Wabah Ebola Baru di Kongo: 246 Kasus Suspek, 65 Kematian
Gambar atau konten salah?
Kongo mengonfirmasi wabah Ebola baru di provinsi terpencil Ituri pada hari Jumat. Badan kesehatan masyarakat setempat melaporkan 246 kasus suspek dan 65 kematian yang tercatat sejauh ini.
Mayoritas kematian dan kasus suspek tercatat di zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara, menurut pernyataan Africa CDC. Dari 65 kematian tersebut, empat sudah terkonfirmasi lewat pemeriksaan laboratorium.
Negara tetangga, Uganda, menambahkan satu kematian akibat Ebola yang berasal dari Kongo. Kasus tersebut melibatkan seorang pria asal Kongo yang dirawat di rumah sakit di Kampala tiga hari sebelum meninggal. Kementerian Kesehatan Uganda menyatakan pasien diuji setelah kematian pada hari Jumat, setelah Kongo mengonfirmasi wabah. Semua kontak pria tersebut dikarantina, dan jenazah dikirim kembali ke Kongo. Kementerian menambahkan bahwa pasien terinfeksi virus Bundibugyo, varian Ebola yang endemik di Uganda.
Virus Ebola, yang juga dikenal sebagai strain Ebola Zaire, pernah mendominasi wabah di Kongo. Hasil sementara menunjukkan kemungkinan varian lain selain strain Ebola Zaire. Proses pengurutan genetik masih berlangsung untuk memastikan keakuratan. WHO menjelaskan bahwa penyakit ini disebabkan oleh sekelompok virus, tiga di antaranya dapat memicu wabah besar: virus Ebola, virus Sudan, dan virus Bundibugyo.
Di tahun lalu, WHO menilai Kongo memiliki stok pengobatan dan sekitar 2.000 dosis vaksin Ebola Ervebo. Vaksin Ervebo efektif melawan strain Ebola Zaire, namun tidak melindungi terhadap virus Sudan atau virus Bundibugyo.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengumumkan bahwa pada pekan lalu, WHO mengirim tim untuk membantu Kongo menyelidiki wabah dan mengumpulkan sampel. Meskipun hasil awal belum mengonfirmasi Ebola, analisis terbaru pada Kamis akhirnya memastikan keberadaan penyakit tersebut.
“Kongo memiliki rekam jejak yang kuat dalam respons dan pengendalian Ebola,” kata Tedros, seraya menambahkan WHO akan mengucurkan dana sebesar 500 ribu dolar AS untuk membantu penanganan wabah di Kongo.
Wabah ini menegaskan pentingnya pengawasan kesehatan di wilayah rawan. Respons cepat dan kolaborasi internasional menjadi kunci dalam menahan penyebaran virus yang sangat menular ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai