Ubud: Dari Desa Kecil Menjadi Surga Film & Seni Bali

Ika P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 70 dibaca
Bisik.id
Ubud: Dari Desa Kecil Menjadi Surga Film & Seni Bali

Gambar atau konten salah?

Sejak awal 1920-an, Ubud berubah dari desa kecil menjadi tempat yang sering disebut sebagai surga tropis. Seorang penulis dan turis Barat, yang dikenal menciptakan citra Bali sebagai destinasi eksotis, menulis bahwa “Jika keadaan menjadi yang terburuk, kita akan pergi ke Bali.”

Ubud menjadi lokasi syuting film bisu terakhir yang pernah diproduksi di Hollywood. Film “Legong: Dance of the Virgins” disutradarai oleh Henry de la Falaise dan diproduksi di Ubud antara 01 Mei 1933 dan 31 Agustus 1933. Semua pemeran dalam film tersebut berasal dari kalangan Bali. Film ini awalnya hanya diputar di luar Amerika Serikat karena kekhawatiran mengenai ketelanjangan wanita dalam adegan dan potensi kontroversi. Namun, di Amerika Serikat film ini sukses, diputar selama sepuluh minggu di New York World Theater pada 01 Januari 1935.

Pada 01 Januari 1927, Walter Spies, seniman Jerman kelahiran Moskow, tiba di Ubud. Ia terpesona dengan keindahan dan potensi kreatif kota ini, sehingga menjadikan Ubud sebagai rumahnya selama 14 tahun berikutnya. Spies berperan sebagai jembatan budaya antara Bali dan Barat. Rumahnya menjadi tempat berkumpulnya antropolog kelas dunia seperti Margaret Mead dan Gregory Bateson, komposer Colin McPhee dan istrinya, Jane Belo, serta ahli etnografi tari Beryl de Zoete.

Pariwisata Bali mulai berkembang pada awal 1920-an ketika Royal Dutch Steam Packet Company menambahkan pulau ini ke rutenya. Pada 01 Januari 1930, terdapat sekitar seratus pengunjung per tahun; satu dekade kemudian jumlah tersebut naik menjadi 250. Kapal-kapal berhenti di lepas pantai Singaraja, lalu penumpang diangkut ke darat menggunakan perahu kecil. Sebagian besar turis kemudian menjelajahi pulau dengan mobil menuju Denpasar, tempat mereka menginap di Bali Hotel yang mewah, yang dibuka pada 01 Januari 1927.

Sejak 01 Januari 1930, Ubud yang dulu menjadi surga bagi backpacker berpenampilan lusuh, pencari hal-hal kosmik, dan seniman, kini berubah menjadi tempat populer bagi sastrawan, kaum elit, kolektor seni, dan penikmat seni. Kota ini terus menjadi surga artistik dan spiritual bagi selebritis dari seluruh dunia dan magnet bagi pembuat film masa kini, termasuk film “Eat, Pray, Love” yang dirilis pada 13 Agustus 2010.

Pada 01 Januari 1952, pelukis Spanyol‑Filipina Antonio Blanco menetap di Ubud. Ia jatuh cinta pada seorang penari lokal dan mengubah rumahnya menjadi museum terkenal. Pada November 1990, Mick Jagger dan Jerry Hall melangsungkan pernikahan adat Hindu Bali yang ikonik di kawasan Ubud. Michael Jackson mengunjungi rumah pelukis Antonio Blanco di Ubud pada akhir 1980-an atau awal 1990‑1990-an.

Ubud tetap menjadi tempat yang menawan bagi para seniman dan penikmat seni. Kota ini telah lama dikenal sebagai pusat budaya, namun tetap mempertahankan daya tariknya bagi para pengunjung modern. Keberadaan Ubud sebagai destinasi wisata dan seni menunjukkan betapa pentingnya perpaduan antara tradisi dan modernitas dalam membentuk identitas sebuah tempat.

UbudBalifilmseniwisatabudayaWalter Spies

Komentar

Memuat komentar...