Tugu Soeharto di Bendan Duwur: Monumen Sakral di Sungai
Gambar atau konten salah?
Tugu Soeharto berdiri di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang. Monumen ini terletak tepat di pertemuan dua aliran sungai, Kali Kreo dan Kali Garang, yang sering disebut sebagai “tempuran.”
Monumen setinggi kurang lebih 8 meter menjulang di tengah semak belukar. Meskipun jarang dilalui warga, aliran sungai di sekitarnya masih sering dipakai pemancing dan anak-anak bermain air. Di bagian bawah tugu tertulis tanggal pendirian: 30 September 1965/1 Oktober 1965. Tanggal tersebut juga diiringi huruf Aksara Jawa “Sa Sa Sa,” yang artinya “sabar, sareh, saleh.”
Sareh sendiri berarti tidak gegabah atau hati‑hati. Menurut Dr. Tsabit Azinar Ahmad, dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang, tugu ini dikatakan dibangun oleh tokoh spiritual yang dekat dengan Presiden ke‑2 RI, Soeharto, saat masih bertugas di Kodam IV Diponegoro. “Katanya didirikan oleh tokoh spiritual yang dekat dengan Pak Harto. Tetapi ini juga masih berdasarkan sumber lisan,” ujarnya.
Selain kisah sejarah, lokasi tugu juga dianggap sakral oleh sebagian masyarakat Jawa. “Dalam pemahaman orang Jawa, sungai merupakan tempat pembersihan. Apalagi tempuran, yaitu titik pertemuan dua aliran sungai. Nilai sakralnya menjadi lebih besar,” jelas Tsabit. Ia menambahkan bahwa ritual yang masih dilakukan di sana merupakan bentuk merawat memori. “Kalau dilihat dari perspektif sejarah, ritual yang masih dilakukan di sana merupakan bentuk merawat memori. Orang masih mengingat nilai‑nilai budaya Jawa sekaligus cerita yang melekat pada tempat itu,” ujarnya. Ia juga menyarankan tugu ini dapat dipertimbangkan menjadi cagar budaya, karena memiliki nilai penting bagi sejarah dan budaya masyarakat.
Ketika ditanyakan apakah tanggal pendirian tugu berhubungan dengan peristiwa G30S PKI, Tsabit bersikeras tidak ada kaitannya. “Saya kira kok tidak ada kaitannya ya. Saya belum riset tentang itu,” jawabnya.
Warga sekitar, seperti Supriyanto berusia 56 tahun, mengaku bahwa tugu sudah dikenal keramat sejak lama, terutama pada malam 1 suro. Ia menjelaskan kegiatan klenik yang biasa dilakukan. “Biasanya paling jam 00.00 WIB kungkum di bawah, cari tempat yang agak gelap, sama bawa kembang, jamas keris, cari wangsit. Tergantung orangnya ingin apa, misal ingin naik pangkat, rumah tangganya tentram,” kata Supriyanto.
Supriyanto juga pernah melihat hal‑hal gaib di sungai tersebut. “Di pojokan tembok itu ada buaya putih, terus ada buto. Sempat pas itu terlalu meriah, ada pesta, wayang kulit. Mungkin karena terlalu bising, yang gaib ndak terima,” ungkapnya. Ia melanjutkan, “Jadi ada yang kesurupan, kesannya kayak disuruh berhenti. Kembang apinya ndak boleh, soalnya terlalu ramai. Dia (hal gaib) ndak senang.”
Foto tugu diambil pada 12 Juni 2026, menampilkan monumen yang masih berdiri kokoh di tengah alam. Meskipun cerita mistis sering mengiringi tugu ini, warga tidak lagi merasa takut. Mereka sudah terbiasa mendengar kisah‑kisi tersebut dan menganggapnya bagian dari kehidupan sehari‑hari.
Monumen ini menjadi contoh bagaimana sejarah, budaya, dan kepercayaan lokal dapat bersatu di satu tempat. Tugu Soeharto tidak hanya menyimpan cerita sejarah, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat memori dan menjaga nilai budaya. Dengan demikian, tugu ini tetap relevan bagi generasi sekarang dan akan datang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pemerintah Solo Koordinasi Kirab Pusaka Malam 1 Suro
Niat Puasa Muharam 1-10: Cara Membaca dan Keutamaan Asyura
Batu Lingga Prasasti Klaten Dipindahkan ke Museum Klaten
Empat Anggota Keluarga Meninggal Akibat Keracunan CO di Tenda Posong
Korban Tak Terkenali Tewas di Kebun Dukuh Kerun Baru
MBG Losari Brebes Pakai Magot, Buang Sampah Makanan 2 Ton
Berita Terbaru
Tugu Soeharto di Bendan Duwur: Monumen Sakral di Sungai
Ritual Ruwatan dan Warangan Lasem Menyambut Malam 1 Suro
Portugal vs Kongo: Pertandingan Menegangkan di Houston 2026
Belgia Imbang 1-1 Mesir, Awal Grup G Piala Dunia 2026
Maaf, bisakah Anda memberikan topik berita yang ingin dibuat judulnya?
Jaksa Tuntut Dr Ratna Setia Asih, IDAI Menolak Penuntutannya
Badung Wajib Atur Sampah Desa Adat 124, Semua Pihak Terikat
Uruguay dan Arab Saudi Imbang 1‑1, Grup H Tetap Kompetitif
Desil PKH/BPNT 2026: Fokus 1‑4, Dana Lebih ke Keluarga Rendah
