Video Viral: Turis Maldives Klaim Turun 90% – Data 20%
Gambar atau konten salah?
Seorang turis menayangkan video perjalanan di Maldives yang menimbulkan perdebatan luas. Video tersebut dibuat oleh seorang influencer perjalanan asal Swedia bernama Filippa. Ia mengungkapkan bahwa Maldives tampak sepi pengunjung karena konflik di Timur Tengah.
Di klipnya, turis itu terlihat berbicara dengan seorang penduduk lokal di Dhiffushi, sebuah pulau kecil yang tenang di Maldives. Penduduk setempat menegaskan bahwa pariwisata di pulau ini telah turun hingga 90 %. Ia juga menyebutkan bahwa biasanya pulau ini penuh pada musim puncak, namun pada saat itu hampir tidak ada turis di sekitar. Kutipan ini pertama kali muncul di media pada 16 April 2026.
Video tersebut, yang diunggah sekitar dua minggu lalu, telah ditonton hampir 2,8 juta kali. Popularitasnya memicu spekulasi tentang apakah negara Samudra Hindia ini sedang mengalami krisis pariwisata besar. Namun, seberapa akurat klaim tersebut masih menjadi pertanyaan.
Maldives sangat bergantung pada pariwisata internasional. Konektivitasnya sangat terkait dengan jalur penerbangan global. Meskipun wisatawan dari beberapa kota besar di Asia dapat terbang langsung, sebagian besar pengunjung dari pasar jarak jauh—seperti Amerika Serikat, Eropa, Amerika Selatan, dan Australia—melalui pusat-pusat utama termasuk Dubai, Doha, Istanbul, Singapura, atau Kolombo.
Gangguan wilayah udara dan pengalihan rute penerbangan akibat konflik AS‑Israel‑Iran yang sedang berlangsung telah menurunkan sentimen perjalanan, terutama bagi pengunjung jarak jauh. Namun, klaim bahwa Maldives kosong 90 % tidak sepenuhnya akurat.
Menurut pembaruan pariwisata resmi, Maldives mencatat 653.513 kedatangan pengunjung pada 1 April 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 0,7 % dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. Perbandingan lebih detail antara tahun 2025 dan 2026 menunjukkan beberapa fluktuasi jangka pendek. Kedatangan wisatawan pada Januari dan Februari 2026 lebih tinggi daripada bulan yang sama tahun lalu, sedangkan Maret mencatat penurunan sekitar 20,7 % dari tahun ke tahun.
Pasar sumber utama saat ini meliputi Tiongkok, yang menyumbang 14,9 % dari kedatangan, diikuti oleh Rusia (12,5 %), Inggris (9,7 %), Italia (9 %), Jerman (6,9 %), dan India (4,2 %). Penurunan ini diyakini terkait dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya kekhawatiran tentang keselamatan penerbangan dan aksesibilitas rute. Meskipun demikian, penurunan 20 % masih jauh berbeda dari penurunan 90 % yang disebutkan dalam video viral tersebut.
Terlepas dari tantangan penerbangan yang terus berlanjut di seluruh Timur Tengah, maskapai penerbangan terus beradaptasi. Beberapa maskapai internasional telah meningkatkan atau menyesuaikan layanan ke Maldives dalam beberapa bulan terakhir untuk mempertahankan konektivitas. British Airways dan Edelweiss Air telah memperluas frekuensi penerbangan, sementara Air India dan Aeroflot menambahkan layanan tambahan menggunakan rute alternatif. Menurut Maldives Airports Company Limited dan Visit Maldives, langkah‑langkah ini mencerminkan upaya berkelanjutan untuk memastikan akses ke destinasi tersebut meskipun terjadi gangguan global.
Pada 22 March 2026, Menteri Pariwisata dan Lingkungan Maldives, Thoriq Ibrahim, mengakui perlambatan kedatangan wisatawan terkait situasi di Timur Tengah. Dalam konferensi pers, ia mencatat bahwa sekitar 30 % wisatawan ke Maldives melakukan perjalanan melalui maskapai penerbangan yang berbasis di wilayah tersebut. Menteri tersebut menegaskan bahwa pemerintah bekerja sama erat dengan operator maskapai dan pemangku kepentingan pariwisata untuk mengeksplorasi rute transit alternatif dan menstabilkan jumlah kedatangan.
Thoriq Ibrahim juga menyatakan bahwa para pejabat sedang mempertimbangkan cara untuk meningkatkan rata-rata lama tinggal bagi wisatawan. Saat ini, wisatawan menerima visa 30 hari saat kedatangan, tetapi langkah‑langkah sedang dibahas untuk menyederhanakan perpanjangan bagi wisatawan yang ingin tinggal lebih lama. Di antara proposal yang sedang dipertimbangkan adalah pengenalan Visa Pekerja Jarak Jauh dan Visa Pembuat Konten, yang bertujuan menarik pekerja digital nomaden dan kreator yang dapat membantu mempertahankan tingkat hunian penginapan, khususnya di pulau‑pulau lokal.
Inisiatif tambahan meliputi pengaturan dan promosi olahraga memancing dan memancing ikan besar, perluasan peluang menyelam teknis dan rekreasi, serta peningkatan fasilitas untuk kapal pesiar mewah dan kapal pesiar yang dapat dijadikan tempat tinggal. Pemerintah juga menjajaki pertumbuhan pariwisata halal, serta perjalanan yang berfokus pada pendidikan dan penelitian.
Meskipun pariwisata di Maldives mungkin menurun karena perang di Timur Tengah yang sedang berlangsung, angka resmi menunjukkan bahwa pariwisata belum runtuh, seperti yang diklaim dalam video viral tersebut. Data resmi menegaskan bahwa penurunan 20,7 % pada Maret 2026 masih jauh dari 90 % yang disebutkan. Kebijakan visa dan penyesuaian rute maskapai menunjukkan upaya negara untuk menanggulangi dampak konflik. Situasi ini menyoroti ketergantungan Maldives pada aliran wisatawan internasional dan pentingnya fleksibilitas dalam rute penerbangan serta kebijakan visa untuk menjaga stabilitas industri pariwisata.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin