Tri Suci Waisak 2026 Diperingati di Vihara Buddha Tulungagung
Gambar atau konten salah?
Tri Suci Waisak 2570 BE (2026) diperingati di Vihara Buddha Loka Tulungagung dengan kehadiran puluhan umat Buddha. Rangkaian acara dimulai dengan Pradaksina, yaitu penghormatan di mana para peserta mengelilingi tempat pemujaan tiga kali sambil membawa bunga dan dupa.
Setelah itu, seluruh umat berkumpul di ruang puja untuk mengikuti Tisarana dan Pancasila Buddhis, diikuti pembacaan Paritta. Proses ini dipimpin oleh Samanera Pusala Chando dan Pandita Sugianto, pembina kerohanian vihara.
“Setelah itu umat mengikuti pembaruan, meditasi saat detik-detik Waisak, pelimpahan jasa, hingga pemercikan air Paritta,” kata Pandita Sugianto. “Jadi satu bulan kita melaksanakan ibadah, puasa dan mengisi energi positif itu untuk air Paritta yang hari ini kita bagikan,” jelasnya.
Air Paritta yang dibagikan memiliki makna khusus karena telah diberi doa selama satu bulan penuh melalui Samma Ditthi Puja Bhakti (SDB). Pandita menegaskan bahwa energi positif yang dikumpulkan selama sebulan tersebut menjadi sumber kekuatan bagi umat saat menerima air tersebut.
Ia menambahkan, “Kami berharap mereka lebih tekun dan memiliki kualitas batin yang lebih baik dengan mengutamakan belajar Dhamma dan praktik Dhamma.”
Antusiasme umat di Tulungagung terlihat tinggi. “Momen tahun ini juga sangat luar biasa karena dihadiri bhante, walaupun hanya seorang tetapi mampu membangkitkan semangat para umat,” jelasnya.
Dalam ceramahnya, Samanera Pusala Chando menjelaskan bahwa Tri Suci Waisak adalah hari suci yang mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha: kelahiran Pangeran Siddharta Gautama, pencapaian pencerahan, dan Mahaparinibbana atau wafatnya Sang Buddha. “Tiga peristiwa agung, yakni kelahiran Pangeran Siddharta calon Buddha, pencapaian pencerahan Guru Agung Sang Buddha dan Mahaparinibbana Sang Buddha,” kata Pusala.
Ia menekankan bahwa momen tersebut bukan sekadar sejarah, melainkan pedoman dan inspirasi bagi perkembangan batin umat. “Sekaligus menjadi himbauan bagi umat Buddha tanpa terkecuali dalam memaknai momentum Waisak untuk menyeimbangkan kebijaksanaan batin dan kepedulian sosial,” ujarnya.
Perayaan Waisak tahun 2026 diangkat oleh Sangha Theravada Indonesia dengan tema Menapaki Jalan Mulia Berkesadaran demi Kesejahteraan Negeri. Tema ini sekaligus menjadi refleksi atas 50 tahun berdirinya sangha. Peringatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi seremonial, melainkan mendorong umat untuk terus mempelajari dan mengamalkan ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari‑hari.
“Bukan hanya sekadar belajar secara konsep, tetapi ketika sudah belajar Dhamma dan mendengarkan Dhamma, alangkah baiknya kemudian juga mempraktikkan Dhamma yang sudah dipelajari. Dengan cara itulah kita menghormat Guru Agung Sang Buddha,” kata Pusala Chando.
Acara berlangsung lancar dan hikmat, menandai keberhasilan rangkaian perayaan Tri Suci Waisak yang diadakan pada Minggu sore. Kehadiran bhante dan partisipasi aktif umat menambah semangat, menegaskan komitmen komunitas Buddha Tulungagung untuk terus meneladani ajaran Buddha dalam setiap aspek kehidupan.
Keseluruhan perayaan menyoroti pentingnya integrasi antara pembelajaran Dhamma, praktik meditasi, dan kontribusi sosial. Dengan demikian, umat diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kebijaksanaan batin dan kepedulian terhadap masyarakat, sesuai dengan semangat tema Waisak 2026.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
