Waduk Brigif: Ruang Rekreasi dan Flood Control di Jagakarsa
Gambar atau konten salah?
Waduk Brigif terletak di Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan awalnya dibangun untuk menanggulangi banjir. Kini, ia juga menjadi tempat belajar dan olahraga bagi warga sekitar.
Seorang jurnalis mengunjungi waduk tersebut dan berbincang dengan Ahmad Maulana, yang dikenal sebagai Bang Apur (55). Ia adalah warga setempat dan aktivis lingkungan yang mengabdikan waktunya untuk menjaga kelestarian waduk.
Berbeda dengan banyak waduk di Jakarta yang memakai dinding beton, Waduk Brigif menonjol karena desainnya yang ramah lingkungan. Bang Apur menekankan nilai ekologis kawasan ini yang berasal dari sejarah alamnya.
“Ini sebetulnya Sungai Purba awalnya. Lembah purba. Yang mentok sana itu Sungai Krukut,” ujar Bang Apur saat ditemui di lokasi, 1 Mei 2026.
Konsep tanpa beton (naturalisasi) memungkinkan air meresap ke tanah secara alami. Selain teknis pengairan, waduk ini menjadi rumah bagi berbagai habitat flora dan fauna yang jarang ditemui di tengah kota.
“Konsepnya apik buat gue. Tidak dengan beton, jadi memang meresap. Ini satu lahan untuk edukasi yang luar biasa,” tambahnya.
Sejak resmi dibuka oleh Gubernur Anies Rasyid Baswedan pada 4 Oktober 2022, Waduk Brigif menjadi destinasi wisata olahraga yang digemari masyarakat setempat. Jalur pejalan kaki mengelilingi perairan tenang, dikelilingi hamparan hijau, menjadi daya tarik utama bagi penggemar jogging.
“Cuaca baik, pagi bisa ribuan (orang). Sore juga begitu,” catat Bang Apur. Jumlah pengunjung meningkat signifikan pada hari libur.
Pengunjung tidak hanya berasal dari Jagakarsa, tetapi juga dari luar wilayah. Banyak yang datang ke waduk seluas 10 hektare ini untuk duduk-duduk, memancing, atau sekadar menikmati suasana.
Di tengah waduk terdapat jembatan mencolok yang menjadi tempat foto populer bagi warga. Banyak orang berbondong-bondong datang untuk berfoto atau menikmati suasana sekitarnya.
Meski pesonanya menarik, masalah serius tetap ada: sampah. Bang Apur menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan kawasan ini, guna mencegah penambahan beban pada krisis sampah Jakarta.
“Harus ada titik sadar. Mereka bukan hanya sekadar jadi penikmat, tapi juga jadi pencinta. Kalau kita cinta, kita pasti jaga,” harap Bang Apur.
Waduk Brigif membuktikan bahwa ruang publik yang dikelola dengan konsep ekologis dapat memberikan dampak ganda: sebagai pengendali banjir bagi daerah sekitarnya seperti Ciganjur, sekaligus sebagai ruang sosial yang sehat bagi masyarakat.
Waduk ini buka setiap hari pukul 07.00-17.00. Bahkan, masih ada beberapa pengunjung hingga malam.
Tempat ini menawarkan suasana tenang, oksigen segar, dan ruang lari pagi bagi siapa saja yang ingin bersantai atau berolahraga. Dengan konsep ekologis dan fasilitas yang ramah lingkungan, Waduk Brigif menjadi contoh sederhana bagaimana ruang publik dapat berfungsi ganda, melayani kebutuhan sosial sekaligus melindungi lingkungan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026