Usia Masuk SD Turun, Psikolog Ingatkan Kesiapan Anak
Gambar atau konten salah?
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja mengeluarkan peraturan baru yang mengubah batas usia anak masuk sekolah dasar (SD). Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 3 Tahun 2025, usia minimal untuk mendaftar SD yang sebelumnya tujuh tahun kini diturunkan menjadi 5–6 tahun. Kebijakan ini langsung memicu beragam tanggapan dari berbagai kalangan, terutama para psikolog dan akademisi.
Prof Dr Rose Mini Agoes Salim M Psi, psikolog dan akademisi dari Universitas Indonesia (UI), memberikan pandangannya tentang usia ideal anak masuk SD. Menurutnya, kematangan anak untuk belajar memang bisa dimulai sejak usia 5–6 tahun, tetapi rata-rata usia matang seorang anak siap belajar tetap berada di angka tujuh tahun. "Kalau stimulasi bagus, anak pasti matang ke sekolah. Kenapa usia 7 tahun matang? Karena itu diambil pada usia kematangan rata-rata," jelasnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemungkinan anak lebih awal siap, standar umum tetap pada usia yang lebih matang.
Pendapat berbeda disampaikan oleh Afia Fitriana, Guru Besar di Fakultas Psikologi UNS. Ia menekankan bahwa standar anak masuk sekolah seharusnya tidak semata-mata didasarkan pada usia, melainkan pada kesiapan belajar. Kesiapan ini mencakup berbagai aspek perkembangan, yaitu fisik, mental, sosial, dan emosional. "Aspek-aspek perkembangan umum yang perlu diperhatikan, termasuk perkembangan belajar, perkembangan gerak, perkembangan bicara, perkembangan diri, dan perkembangan kontrol tangan," ujarnya. Dengan kata lain, usia hanyalah salah satu faktor, bukan penentu utama.
Untuk membantu orang tua menilai apakah anak mereka sudah siap masuk SD, Afia memberikan sejumlah indikator yang bisa diamati. Indikator-indikator ini tidak rumit dan bisa dilihat dalam keseharian anak, terutama saat mereka masih di Taman Kanak-kanak (TK). Berikut adalah beberapa di antaranya:
- Cara anak mengatur diri saat belajar. Indikator pertama adalah bagaimana anak mampu mengatur dirinya sendiri selama proses belajar. Misalnya, ketika anak sedang asyik bermain saat istirahat dan harus berhenti untuk melanjutkan belajar. "Jika anak tersebut dapat mengendalikan keinginannya untuk terus bermain, sambil cepat beradaptasi dengan lingkungan kelas, maka anak tersebut sudah siap," jelas Afia. Ini menunjukkan kemampuan pengendalian diri dan adaptasi.
- Perkembangan gerak anak. Orang tua perlu memperhatikan kemampuan motorik kasar anak, seperti gerakan lengan yang seimbang, kemampuan melompat, dan kendali saat berlari. Gerakan yang terkoordinasi menandakan kematangan fisik yang baik.
- Perkembangan bicara. Indikator ini bisa dilihat dari cara anak memahami perintah atau arahan yang diberikan, serta bagaimana ia merespons secara verbal. Anak yang siap sekolah biasanya mampu mengikuti instruksi sederhana dan merespons dengan jelas.
- Perkembangan diri. Kesiapan sekolah juga tercermin dari kepercayaan diri anak dan kemampuannya mengelola diri sendiri. Anak yang percaya diri dan bisa mengurus kebutuhan dasarnya sendiri cenderung lebih siap menghadapi lingkungan sekolah.
Selain keempat indikator di atas, Afia juga menegaskan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam mempersiapkan anak sebelum masuk SD. Persiapan itu mencakup aspek kualitas pembelajaran, motivasi belajar, serta aspek sosio-emosional. Artinya, bukan hanya kesiapan akademik, tetapi juga kesiapan mental dan sosial anak perlu diperhatikan.
Secara keseluruhan, kebijakan penurunan usia masuk SD ini membuka perdebatan antara pendekatan berbasis usia dan pendekatan berbasis kesiapan individu. Di satu sisi, ada keyakinan bahwa anak usia 5–6 tahun sudah bisa belajar jika mendapat stimulasi yang baik. Di sisi lain, para ahli mengingatkan bahwa rata-rata anak mencapai kematangan optimal pada usia tujuh tahun, dan kesiapan belajar seharusnya menjadi patokan utama, bukan angka usia. Bagi orang tua, yang terbaik adalah tidak terburu-buru mendaftarkan anak, melainkan benar-benar mengamati perkembangan mereka sesuai indikator yang ada.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Lima Lokasi SIM Keliling Medan untuk Perpanjangan SIM
Ojol Tunarungu Kehilangan Motor, Dapat Bantuan dari Anggota DPR
Cuaca Sumut Sepekan: Panas Siang, Hujan Deras Malam
Bobby Nasution: ASN Jangan Dilema Pilih Melayani Rakyat atau Atasan
Google Rilis Fitur Anti-Maling untuk Android 15
Tekanan Mental Hak Asuh Anak, Kesehatan Ruben Onsu Menurun
Berita Terbaru
Polres Banyuasin Juara Turnamen Esport Kapolda Sumsel
Orang Tua Ber-KK Denpasar Lebih Pilih SD Swasta, Jalur Afirmasi Sepi
Portugal vs Spanyol: Duel Sengit di 16 Besar Piala Dunia
Kenali 8 Kode Pelat Nomor Jawa Timur: AG hingga W
FIFA Tangguhkan Kartu Merah Balogun, Belgia Protes Keras
Uya Kuya Dorong Magang Nasional untuk Lulusan SMA dan SMK
Bocah 8 Tahun Ditemukan Tewas di Sungai Tembesi
