Toko Wan Cu Sidoarjo: Tradisi 1933 Beradaptasi di Era Digital
Gambar atau konten salah?
Toko Rejo, yang lebih dikenal sebagai Toko Wan Cu, berdiri di Jalan Gajah Mada, pusat Kota Sidoarjo. Toko ini telah beroperasi sejak 1933 dan menjadi saksi sejarah perdagangan di kota ini sejak masa kolonial.
Usaha ini dimulai oleh The Thwan Tjioe, seorang kepala keluarga keturunan Tionghoa yang aktif dalam kegiatan sosial dan perjuangan. Bangunan toko masih mempertahankan bentuk aslinya, lengkap dengan pintu kayu yang dipasang sejak awal berdiri dan tetap dipelihara.
Pewaris generasi ketiga, Effendy Tedjokusumo, mulai terlibat mengelola toko sejak 2008, mendampingi sang ayah, The Hwei Kwan, yang meneruskan usaha keluarga sejak 1965. Setelah papa meninggal pada 2016, Effendy berkata: “Setelah papa meninggal pada 2016, saya melanjutkan untuk menjaga dan melestarikan toko ini.”
Menurut Effendy, nama 'Wan Cu' berasal dari pelafalan masyarakat terhadap nama sang kakek, The Thwan Tjioe. Seiring waktu, nama tersebut justru lebih melekat dibanding nama resminya, Toko Rejo.
Sejak awal berdiri, Toko Wan Cu menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat. Produk yang masih dipertahankan antara lain timbangan duduk, lampu tempel (teplok), lampu petromaks, dan perlengkapan sembahyang seperti hio atau dupa. Toko ini juga menjual aneka permen jadul, seperti permen jahe, permen minyak kayu putih, dan manisan khas. Effendy menegaskan: “Barang-barang lama itu tetap kami pertahankan karena masih ada yang mencari. Ada nilai sejarah sekaligus nostalgia di situ.”
Perubahan pola belanja menjadi tantangan tersendiri. Kehadiran ritel modern dan toko daring membuat sejumlah produk lama tak lagi diminati. Effendy menjelaskan: “Dulu kami jual kue kaleng dan kurma saat Lebaran, sekarang sudah tidak lagi karena orang lebih memilih belanja di minimarket. Jadi kami menyesuaikan dengan kebutuhan yang masih dicari.”
Meski demikian, Effendy tetap optimistis usaha keluarga ini dapat terus bertahan. Ia berupaya menyeimbangkan antara menjaga nilai historis toko dan mengikuti perkembangan zaman. “Yang penting kami tetap melayani masyarakat. Sambil mempertahankan sejarah, kami juga terus beradaptasi agar tetap relevan,” ujarnya.
Toko ini tetap menjadi tempat bagi warga Sidoarjo yang menghargai sejarah dan nostalgia. Dengan kombinasi produk klasik dan penyesuaian terhadap kebutuhan modern, Toko Wan Cu menunjukkan bahwa usaha tradisional dapat bertahan di tengah perubahan zaman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Surabaya Cerah, Mojokerto Diselimuti Kabut
Jadwal Sholat Surabaya 15 Juli 2026 Lengkap
Prancis vs Spanyol: Finalis Piala Dunia 2026 Diperebutkan
Prakiraan Cuaca Jatim: Batu Terdingin, Surabaya Cerah
Jadwal Sholat Rabu 15 Juli 2026 38 Kota di Jatim
Jalan Mulus Nelayan Senang, Ekonomi Lampon Naik Kelas
Berita Terbaru
5 Kafe Bernuansa Vintage di Jakarta
Samsung Rilis Flex Titanium, Layar Lipat Lebih Kuat Tanpa Bekas Lipatan
OJK Ungkap Enam Hambatan Berantas Judi Online
Porro Akui Final Piala Dunia 2026 di Luar Mimpi Terliar
Truk Tabrak Truk di Muratara, Sopir Tewas Terjepit
15 Juli: Hari Keterampilan Pemuda hingga Demokrasi Turki
Declan Rice Pulih, Siap Main Penuh Lawan Argentina
Pedro Porro Bawa Spanyol ke Final Piala Dunia 2026