerak perempuan. Ia terikat oleh tradisi pingitan, sehingga tidak bebas mengejar pendidikan dan menentukan hidupnya sendiri.

Kegelisahan itu kemudian dituangkan dalam surat-suratnya. Tulisan-tulisannya penuh kritik terhadap kondisi sosial, kecewa dengan minimnya akses pendidikan bagi perempuan, dan terkurung adat yang mengucilkan impiannya.

Salah satu jasa terbesar Kartini adalah keberaniannya menyuarakan pemikiran lewat surat. Ia aktif mengirim surat kepada tokoh-tokoh Belanda seperti J.H. Abendanon, Rosa Abendanon, dan Stella Zeehandelaar.

Di surat-surat itu, Kartini membahas pendidikan, kebebasan, hingga kondisi sosial masyarakat pribumi. Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.

Kumpulan surat ini kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang pada 01 Januari 1911, yang membuat pemikirannya dikenal luas hingga ke Eropa.

Pengantar buku tersebut menampilkan kalimat yang sangat mengemukakan pandangannya tentang perempuan: “Jika perempuan itu berpelajaran, lebih cakaplah dia mendidik anaknya... dan lebih majulah bangsanya”.

Impiannya tidak berhenti menjadi angan. Setelah menikah, Kartini bersama suaminya mendirikan sekolah untuk anak perempuan di Jepara.

Meski Kartini wafat pada 01 Januari 1904, gagasannya tetap hidup. Pada 01 Januari 1907, berdirilah Sekolah Kartini di Batavia, yang kemudian menyebar ke Malang, Cirebon, Bogor, hingga Surabaya.

Kegigihan ini tidak lepas dari dukungan Yayasan Kartini di Den Haag, Belanda, yang membantu memperluas akses pendidikan bagi perempuan pribumi.

Pengaruh Kartini tidak hanya terbatas pada pendidikan. Ia juga mengubah cara masyarakat melihat perempuan. Pada zamannya, perempuan sering dianggap hanya berperan di ranah domestik.

Kartini menantang pandangan itu dengan menunjukkan bahwa perempuan juga berhak berpikir, belajar, dan berkontribusi pada masyarakat. Ia melihat emansipasi perempuan sebagai bagian dari perubahan sosial yang mendukung kemajuan bangsa.

Jika dilihat dari konteks zamannya, perjuangan Kartini sejalan dengan munculnya gerakan perempuan di berbagai belahan dunia. Saat itu, banyak pemikiran yang mendorong perempuan memiliki hak yang sama.

Kartini sudah lebih dulu menyuarakan hal itu dengan caranya sendiri. Ia percaya, ketika perempuan memiliki akses pendidikan, mereka bisa berkembang, berpikir mandiri, dan ikut membawa perubahan.

Upaya Kartini menginspirasi perempuan pribumi mengejar impian yang sama, bahkan memberikan teladan bagi tokoh-tokoh perempuan di Indonesia.

Sebagai penghargaan atas kontribusinya, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Soekarno melalui Keppres Nomor 108 Tahun 1964.

Menariknya, masyarakat sudah lebih dulu memperingati 21 April sebagai Hari Kartini, sebelum pengakuan resmi tersebut.

Kartini tetap menjadi simbol penting bagi perempuan Indonesia, mengingatkan bahwa pendidikan dan kebebasan berpikir adalah kunci bagi kemajuan bangsa.

Jadi, perjuangan Kartini bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan pelajaran tentang pentingnya pendidikan dan hak perempuan yang masih relevan hingga kini.

Kartinipendidikanemansipasi perempuansuratYayasan KartiniHari Kartiniperubahan sosial

Komentar

Memuat komentar...