Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$ 434,7 Miliar di 2026
Gambar atau konten salah?
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$ 434,7 miliar atau setara dengan Rp 7.346 triliun dengan kurs Rp 16.900. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 1,7% dibandingkan tahun lalu.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa kenaikan ULN ini terutama disebabkan oleh sektor publik. "Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya," ujarnya dalam keterangan tertulis yang dirilis pada 17 Maret 2026.
Lebih lanjut, Denny menjelaskan bahwa ULN pemerintah pada Januari 2026 tercatat sebesar US$ 216,3 miliar, dengan pertumbuhan 5,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung program dan proyek pemerintah, serta aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional. "Kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap terjaga meskipun ada ketidakpastian di pasar keuangan global," tambahnya.
ULN pemerintah dikelola dengan cermat, terukur, dan akuntabel, serta terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas. Hal ini bertujuan menjaga keberlanjutan fiskal dan memperkuat perekonomian nasional.
Dalam penggunaannya, ULN pemerintah didistribusikan ke beberapa sektor ekonomi, antara lain:
- Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial: 22% dari total ULN pemerintah
- Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib: 20,3%
- Jasa Pendidikan: 16,2%
- Konstruksi: 11,6%
- Transportasi dan Pergudangan: 8,5%
Utang jangka panjang mendominasi posisi ini, mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah. Sementara itu, ULN swasta tercatat mengalami penurunan menjadi US$ 193 miliar pada Januari 2026, dengan kontraksi 0,7% dibandingkan tahun lalu, lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,2%.
Menurut Denny, penurunan ini disebabkan oleh ULN perusahaan non-keuangan. Sektor ekonomi yang menyumbang ULN swasta terbesar terdiri dari:
- Sektor Industri Pengolahan
- Jasa Keuangan dan Asuransi
- Pengadaan Listrik dan Gas
- Pertambangan dan Penggalian
Secara keseluruhan, ULN swasta masih didominasi oleh utang jangka panjang yang mencapai 76,2% dari total ULN swasta. Dengan kondisi ini, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun menjadi 29,6% pada Januari 2026, di mana ULN jangka panjang menyumbang 85,6% dari total ULN.
BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN agar strukturnya tetap sehat. Peran ULN akan dioptimalkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dengan informasi tersebut, permasalahan mengenai utang luar negeri Indonesia menjadi penting untuk diperhatikan dalam konteks perekonomian global yang terus berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
