TKA SMP: Soal Matematika Dibahas Menteri, Cegah Rasa Takut
Gambar atau konten salah?
TKI (Tes Kemampuan Akademik) di tingkat SMP/MTs seringkali menimbulkan rasa takut di kalangan murid, khususnya soal matematika. Pada 07 April 2026, Toni Toharudin, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, hadir di Hotel Four Point, Kota Bekasi, Jawa Barat untuk taklimat TKA SMP. Ia mengakui adanya keluhan murid tentang soal yang dianggap sulit.
"Pada waktu di lapangan banyak siswa yang mengekuhkan tentang soal TKA yang sulit, terutama dari pelajaran matematika dan kami memang sangat memahami sebagian siswa menyampaikan hal tersebut," ujar Toni. Ia menegaskan bahwa TKA tidak hanya menguji hafalan, melainkan juga kemampuan berpikir dan penalaran.
"Saya kira soal TKA ini tidak dibuat untuk menjebak, tetapi untuk mengungkap bagaimana kemampuan berpikir siswa yang lebih mendalam," tambahnya. Menurutnya, soal TKA telah melewati proses seleksi yang ketat sebelum disebarluaskan.
"Jadi secara teori kami sudah melalui proses-proses yang akademis, menguji soal itu dan lain-lain dan pada akhirnya memang selalu terjadi keluhan seperti itu," ujarnya. Toni menegaskan bahwa keluhan tersebut memang terjadi, namun dianggap wajar dalam konteks asesmen.
Selanjutnya, Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen, menyampaikan tiga indikator utama yang dinilai dalam mata pelajaran matematika di TKA SMP: pengetahuan, pengaplikasian, dan penalaran. Semua indikator ini dihubungkan dengan persoalan nyata di kehidupan sehari-hari murid.
"Misalnya kalau Aljabar, itu persamaan dua variable, itu memang sudah diajarkan di kelas. Tetapi persamaan dua variable ini penerapannya di dunia nyata itu banyak. Jadi misalnya bagaimana menentukan berapa harga dari kombinasi dua barang, itu adalah persamaan dua variable," jelas Rahmawati. Ia menekankan bahwa materi yang diuji memang sudah diajarkan di kelas.
"Misalnya bagaimana perbandingan antara besaran suatu wilayah A dengan wilayah B. Tapi sama-sama tentang persamaan dua variable, hanya masalahnya yang diganti," tambahnya. Rahmawati menegaskan bahwa soal simulasi dan ujian memiliki perbedaan konteks, meskipun konsep yang diuji tetap sama.
"Dan seperti katakan Pak Menteri, nggak mungkin juga soal yang sudah ada di simulasi kok diujikan lagi di ujian hari H, itu kan namanya cuma mengingat kembali soal gitu ya," ungkapnya. Ia menekankan pentingnya membiasakan murid menggunakan konsep matematika dalam berbagai situasi.
"Tapi kami sangat memaklumi hal ini, harapannya ini menjadi membiasakan anak-anak, tidak hanya sekedar belajar konsep matematika, tetapi juga menyadari pada konteks apa saja, pada masalah apa saja, soal-soal atau konsep-konsep matematika ini bisa diterapkan," tutup Rahmawati. Ia berharap siswa dapat melihat matematika sebagai alat untuk memecahkan masalah nyata.
Dengan demikian, baik Toni maupun Rahmawati menekankan bahwa TKA dirancang untuk menilai pemahaman dan kemampuan berpikir, bukan untuk menipu. Mereka mengakui bahwa soal matematika memang menantang, namun diharapkan dapat memotivasi siswa untuk lebih mendalami konsep dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Indonesia Kekurangan Talenta STEM, Ilmu Sosial Tak Ditinggalkan
Tim PENS raih peringkat tiga di kompetisi satelit mini dunia
Jakarta Punya Dua Jalur SPMB Unik, Biaya Pendidikan Ditanggung Penuh
Aturan MPLS 2026 Resmi: Lima Hari, Bukan Tiga
FSGI Temukan Gangguan Sistem dan Kecurangan di SPMB Sekolah Maung
SMA CT ARSA Sukoharjo Puncaki Penerimaan SNBT 2026
Berita Terbaru
Yamaha Fazzio Hybrid: Dari Kanvas Kreatif hingga Motor Fungsional
Rektor ITB Usulkan Mahasiswa Tahu Nilai UTBK Dulu Sebelum Daftar Kampus
Toyota Fortuner Pelat Merah Dilelang, Pajak Cuma Rp 1,8 Juta
Tecno Rilis EllaClaw, Agen AI yang Bisa Otomatiskan Tugas Ponsel
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Jepang Kembali Gagalkan Tim Eropa, Lolos ke 32 Besar Piala Dunia