Varian COVID-19 Baru Cicada: Risiko Lebih Tinggi pada Anak

Kartika D. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 105 dibaca
Bisik.id
Varian COVID-19 Baru Cicada: Risiko Lebih Tinggi pada Anak

Gambar atau konten salah?

Varian baru COVID-19, Cicada atau BA.3.2, diperkirakan dapat menjadi yang dominan, khususnya di Inggris. Para ilmuwan menegaskan bahwa varian ini berpotensi menyerang anak-anak lebih sering.

Varian Cicada memiliki sekitar 75 mutasi pada protein spike, yang memungkinkan virus masuk ke sel tubuh dengan lebih mudah. Mutasi ini berkontribusi pada kemampuan penyebaran yang lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya.

Ini berbeda dari virus (COVID-19) yang telah kita hadapi selama dua tahun terakhir,” kata Profesor Ravi Gupta dari University of Cambridge, dikutip dari Mirror UK.

Prof Gupta menegaskan bahwa varian ini sudah terdeteksi di Inggris dan jumlahnya terus meningkat. Ia memprediksi BA.3.2 dapat menjadi varian dominan di negara tersebut. “BA.3.2 sedang menjalani pengujian saat ini. Kami telah menelitinya dalam hal penghindaran kekebalan dan kekebalan yang kita semua miliki,” tambahnya.

Varian Cicada merupakan turunan dari varian Omicron yang pertama kali muncul pada 2021. Virus ini sempat terdeteksi di Afrika Selatan pada 2024 sebelum menghilang, lalu kembali menyebar secara global.

Para ahli berpendapat bahwa mutasi besar ini mungkin terjadi karena virus berkembang di tubuh satu pasien dengan sistem imun lemah dalam waktu lama, seperti pada penderita HIV atau kanker.

Hingga saat ini, varian Cicada telah terdeteksi di sekitar 25 negara dan juga ditemukan dalam sistem air limbah di berbagai wilayah di Amerika Serikat.

Menurut Prof Gupta, ada indikasi varian ini lebih sering menginfeksi anak-anak, terutama yang belum memiliki kekebalan terhadap COVID-19. “Beberapa orang telah melakukan analisis tentang hal ini yang menunjukkan mungkin lebih umum terjadi pada anak-anak kecil,” ujarnya. “Anak-anak sering terinfeksi, tetapi ini mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa mereka belum pernah mendapatkan vaksin COVID-19,” lanjutnya.

Gejala varian Cicada tidak jauh berbeda dari varian Corona lainnya. Beberapa gejala yang sering muncul meliputi:

  • Sakit tenggorokan
  • Batuk
  • Hidung tersumbat
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Demam

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagian pasien juga mengalami gangguan pencernaan seperti mual dan diare. Meskipun penyebarannya lebih cepat, belum ada bukti bahwa varian ini menyebabkan penyakit lebih parah. Namun, peningkatan jumlah kasus tetap berpotensi membuat angka pasien berat ikut naik.

Prof Gupta menegaskan bahwa kelompok rentan seperti lansia dan orang dengan sistem imun lemah tetap berisiko tinggi. Meski begitu, vaksin masih memberikan perlindungan terhadap gejala berat. “Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan lansia berada pada risiko terbesar, tetapi vaksin seharusnya dapat mencegah beberapa komplikasi paling parah pada sebagian besar orang,” jelasnya.

Data dari CDC menunjukkan, pada periode 1 November 2025 hingga 1 Januari 2026, varian BA.3.2 menyumbang sekitar 30 persen kasus COVID-19 yang ditemukan di Denmark, Jerman, dan Belanda. Meski demikian, belum terlihat lonjakan total kasus dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Varian Cicada menambah kompleksitas pandemi, menuntut perhatian terus menerus terhadap perkembangan mutasi dan efektivitas vaksin. Kesiapsiagaan dan pemantauan yang cermat menjadi kunci untuk mengatasi potensi penyebaran yang lebih luas, terutama di kalangan anak-anak dan kelompok rentan lainnya.

Varian CicadaBA.3.2mutasi spikeanak-anakvaksinCDCsistem imun lemah

Komentar

Memuat komentar...