Tradisi Mengangkat Rumah Kayu di Nganjuk Tetap Hidup
Gambar atau konten salah?
Tradisi mengangkat dan memindahkan rumah masih hidup di Desa Ngangkatan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk. Setiap kali rumah kayu jati dan bambu perlu dipindahkan, puluhan warga bersatu dengan perangkat desa. Mereka mengangkat pondasi rumah secara gotong royong, lalu menurunkannya ke lokasi baru.
Menurut Lasto Utomo, kepala desa, tradisi ini adalah wujud budaya saling membantu antar tetangga. Ia menegaskan bahwa semua kegiatan dilakukan secara sukarela tanpa imbalan. “Tradisi ini adalah wujud budaya saling membantu antar tetangga, yang dilakukan secara sukarela tanpa imbalan,” ujarnya.
“Ini bentuk budaya gotong royong masyarakat desa. Mereka membantu tanpa dibayar. Biasanya tuan rumah hanya menyiapkan hidangan makan bersama lalu dilanjutkan kenduren atau tasyakuran,” ujar Lasto, Minggu, 31 Mei 2026.
Di Bulan April 2026, tradisi ini kembali terlihat ketika warga memindahkan rumah Darsono, seorang warga Dusun Jentir berusia 50 tahun. Rumah tersebut dipindahkan sejauh beberapa puluh meter dari tempat asalnya.
Lasto menjelaskan bahwa puluhan warga mengangkat pondasi rumah Darsono yang berukuran sekitar 10 meterx6 meter, masih utuh lengkap dengan rangka atapnya. “Perangkat desa, Babinsa dan Bhabinkamtibmas ikut membantu proses pemindahan rumahnya,” imbuh Lasto.
Dengan aba-aba salah satu warga, semua serempak mengangkat rumah lalu berjalan bersama menuju lokasi baru. “Dulu rumahnya menghadap barat, sekarang dipindahkan menghadap utara. Jadi ceritanya, rumah awalnya itu berdiri di tanah milik kakaknya. Nah sekarang setelah punya tanah sendiri, rumah dipindahkan ke lokasi baru,” terang Lasto.
Menurut Lasto, tradisi memindahkan rumah secara utuh kini mulai jarang ditemui. Mayoritas rumah warga kini dibangun menggunakan batu bata dan cor semen, sehingga tidak memungkinkan dipindahkan secara utuh. Namun, budaya itu masih dapat dijumpai di beberapa wilayah pinggiran Nganjuk utara, seperti di Rejoso, Gondang, Lengkong, Jatikalen.
“Di wilayah itu sebagian rumah warganya sampai sekarang memang masih berbahan kayu jati,” pungkas Lasto.
Tradisi ini tetap menjadi contoh nyata gotong royong di desa, menegaskan nilai kebersamaan dan saling membantu yang masih hidup di kalangan masyarakat Nganjuk.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026