Tempe Terbukti Menurunkan Risiko Alzheimer di Indonesia

Teguh A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
Tempe Terbukti Menurunkan Risiko Alzheimer di Indonesia

Gambar atau konten salah?

Alzheimer adalah penyakit neurodegeneratif yang menurunkan kemampuan berpikir dan memori. Menurut jurnal Jurnal of Ethnic Foods, kondisi ini menyebabkan kerusakan dan kematian sel saraf di otak secara bertahap. “Penyakit Alzheimer adalah penyakit neurodegeneratif (kondisi kerusakan dan kematian sel-sel saraf di otak atau sumsum tulang belakang secara bertahap yang bersifat progresif) kronis dengan gejala demensia yang memburuk seiring waktu,” tulis studi tersebut. Penyakit ini semakin serius seiring berjalannya waktu.

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat ada 1,2 juta penderita Alzheimer di Indonesia pada 18 Mei 2026. Angka ini diproyeksikan naik menjadi 4 juta pada tahun 2050. WHO juga melaporkan bahwa 50 juta orang di dunia menderita demensia, dan jumlah tersebut diperkirakan mencapai 82 juta pada 2030. Data ini menegaskan bahwa Alzheimer menjadi masalah kesehatan publik yang semakin mendesak.

Studi yang sama menyoroti peran genetik dalam perkembangan Alzheimer. “Faktor genetik juga berperan dalam perkembangan penyakit Alzheimer. Risiko genetik penyakit Alzheimer diperkirakan sekitar 70%. Beberapa gen terlibat dalam etiopathogenesis (perkembangan) penyakit Alzheimer, termasuk TNF, cdk5, gsk3b, PSEN1, dan PSEN2,” kutipan tersebut. Dengan persentase tinggi, faktor genetik menjadi komponen penting yang perlu dipahami dalam upaya pencegahan.

Di sisi lain, konsumsi tempe menawarkan manfaat kesehatan yang signifikan. “Mengkonsumsi tempe diketahui memberikan beberapa manfaat bagi kesehatan karena kandungan Isoflavon. Senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menurunkan resiko penyakit seperti penyakit neurodegeneratif,” jelas peneliti. Penelitian juga mengungkapkan bahwa isoflavon dapat melindungi sel dari stres oksidatif, sehingga menurunkan risiko penyakit kronis, termasuk kardiovaskular, kanker, dan neurodegeneratif.

Minyak yang diekstrak dari tempe kedelai putih juga menunjukkan potensi menurunkan risiko Alzheimer. “Minyak tempe yang diekstrak dari tempe kedelai putih memiliki senyawa PUFA termasuk omega-3 dan omega-6 dan memiliki kemampuan untuk secara signifikan menurunkan ekspresi gen terkait penyakit Alzheimer yaitu PSEN1, Gsk3b, cdk5, dan TNF.” Minyak tempe dianggap lebih unggul dibandingkan minyak kedelai biasa karena aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dan pengurangan ekspresi gen yang berhubungan dengan Alzheimer.

Asam lipoat (ALA) yang terkandung dalam minyak tempe juga relevan. “Jumlah ALA (Alpha-Lipoic Acid) dalam minyak tempe hampir sama dengan minyak kedelai yang tidak melalui proses fermentasi. Hal ini membuktikan bahwa kultur tempe tidak mengkonsumsi omega-3 selama proses fermentasi. Dengan demikian, ALA dapat disarankan memiliki peran kecil dalam mengurangi risiko penyakit Alzheimer.” Penelitian tambahan oleh Handajani menunjukkan bahwa mengonsumsi tempe dapat memperbaiki gangguan kognitif ringan pada lansia. “Sebuah penelitian oleh Handajani juga menunjukkan bahwa mengonsumsi tempe dapat memperbaiki gangguan kognitif ringan pada lansia,” ujarnya.

Kesimpulannya, Alzheimer tetap menjadi tantangan kesehatan yang signifikan di Indonesia. Data WHO menegaskan peningkatan jumlah penderita, sementara faktor genetik memegang peran besar. Di sisi lain, tempe—dengan isoflavon, minyak berPUFA, dan ALA—menawarkan pendekatan alami yang dapat menurunkan risiko Alzheimer dan memperbaiki fungsi kognitif. Meskipun tidak menggantikan perawatan medis, konsumsi tempe dapat menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan dan perbaikan kesehatan otak.

Alzheimergenetiktempeisoflavonminyak tempePUFAkognitif

Komentar

Memuat komentar...