Tren 'Human Food': Makan seperti Anjing demi Hemat Waktu

Ratna D. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Tren 'Human Food': Makan seperti Anjing demi Hemat Waktu

Gambar atau konten salah?

Di China, anak muda sekarang punya cara baru buat makan. Mereka menyebutnya 'human food'. Namanya memang 'makanan manusia', tapi tampilannya malah mirip pakan anjing atau kucing. Aneh? Mungkin. Tapi tren ini lagi viral.

Gaya hidup ini berkaitan dengan prinsip 'tang ping' atau 'berbaring datar'. Intinya, mereka melakukan hal seminimal mungkin untuk bertahan hidup. Termasuk urusan makan.

Laporan dari South China Morning Post pada 11 Juli 2026 menjelaskan bagaimana tren ini bekerja. Orang-orang membeli semua sayuran dan daging yang mereka butuhkan untuk seminggu. Lalu semuanya dipotong, dimasak, dan dibekukan secara terpisah.

Bahan utamanya standar. Paprika hijau, brokoli, jamur, jagung, daging sapi, dan udang. Bahan-bahan yang biasa ada di salad.

Saat mau makan, mereka ambil sedikit dari setiap bahan beku. Campurannya dipanaskan di microwave. Kalau butuh rasa tambahan, garam atau bumbu lain ditaburkan. Selesai.

Di platform media sosial China, tagar 'human food' sudah ditonton lebih dari 5,4 juta kali. Banyak pegawai kantoran yang ikut tren ini. Alasannya simpel: hemat waktu dan tetap dapat energi di tengah kerja yang padat.

Mereka tidak perlu lagi masak satu jam hanya untuk makan lima menit. Dengan 'human food', persiapan dilakukan seminggu sekali. Makanan tinggal dihangatkan setiap hari.

Tapi ada tantangan. Langkah tersulit adalah membekukan bahan-bahannya. Beberapa orang mengeluh bahan-bahan itu membeku jadi satu gumpalan. Solusinya? Aduk kotak makanan beberapa kali saat mulai membeku.

Seorang penggemar tren ini bilang 'human food' membuatnya berenergi tanpa repot. Penggemar lain menambahkan, "Saya bisa menghemat waktu memasak, dan menghabiskannya untuk hal-hal yang membutuhkan lebih banyak energi."

Tren ini juga populer di kalangan pencinta kebugaran. Alasannya, 'human food' terbuat dari sayuran dan daging beku sederhana. Minim proses. Tidak pakai banyak bumbu.

Beberapa orang melihat 'human food' sebagai versi makanan cepat saji yang sehat. Seorang netizen mengaku, "Berat badan saya turun 2 kilogram setelah makan 'human food' selama 8 hari."

Tapi tidak semua orang setuju. Ada yang mempertanyakan esensi hidup. "Di mana letak kebahagiaan hidup jika Anda makan seperti hewan peliharaan?" kata seseorang.

Yang lain punya pengalaman buruk. "Ayam yang dicairkan rasanya mengerikan. 'Human food' yang saya buat akhirnya menjadi makanan anjing."

Pertanyaan lain muncul soal nutrisi. Beberapa makanan perlu dimasak dengan cara tertentu agar nutrisinya terserap maksimal. Apakah 'human food' memenuhi standar itu? Belum jelas.

Pada akhirnya, tren ini adalah cerminan dari generasi yang mencari efisiensi ekstrem. Mereka rela makan seperti hewan peliharaan demi menghemat waktu. Tapi pertanyaan soal kebahagiaan dan gizi tetap menggantung. Apakah ini solusi jangka panjang atau sekadar tren sesaat? Waktu yang akan menjawab.

tren makananhuman foodtang pingefisiensi waktumakanan bekuhemat energigaya hidup minimalis

Komentar

Memuat komentar...