Trump Dominasi Restoran Chinese di AS, Data Terbukti

Endah K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Trump Dominasi Restoran Chinese di AS, Data Terbukti

Gambar atau konten salah?

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan pendapatnya tentang dominasi restoran Chinese di negeri asalnya saat kunjungan kenegaraan ke China pada 14 Mei 2026. Ia menyinggung hal ini di tengah jamuan makan malam bersama Presiden China, Xi Jinping, di Beijing.

Dalam percakapan yang diwarnai nuansa diplomatik, Trump memanfaatkan topik kuliner sebagai jembatan budaya. Ia menegaskan bahwa makanan khas China telah menyebar luas di Amerika, mencakup kota besar dan daerah pinggiran.

"Sama seperti banyak orang China sekarang menyukai bola basket dan celana jeans, restoran Chinese food di Amerika saat ini jumlahnya melebihi gabungan lima jaringan makanan cepat saji terbesar di Amerika Serikat," ujar Trump.

Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan: apakah klaim Trump benar? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat data aktual tentang jumlah restoran Chinese di Amerika Serikat.

Menurut data Pew Research Center pada 1 Maret 2023, terdapat sekitar 37 ribu restoran Chinese di Amerika. Sementara itu, organisasi lain—yang kini tidak lagi aktif—mengutip angka 45 ribu restoran. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Untuk memahami perbandingannya, mari kita lihat lima jaringan restoran cepat saji terbesar di Amerika: Subway, Starbucks, McDonald’s, Dunkin Donuts, dan Taco Bell. Bersama-sama, kelima jaringan ini memiliki lebih dari 67 ribu gerai pada tahun 2025, menurut majalah industri QSR yang mengumpulkan data langsung dari masing-masing perusahaan.

Walaupun 67 ribu gerai lebih banyak daripada satu merek fast food, jumlah restoran Chinese—antara 37 ribu hingga 45 ribu—masih menandai kehadiran yang kuat. Bahkan, angka tersebut melampaui gabungan dua atau tiga merek fast food sekaligus, menegaskan bahwa restoran Chinese tidak hanya sekadar restoran etnik, melainkan bagian integral dari lanskap kuliner Amerika.

Keberhasilan restoran Chinese di Amerika tidak lepas dari proses adaptasi menu. Banyak hidangan yang populer di Amerika sebenarnya merupakan varian yang dimodifikasi agar sesuai dengan selera lokal. Contohnya, orange chicken, beef broccoli, dan crab rangoon menjadi ikon makanan Chinese‑American yang dikenal luas.

Adaptasi ini membuat makanan Chinese lebih mudah diterima oleh masyarakat luas. Restoran Chinese tidak lagi hanya menjadi tempat bagi komunitas etnik, melainkan menjadi bagian dari budaya populer. Keberadaan menu yang familiar dan harga yang terjangkau menjadi faktor utama.

Harga yang relatif murah dan porsi yang besar menjadi daya tarik utama. Banyak restoran Chinese menawarkan paket makanan praktis, cocok untuk keluarga atau kelompok. Selain itu, layanan cepat dan jam operasional yang panjang—buka hingga malam hari—menjadikan restoran ini pilihan favorit bagi pekerja dan mahasiswa yang tidak memiliki waktu makan tetap.

Keberadaan restoran Chinese yang mudah ditemukan juga memperkuat posisinya. Banyak warga Amerika menganggap Chinese food sebagai comfort food sehari‑hari, menandai pergeseran persepsi dari sekadar makanan etnik menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari‑harinya.

Dengan data dan tren tersebut, klaim Trump tentang dominasi restoran Chinese di Amerika dapat dianggap memiliki dasar yang kuat. Meskipun angka pastinya bervariasi tergantung sumber, fakta bahwa restoran Chinese menempati posisi yang signifikan di antara jaringan fast food terbesar menunjukkan bahwa makanan China telah menjadi bagian penting dari budaya kuliner Amerika.

Secara keseluruhan, keberadaan restoran Chinese di Amerika tidak hanya mencerminkan pertumbuhan ekonomi dan adaptasi budaya, tetapi juga menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi jembatan antara dua negara. Dengan menu yang disesuaikan, harga terjangkau, dan layanan cepat, restoran Chinese telah berhasil menembus pasar yang kompetitif dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari‑hari warga Amerika.

Donald Trumprestoran ChineseAmerika Serikatjaringan fast foodPew Research CenterBeijingadaptasi menu

Komentar

Memuat komentar...