Waisak 2023: Ribuan Umat Berkumpul di Borobudur Indonesia

Maya K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
Waisak 2023: Ribuan Umat Berkumpul di Borobudur Indonesia

Gambar atau konten salah?

Waisak akan kembali mengisi udara di Candi Borobudur pada 31 Mei 2023. Hari ini, ribuan umat Buddha dari seluruh Indonesia dan negara tetangga akan berkumpul di situs warisan dunia ini untuk merayakan puncak bulan purnama.

Sejarah perayaan Waisak di Borobudur bermula pada masa Dinasti Syailendra, abad ke-8. Pada masa itu, candi ini menjadi pusat ibadah Buddha terbesar di Nusantara. Namun, ketika pusat kerajaan berpindah, candi ini terkurung oleh tanah dan terlewatkan selama berabad-abad. Borobudur akhirnya bangkit kembali ketika perayaan Waisak pertama kali digelar pada 1 Januari 1929 oleh komunitas spiritual. Puncak perayaan nasional berikutnya datang pada 1 Januari 1953 di bawah arahan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita.

Setelah Waisak diakui sebagai hari libur nasional pada 1 Januari 1983, Borobudur resmi masuk daftar Warisan Dunia UNESCO. Sejak itu, perayaan ini berkembang menjadi festival spiritual internasional yang terkenal. Tradisi pelepasan lampion, prosesi kirab, dan ritual pengambilan api serta air menjadi sorotan utama.

Berikut rincian beberapa unsur penting dalam perayaan Waisak di Borobudur:

1. Pusat Perayaan Waisak Nasional

Walaupun banyak candi Buddha di Indonesia, Candi Borobudur tetap menjadi titik temu utama bagi semua perayaan Hari Raya Waisak. Ribuan umat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri—seperti Thailand, Tibet, dan Sri Lanka—berangkat ke sini untuk beribadah bersama.

2. Ritual Pengambilan Api Alam dan Air Berkah

Di depan puncak perayaan, dua ritual penting dilakukan. Pertama, Api Abadi diambil dari sumber api alam di Mrapen, Grobogan. Api ini melambangkan penerangan dan pengikisan kekesalan. Kedua, Air Berkah diambil dari mata air Jumprit di Temanggung. Air ini melambangkan ketenangan, pembersihan diri, dan kesucian. Setelah dikumpulkan, kedua elemen disemayamkan di Candi Mendut sebelum dibawa kirab ke Borobudur.

3. Prosesi Kirab Jalan Kaki

Prosesi kirab paling ikonik dimulai di Candi Mendut, melewati Candi Pawon, dan berakhir di Candi Borobudur. Jaraknya sekitar 3,5 kilometer. Selama perjalanan, para biksu dan umat berjalan kaki sambil membawa persembahan berupa sarana puja, hasil bumi, serta replika Buddha.

4. Tradisi “Pindapata”

Beberapa hari sebelum hari H, para biksu melakukan tradisi Pindapata di sepanjang jalan sekitar Magelang. Mereka membawa mangkuk (patra) untuk menerima sumbangan sukarela dari masyarakat—makanan, minuman, atau dana. Tradisi ini menandai pelepasan keduniawian bagi biksu dan ladang kebajikan bagi masyarakat.

5. Detik-Detik Waisak Berdasarkan Astronomi

Berbeda dengan hari raya keagamaan lain yang tanggalnya tetap, puncak Waisak ditentukan oleh perhitungan astronomi modern. Detik-detik Waisak jatuh pada saat bulan purnama sidereal, ketika bumi, matahari, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Karena itu, puncak Waisak bisa terjadi pada pagi, siang, atau malam hari.

6. Festival Pelepasan Lampion

Pelepasan ribuan lampion di lapangan Aksobya Candi Borobudur menjadi acara paling dinantikan. Lampion ini bukan sekadar dekorasi; ia mewakili doa, harapan, kedamaian, serta pelepasan hal-hal negatif dari dalam diri menuju alam semesta.

7. Tri Suci Waisak

Semua rangkaian ibadah di Borobudur dirayakan untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama yang terjadi pada bulan purnama yang sama:

  • Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini (563 SM)
  • Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Sempurna menjadi Buddha di Bodhgaya (528 SM)
  • Parinibbana (wafatnya) Buddha Gautama di Kusinara (483 SM)

Dengan segala unsur tradisi dan modernitas, perayaan Waisak di Candi Borobudur menjadi simbol toleransi dan harmoni budaya yang terus menarik perhatian dunia.

Candi BorobudurWaisakProsesi KirabLampionRitual Pengambilan ApiPindapataWarisan Dunia UNESCO

Komentar

Memuat komentar...