Wabah Andes Hantavirus di MV Hondius Menewaskan 3 Penumpang
Gambar atau konten salah?
MV Hondius menjadi saksi wabah Andes hantavirus yang menewaskan tiga orang penumpang. Kapal pesiar tersebut menampung ribuan penumpang dan awak ketika virus ini mulai menyebar.
Hantavirus bukanlah penyakit tunggal melainkan keluarga virus yang terdiri dari lebih dari 20 spesies, menurut WHO. Kebanyakan spesies menular lewat hewan pengerat—tikus dan mencit—melalui urin dan kotoran yang mengering. Namun, satu strain, Andes hantavirus, dapat menular antar manusia, meski jarang.
Menurut menteri kesehatan Afrika Selatan, virus ini telah terkonfirmasi pada dua penumpang: seorang pria Inggris yang dirawat di rumah sakit di Johannesburg dan seorang wanita Belanda yang meninggal dunia. WHO mengira penyebaran di kapal pesiar terjadi lewat kontak sangat dekat antar penumpang serta paparan terhadap pengerat.
Wabah serupa pernah terjadi di Argentina dan Chile. Pada 31 Desember 2018, sebuah desa kecil bernama Epuyen menjadi pusat wabah. Seorang tamu pesta terinfeksi dan tidak sengaja menularkan virus ke 34 orang, menghasilkan 11 kematian. Data ini menegaskan betapa cepatnya virus ini dapat menyebar dalam kelompok.
Untuk menghentikan penyebaran, WHO menekankan pentingnya isolasi pasien, cuci tangan secara teratur, melacak dan memantau kontak erat, serta menerapkan pengendalian infeksi di semua fasilitas kesehatan.
Asal-usul wabah di MV Hondius masih belum jelas. Seorang suami istri asal Belanda yang meninggal dunia melakukan perjalanan ke Amerika Selatan pada awal April. Salah satu atau keduanya mungkin terinfeksi selama perjalanan tersebut. Kapal juga mengunjungi daerah satwa liar terpencil, meningkatkan kemungkinan kontak dengan virus.
Pengujian genetik lanjutan terhadap virus ini diharapkan dapat mengungkap bagaimana hantavirus pertama kali masuk ke kapal. Analisis tersebut dapat memetakan jalur penyebaran dan sumber aslinya.
Dr. Gustavo Palacios, seorang ahli mikrobiologi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York, mengungkapkan bahwa sebelum wabah di Epuyen, pengetahuan tentang strain Andes sangat terbatas. "Pengalaman menangani virus ini sangat terbatas," ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa, menurut perkiraan, kurang dari 300 kasus penularan manusia-ke-manusia telah tercatat sepanjang sejarah, dengan total sekitar 3.000 kasus Andes secara keseluruhan.
Menurut Palacios, periode penularan Andes tampak singkat—sekitar satu hari. "Seseorang berada pada tingkat penularan tertinggi tepat pada hari ketika mereka mulai mengalami demam," tambahnya. Ia menekankan bahwa virus dapat menular dengan relatif mudah selama periode tersebut, bahkan hanya melalui kontak jarak dekat singkat.
Wabah ini menyoroti betapa pentingnya tindakan pencegahan di lingkungan kapal pesiar. Meskipun kasusnya masih terbatas, potensi penyebaran cepat melalui kontak manusia dan hewan pengerat menuntut kewaspadaan tinggi. Upaya isolasi, kebersihan, dan pemantauan kontak tetap menjadi kunci untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
