Tony Wenas: Dari Musisi ke Presiden Direktur Freeport Indonesia

Arif S. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 126 dibaca
Bisik.id
Tony Wenas: Dari Musisi ke Presiden Direktur Freeport Indonesia

Gambar atau konten salah?

Clayton Allen Wenas, yang lebih dikenal sebagai Tony Wenas, saat ini menjabat sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia. Menariknya, sebelum terjun ke dunia tambang, Tony mengawali karirnya sebagai musisi. Dalam sebuah wawancara, ia menceritakan bagaimana kecintaannya terhadap musik dimulai dari keluarganya. Meskipun orang tuanya bukan musisi, mereka sering memutar musik di rumah, yang membuat Tony terpapar musik sejak kecil.

Tony menyatakan, "Saya dibesarkan di lingkungan yang selalu dipenuhi musik. Setiap hari, saya mendengar lagu-lagu yang diputar oleh ayah, ibu, dan kakak saya." Ketertarikan ini mengarahkannya untuk belajar alat musik, membentuk band di SMA, dan bahkan merekam lagu. Ia mengaku, saat itu ia bisa mendapatkan bayaran hingga puluhan juta rupiah per bulan jika dihitung dengan nilai sekarang.

Dalam wawancara tersebut, Tony juga membahas tentang rencana pemerintah untuk menambah saham 10% pada Freeport dan rencana perusahaan untuk melanjutkan operasi hingga tahun 2061. Ketika ditanya tentang bagaimana ia membagi waktu antara memimpin perusahaan tambang besar dan berkarya di dunia musik, Tony menjelaskan pentingnya manajemen waktu. Ia merinci bagaimana ia membagi waktu antara pekerjaan, kegiatan organisasi, dan waktu untuk dirinya sendiri.

Ia mengatakan, "Waktu itu 24 jam. Kita perlu disiplin dalam mengatur waktu. Jika suatu rapat bisa selesai dalam satu jam, ya selesaikan dalam satu jam." Ia juga menyadari bahwa terkadang jadwal penting bisa bertabrakan, tetapi dengan manajemen yang baik, semua bisa diatur.

Tony menceritakan bahwa orang tuanya sangat mendukung karir musiknya. Mereka tidak pernah melarangnya meski ia kuliah terlambat karena fokus pada musik. "Selama itu positif, lakukan terus," ujarnya. Meskipun banyak musisi yang meredup setelah popularitas, Tony melihat bahwa dengan manajemen yang baik, musisi dapat bertahan lebih lama.

Mengenai perbedaan Freeport dari waktu ke waktu, Tony menjelaskan bahwa sebelumnya pemerintah hanya memiliki 9,36% saham, kini meningkat menjadi 51,2%. Sinergi antara perusahaan asing dan pemerintah Indonesia telah menghasilkan banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Ia menekankan pentingnya transparansi dan komunikasi yang baik mengenai operasi Freeport saat ini.

Tantangan terbesar yang ia hadapi dalam mengelola perusahaan adalah kompleksitas operasional dan banyaknya pemangku kepentingan yang terlibat. Ia juga menyebutkan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat adat.

Tony mengungkapkan rencananya untuk pensiun di usia 55 tahun, namun hingga saat ini, di usia 62 tahun, ia masih aktif di Freeport. Ia merasa keberadaannya penting untuk memberikan manfaat bagi orang lain dan berkontribusi pada bangsa.

Saat ini, Freeport menjanjikan berbagai keuntungan bagi Indonesia dengan beroperasi hingga 2041. Tony berharap dengan perpanjangan izin, perusahaan dapat terus berkontribusi melalui pajak, lapangan kerja, dan program pengembangan masyarakat. Ia juga mengungkapkan progres pembangunan smelter di Gresik yang telah mencapai tahap hampir selesai dan akan segera beroperasi.

Dengan berbagai rencana dan visi yang jelas, Tony Wenas tetap berkomitmen untuk memaksimalkan potensi Freeport dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Tony WenasFreeport Indonesiamusisitambang emassahamoperasimanajemen waktukompleksitas

Komentar

Memuat komentar...