UMKM Hadapi Biaya Naik, Buka Pintu Pasar Internasional
Gambar atau konten salah?
Di tengah tekanan kenaikan biaya produksi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia harus menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif. Tantangan ini memaksa mereka mencari peluang baru, termasuk membuka pasar internasional.
Diskusi tersebut berlangsung dalam sebuah webinar yang dihadiri lebih dari 500 pelaku UMKM dari berbagai daerah. Para peserta mempelajari cara mempertahankan daya saing di tengah kenaikan biaya dan dinamika pasar yang terus berubah.
Rudi Ariffianto, VP CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero), menegaskan bahwa UMKM saat ini sedang diuji daya tahannya. “UMKM saat ini sedang diuji daya tahannya. Namun, indikator ekonomi kita menunjukkan kondisi yang cukup baik. Ketahanan yang kuat harus diiringi dengan inovasi dan kegigihan agar UMKM mampu membuka peluang pasar baru dan terus meningkatkan daya saingnya,” ujar Rudi dalam keterangan tertulis, 26 April 2026.
Salah satu strategi utama yang dibahas adalah memperluas akses pasar, termasuk ke pasar internasional. Nilamsari Sahadewa, founder Kebab Turki Baba Rafi, menekankan pentingnya fondasi bisnis yang kuat untuk tumbuh dan bertahan. Ia berbagi kisahnya memulai usaha dari skala kecil hingga berkembang ke berbagai negara. Menurutnya, pelaku UMKM perlu memperkuat budaya kerja, kesiapan sumber daya, serta strategi membangun merek agar mampu menghadapi pertumbuhan usaha dan situasi krisis.
Jaringan Kebab Turki Baba Rafi kini telah memiliki lebih dari 1.600 outlet di 10 negara. Data pembinaan UMKM juga menunjukkan peningkatan aktivitas pendampingan. Sepanjang 1 Januari 2026 – 31 Maret 2026, tercatat ada 1.323 sertifikasi, 267 pelatihan, serta 179 pameran lokal yang difasilitasi bagi UMKM binaan.
Muhammad Baron, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menekankan perlunya pendampingan agar pelaku usaha lebih adaptif terhadap perubahan pasar. “Pertamina berkomitmen untuk terus mendampingi UMKM agar semakin tangguh, adaptif, dan berdaya saing, sehingga mampu tumbuh dan menembus pasar yang lebih luas, termasuk global,” ujarnya.
Efisiensi juga menjadi fokus penting di tengah kenaikan biaya. Penggunaan energi yang lebih hemat diharapkan dapat menekan beban produksi sekaligus meningkatkan daya saing. Pelaku UMKM kini tidak hanya dituntut bertahan, tetapi juga mampu menyesuaikan strategi agar tetap tumbuh di tengah tekanan biaya dan perubahan kondisi pasar.
Secara keseluruhan, upaya pelatihan, sertifikasi, dan pendampingan oleh lembaga seperti Pertamina, bersama dengan contoh sukses ekspansi internasional, memberi sinyal bahwa UMKM dapat tetap relevan dan berkembang meski menghadapi tantangan ekonomi global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
AS Sanksi BitBank, Bursa Kripto Pendanaan IRGC
Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu, Petani Kebanjiran Untung
Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu, Warteg Kelimpungan
Gibran Sesali Ucapan Oknum SPPG yang Olok Korban Keracunan MBG
Transmart Full Day Sale Diskon 50%+20%
Prabowo: Ribuan Kapal Nelayan Dibangun Tahun Depan
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
