Video BanBan Running Club di Stadion Teladan Sebelum Viral

Rudi H. · 5 min baca · 1 bulan lalu · 91 dibaca
Bisik.id
Video BanBan Running Club di Stadion Teladan Sebelum Viral

Gambar atau konten salah?

Di Medan, sebuah video yang menampilkan sekelompok orang berlari di lapangan Stadion Teladan menjadi viral di media sosial. Video itu menunjukkan pelari yang juga duduk di tribun penonton. Mereka menambahkan caption yang mendukung kegiatan tersebut. Video ini kemudian banyak dibagikan ulang oleh akun-akun lain, sementara akun komunitas lari tersebut menghapus unggahan dan menutup akun media sosialnya.

Komunitas lari tersebut mengklaim bahwa mereka diundang untuk merasakan lari di lapangan tersebut. Dalam unggahan sebelum dihapus, tertulis: Sebuah kehormatan bagi kami menjadi komunitas lari pertama yang diundang merasakan atmosfer stadion sebelum turnamen dimulai. Unggahan itu menandai kehadiran mereka di lapangan yang belum selesai direvitalisasi.

Gubernur Sumut, Bobby Nasution, segera mengomentari video itu. Ia menulis di media sosial: “Wow, ampun sekali lihatnya.” Setelah dimintai klarifikasi, Bobby menegaskan bahwa komunitas tersebut tidak sepenuhnya salah. Ia mengatakan bahwa mereka memang diundang oleh panitia lokal, bukan panitia AFF. “Kita sudah cek, kita tahunya dari postingan kemarin. Kita cross-check, bukan mau membela, tidak 100% salah dari komunitas larinya. Jadi kalau boleh, antusiasme semua bidang olahraga ada yang pecinta lari, bola jangan jadikan itu sebagai permusuhan dan saling serang lagi di media sosial,” ujarnya pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Bobby menambahkan bahwa undangan tersebut berasal dari panitia lokal yang mengurus lapangan di SUSU dan Teladan. Ia menegaskan bahwa panitia lokal bertugas memberi informasi tentang perkembangan Stadion Teladan. “Ada undangan dari panitia lokal tapi bukan dari panitia AFF. Panitia lokal yang mengundang yang mengurusin tentang lapangan, baik yang ada di SUSU dan Teladan. Panitia lokal yang kemarin mengundang niatnya untuk menginformasikan update perkembangan tentang Teladan,” tambahnya.

Menurut Bobby, pelari yang mengunggah video tersebut bersikap terlalu cepat. Ia menyebutnya “kebablasan” akibat miskomunikasi. “Nah, mungkin kebablasan saja karena mereka pelari mungkin jadi buat konten untuk lari-lari kecil. Nah, itu memang miss-nya di situ, jadi kalau saya sampaikan, jangan disalahkan 100% ke komunitas larinya tetapi ada salah juga dari panitia lokal,” jelasnya. Ia juga mengatakan sudah mengetahui siapa yang mengundang komunitas pelari tersebut dan meminta panitia lokal untuk memberikan sanksi. “Sudah kita tahu orangnya, saya juga sudah minta kepada panitia lokal untuk memberikan sanksi. Kalau misalnya sudah mau mulai hari Senin, jangan ada seperti itu lagi. Kalau seperti itu lagi, bagus yang begitu keluarkan dari kepanitiaan, itu yang sudah saya sampaikan,” pungkasnya.

Wali Kota Medan, Rico Waas, turut menyatakan pendapatnya. Ia menegaskan bahwa ia tidak pernah memberikan izin kepada komunitas lari tersebut. “Kami menyayangkan kenapa hal itu bisa terjadi. Kami paham mungkin ada euforia masyarakat melihat kondisi Stadion Teladan saat ini. Namun sebaiknya ada koordinasi terlebih dahulu dengan Pemko Medan,” tulis Rico pada Jumat, 29 Mei 2026. Rico menambahkan bahwa Pemkot Medan tidak pernah menerima permohonan izin penggunaan stadion dari pihak komunitas pelari. “Tidak ada komunikasi atau izin apapun dari pemko,” tegasnya.

Rico juga mengumumkan bahwa ia telah meminta jajaran kepolisian dan pemerintah kota untuk menelusuri pihak yang memberi akses masuk ke stadion. “Saya sudah minta ke jajaran untuk mencari tau siapa yang mengizinkan mereka masuk ke dalam stadion,” ujarnya. Ia berharap pihak berwenang dapat mengklarifikasi siapa yang sebenarnya mengizinkan pelari masuk ke lapangan.

BanBan Running Club, komunitas lari yang terlibat, akhirnya mengeluarkan klarifikasi melalui akun media sosial mereka. Mereka mengaku diminta oleh panitia penyelenggara Piala AFF U-19 untuk membuat konten promosi di Stadion Teladan Medan. Dalam unggahan tersebut, mereka menulis: “Pada awalnya, kami diundang oleh pihak Panitia Penyelenggara Piala AFF U-19 2026 pada tanggal 16 Mei 2026 untuk mempromosikan dan menggaungkan Stadion Teladan Medan yang baru dibangun, yang kemudian pada tanggal 26 Mei 2026 pihak BanBan Running Club melakukan survei ke Stadion Teladan atas undangan Panitia dengan hanya didampingi oleh Security pengelola Stadion, tanpa didampingi oleh Panitia dan tidak diberi arahan dan panduan.” Unggahan itu juga menyebutkan bahwa video yang viral diambil pada Rabu, 27 Mei 2026 sebagai bagian dari promosi. Komunitas lari tersebut menegaskan tidak bermaksud membuat konten yang menimbulkan kegaduhan.

Setelah mendapat kritik, BanBan Running Club memohon maaf. Dalam unggahan tersebut, mereka menulis: “Atas komunitas BanBan Running Club, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena konten yang kami upload di media sosial kami menimbulkan polemik yang begitu ramai di media sosial. Dari hati yang paling dalam, BanBan Running Club tidak pernah bermaksud untuk membuat konten yang menimbulkan kegaduhan,” ujarnya. “Namun, apabila terhadap aktivitas kami tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan kekhawatiran terhadap seluruh masyarakat Kota Medan terutama pecinta sepak bola, maka melalui Pernyataan Klarifikasi terbuka ini kami dengan tulus memohon maaf sebesar-besarnya karena kegiatan ini murni kami lakukan atas dasar antusiasme terhadap Stadion Teladan Medan yang baru tanpa memiliki niat untuk menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di tengah masyarakat,” tambahnya.

Stadion Teladan masih dalam tahap penyelesaian dan perawatan intensif menjelang turnamen AFF U-19 2026. Kejadian ini menyoroti pentingnya koordinasi antara komunitas olahraga, panitia lokal, dan pemerintah kota. Meskipun semua pihak berusaha menjaga keamanan dan integritas stadion, miskomunikasi dapat menimbulkan kontroversi yang tidak diinginkan.

Video promosi yang diunggah oleh BanBan Running Club menandai upaya mereka untuk mempromosikan stadion yang baru dibangun. Namun, tanpa arahan yang jelas dari panitia, tindakan tersebut dianggap tidak tepat. Gubernur Sumut menekankan bahwa sanksi harus diberikan kepada pihak yang mengundang pelari tanpa izin resmi. Sementara itu, Wali Kota Medan menegaskan bahwa tidak ada izin yang diberikan kepada komunitas tersebut.

Reaksi publik di media sosial menunjukkan ketidakpuasan terhadap penggunaan stadion yang belum selesai. Banyak netizen menilai bahwa tindakan komunitas lari tersebut tidak menghormati proses revitalisasi stadion. Di sisi lain, beberapa netizen memuji antusiasme BanBan Running Club terhadap olahraga lari dan dukungan mereka untuk promosi stadion.

Dalam situasi ini, semua pihak tampak berusaha mencari solusi. Gubernur Sumut menegaskan bahwa koordinasi lebih lanjut diperlukan, dan Wali Kota Medan menuntut klarifikasi lebih lanjut dari pihak yang memberi akses. BanBan Running Club mengakui kesalahan dan memohon maaf, menegaskan bahwa tujuan mereka adalah antusiasme terhadap stadion, bukan menimbulkan kegaduhan.

Keputusan akhir mengenai sanksi atau tindakan lebih lanjut masih belum diumumkan. Namun, kejadian ini menjadi pelajaran bagi komunitas olahraga dan panitia penyelenggara tentang pentingnya komunikasi yang jelas dan izin resmi sebelum melakukan kegiatan di fasilitas publik. Tanpa persetujuan yang tepat, bahkan niat baik dapat berubah menjadi kontroversi yang menambah beban bagi semua pihak yang terlibat.

Video hasil drawing Piala AFF U-19, yang menampilkan Garuda Muda memegang segel dengan Vietnam, juga menjadi bagian dari diskusi online. Meskipun tidak langsung terkait dengan kontroversi stadion, video tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap turnamen yang akan berlangsung di Medan.

Dengan semua peristiwa ini, masyarakat Medan diingatkan akan pentingnya menghormati proses pembangunan dan koordinasi antar lembaga. Stadion Teladan, yang masih dalam tahap penyelesaian, harus diperlakukan dengan hati-hati agar dapat menjadi tempat yang aman dan teratur untuk acara olahraga di masa depan.

Stadion TeladanBanBan Running ClubGubernur SumutWali Kota MedanPiala AFF U-19kontroversi videokoordinasi komunitas

Komentar

Memuat komentar...