Swedia 'From Screen to Binder': Kembali ke Buku Fisik
Gambar atau konten salah?
Belajar lewat layar semakin meluas di banyak negara. Laptop, tablet, dan platform daring menjadi andalan siswa. Namun, di satu negara, kebijakan justru mengurangi penggunaan teknologi dan kembali menekankan buku fisik.
Ketergantungan pada layar membuat siswa lebih sering menatap layar daripada menatap buku. Hal ini menimbulkan penurunan kemampuan literasi di kalangan pelajar dalam beberapa tahun terakhir.
Swedia memimpin gerakan kembali ke buku. Pemerintah mengeluarkan aturan dengan slogan “from screen to binder” atau dari layar ke buku. Tujuannya agar metode belajar tradisional dapat meningkatkan fokus dan kemampuan membaca anak.
Perubahan ini sudah terasa di sekolah-sekolah, termasuk di Nacka. Sekolah menyesuaikan jadwal dan materi agar siswa kembali membawa buku cetak, bukan alat elektronik.
“Saya sekarang sering pulang dari sekolah membawa buku dan kertas baru,” ujar Sophie, seorang siswa, dalam wawancara BBC, dikutip Selasa, 21 April 2026.
Juru bicara pendidikan Partai Liberal Swedia, Joar Forsell, menegaskan bahwa penggunaan perangkat digital akan dikurangi, terutama untuk siswa usia dini. “Kami mencoba mengurangi layar sebanyak mungkin,” ujarnya.
Para peneliti juga mendukung kebijakan ini. Sissela Nutley menilai bahwa perangkat digital dapat mengganggu konsentrasi di kelas. Ia menyebutkan bahwa penelitian internasional menunjukkan bahwa membaca lewat layar membuat siswa lebih sulit memahami informasi dibandingkan membaca buku fisik. Selain itu, penggunaan layar yang terlalu sering dapat memengaruhi perkembangan otak anak, khususnya pada usia dini.
Data terbaru menunjukkan hampir seperempat siswa Swedia berusia 15‑16 tahun belum mencapai tingkat dasar kemampuan membaca. Angka ini menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong perubahan metode belajar.
Namun, kebijakan kembali ke buku menuai kritik. Asosiasi teknologi pendidikan Swedia, Swedish Edtech Industry, menilai pengurangan pembelajaran digital bisa berdampak pada kesiapan kerja siswa. CEO asosiasi tersebut, Jannie Jeppesen, mengatakan keterampilan digital sangat penting di dunia kerja. “Semua orang membutuhkan keterampilan digital dasar untuk masuk ke dunia kerja,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa sekitar 90 persen pekerjaan pada masa depan diperkirakan membutuhkan keterampilan digital.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan masih menjadi isu kompleks. Swedia berusaha menyeimbangkan antara kemampuan digital dan keterampilan dasar seperti membaca serta menulis.
Secara keseluruhan, gerakan Swedia menyoroti pentingnya menyesuaikan metode belajar dengan kebutuhan perkembangan anak. Meskipun teknologi menawarkan kemudahan, buku fisik tetap memiliki peran penting dalam membangun konsentrasi dan pemahaman membaca. Kebijakan ini mencerminkan upaya negara untuk menjaga kualitas pendidikan sambil tetap mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja yang semakin digital.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
ITB-IPB Ciptakan Rumpon Portabel untuk Nelayan
Kelas Bisnis Pemula 16 Juli: Mulai dari Nol
Sertifikat BNSP Kini Jadi Syarat Wajib Trainer Perusahaan
Lukis Hewan Peliharaan, Alihkan Anak dari Layar Gadget
Anak Petani Gresik Lolos Beasiswa S2-S3 di Inggris dan Australia
Hasil PISA 2025 Diumumkan Akhir 2026
Berita Terbaru
MU Sepakat Beli Andrey Santos 50 Juta Pounds
Marquez Satu Kemenangan Lagi Samai Rekor Agostini
Google Undang Media ke Acara Pixel 11, 12 Agustus 2026
Maman Bantah Pendapatan Ojol Turun, Sebut Liburan Sekolah
Bansos Beras dan Minyak Goreng Cair Juli 2026, Cek Penerima di Sini
Warteg Bisa untuk Diet Sehat, Tak Perlu Salad Mahal
Rahasia Diet 6.000 Kalori Haaland di Piala Dunia
Danau Jakabaring: Rekreasi Rp2.000 di Palembang