TSI Cisarua: Panda Pertama Indonesia Lahir, Si Rio di TSI

Maya K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 82 dibaca
Bisik.id
TSI Cisarua: Panda Pertama Indonesia Lahir, Si Rio di TSI

Gambar atau konten salah?

TSI Cisarua di Bogor menyaksikan kelahiran pertama panda raksasa di Indonesia. Anak panda yang menggemaskan ini diberi nama Satrio Wiratama, namun sering dipanggil Rio oleh staf. Ia lahir pada akhir November 2025, menandai tonggak sejarah bagi kebun binatang ini.

Direktur Utama Aditya Sumampauw menegaskan keistimewaan kelahiran mamalia asal Tiongkok ini. “Ini benar-benar once in a lifetime experience. Dalam tiga tahun terakhir, hanya Rio yang lahir di kebun binatang di luar China. Kalau tidak di sini, kita harus melihatnya jauh-jauh ke Chengdu di China,” ungkap Aswin di TSI pada hari Jumat, 15 Mei 2026.

Untuk menjaga transparansi, TSI mengundang media agar dapat menyaksikan perkembangan Rio secara langsung. Pada akhir bulan ini, Rio akan diperkenalkan secara resmi kepada publik. Hal ini memberi kesempatan kepada masyarakat Indonesia yang belum bisa mengunjungi TSI untuk merasakan kegembiraan atas kedatangan bayi panda langka ini.

Selama pengamatan di lokasi, Rio menjalani pemeriksaan rutin di dalam kandang kaca yang suhunya dikontrol. Dua tim medis, mengenakan seragam hijau lengkap dengan masker dan penutup kepala, memeriksa dan membelai bulu Rio. Bulu yang semakin tebal menampilkan pola hitam-putih khas panda raksasa, dengan sentuhan warna merah muda yang halus. Beberapa boneka panda ditempatkan di dekatnya untuk menemaninya.

Dr. Bongot Huaso Mulia dari Departemen Life Sciences TSI menjelaskan kondisi kesehatan Rio. Ia menyatakan bahwa kondisi Rio sangat baik dan tingkat pertumbuhannya melebihi rata-rata. “Target berat badannya pada hari ke-150 itu 10,8 kg, dan hari ini di usia ke-170 hari sudah mencapai 11,5 kg. Dia membutuhkan minimal pertumbuhan 50 gram per hari, dan Rio sudah jauh melebihi target tersebut,” jelas Bongot. Pemeriksaan kesehatan yang tadinya dilakukan setiap 5 hari sekali kini dilonggarkan menjadi 10 hari sekali seiring dengan fisiknya yang semakin kuat.

Drh. Bongot juga menceritakan tingkah laku Rio yang semakin aktif. Matanya sudah terbuka sejak usia dua bulan, dan pada bulan April 2026, ia sudah mulai belajar berjalan. Uniknya, latihan fisik pertamanya bukanlah memanjat pohon, melainkan memanjat tubuh sang induk, Hu Chun. “Mamanya itu ikhlas sekali sepertinya, mama yang baik. Hu Chun selalu mendampingi kalau Rio sedang naik-naik, dijaga terus jangan sampai ada apa-apa,” cerita Bongot.

Ketika Rio mencapai usia 80 hari, ia mengalami perubahan tidak biasa: giginya mulai tumbuh. Seperti balita yang sedang tumbuh gigi atau anak anjing yang bermain-main, Rio merasakan rasa gatal dan mencari benda untuk dikunyah. Tim medis menanggapi dengan memberinya rebung, yang dikenal karena kelembutannya, keamanannya, dan mudah dicerna.

Walaupun Rio mulai menunjukkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam lingkungan sosial, TSI masih menerapkan pelatihan bertahap. Panda secara alami pemalu, sehingga pendekatan pelatihan harus hati-hati. Saat ini, tim medis fokus mengamati perkembangan pendengaran dan penglihatan Rio, yang tampaknya membutuhkan waktu hingga usia 6 hingga 7 bulan untuk matang sepenuhnya. Lingkungan di sekitar kandang Rio dilengkapi dengan peringatan “Dilarang Bising” yang ketat. Panda menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap suara keras, sehingga fase transisi ini penting untuk membantu Rio beradaptasi dengan suara manusia.

Para pengunjung yang menantikan tingkah lucu Satrio Wiratama dapat bersiap. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, anggota baru yang menawan ini akan menyambut pengunjung pada akhir bulan Juni. Kelahiran Rio menandai pencapaian penting bagi TSI, memperlihatkan komitmen kebun binatang ini terhadap konservasi dan pemeliharaan spesies langka. Dengan pertumbuhan yang melebihi target, kesehatan yang baik, dan perilaku yang aktif, Rio menunjukkan potensi menjadi simbol penting bagi upaya pelestarian panda raksasa di Indonesia.

TSI Cisaruapanda raksasaSatrio Wiratamakelahiran pandakonservasikebun binatangIndonesia

Komentar

Memuat komentar...