Waisak 2026: Puncak Perayaan di Borobudur pada 31 Mei

Sigit W. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 162 dibaca
Bisik.id
Waisak 2026: Puncak Perayaan di Borobudur pada 31 Mei

Gambar atau konten salah?

Waisak adalah hari suci bagi umat Buddha, yang diperingati setiap tahun pada bulan purnama pertama di bulan Waisakha. Perayaan ini menandai tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama: kelahiran, pencerahan, dan wafatnya.

Hari ini sering dikaitkan dengan lampion yang bersinar di Candi Borobudur, namun makna sebenarnya lebih dalam. Waisak bukan sekadar libur nasional; ia adalah momen refleksi spiritual bagi jutaan orang yang memegang ajaran Buddha.

Peristiwa yang disebut Tri Suci Waisak terdiri dari: kelahiran Pangeran Siddharta Gautama di Kerajaan Kapilavastu, pencapaian pencerahan di Gunung Bodhi, dan parinibbana atau wafatnya Buddha di Kushinagar. Semua terjadi pada hari bulan purnama, sehingga perayaan selalu jatuh pada fase tersebut.

Alasan memilih bulan purnama berakar pada simbolisme kesempurnaan dan cahaya. Dalam tradisi Theravada, bulan purnama dianggap sebagai titik terang yang menandai pencapaian kebijaksanaan. Oleh karena itu, umat Buddha memanfaatkan momen ini untuk meditasi, doa, dan kegiatan sosial.

Asal-usul Waisak tidak tercatat secara rinci dalam teks Buddhis awal. Namun, catatan sejarah Sri Lanka, khususnya Mahavamsa abad ke-5 hingga ke-6 Masehi, menyebut festival ini. Sejarah perjalanan peziarah Buddha, seperti Faxian, juga mencatat perayaan serupa di India pada awal abad ke-5.

Di Sri Lanka, Waisak mulai berkembang menjadi festival publik pada abad ke-19. Gerakan kebangkitan Buddhisme di masa kolonial memicu perayaan yang lebih meriah. Henry Steel Olcott, seorang teosofis, mengajukan petisi pada tahun 1884 agar Waisak menjadi hari libur resmi. Sejak itu, lampion, parade, dan pertunjukan kisah hidup Buddha menjadi bagian rutin.

Pengakuan internasional Waisak dimulai pada Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia di Sri Lanka tahun 1950. Hari ini ditetapkan sebagai perayaan internasional setiap bulan purnama pertama di bulan Mei. Pada tahun 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengakui Waisak sebagai perayaan internasional.

Di Indonesia, sejarah modern Waisak terkait erat dengan Candi Borobudur. Pada tahun 1929, Himpunan Teosofi Hindia Belanda mengadakan perayaan pertama di situs tersebut. Perayaan sempat terhenti selama masa revolusi kemerdekaan, lalu dilanjutkan kembali pada tahun 1953. Ketika Borobudur sedang direnovasi pada 1973, perayaan dipindahkan sementara ke Candi Mendut.

Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia, dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar tahun 780-840 Masehi. Meskipun sempat tidak aktif sebagai pusat keagamaan, perayaan Waisak modern di sini menandai kebangkitan budaya dan toleransi. Ribuan umat Buddha dan wisatawan berkumpul di sini setiap tahun untuk mengikuti ritual suci dan meditasi bersama.

Tri Suci Waisak mengajak umat Buddha untuk mengingat ajaran Buddha tentang kebijaksanaan, cinta kasih, pengendalian diri, dan pembebasan dari penderitaan. Waisak menjadi momentum praktik ajaran melalui meditasi, kebajikan, berdana, dan bantuan sosial. Kegiatan ini menegaskan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi perayaan Waisak meliputi beberapa kegiatan: meditasi dan doa bersama, pembacaan paritta suci, kirab Waisak, pelepasan lampion, pengambilan api Dharma dan air berkah, serta bakti sosial dan donor kemanusiaan. Setiap elemen memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam.

Waisak 2026 jatuh pada Minggu 31 Mei 2026 pukul 15.44.44 WIB. Puncak perayaan akan difokuskan di Candi Borobudur. Rangkaian kegiatan meliputi: Minggu 3 Mei bakti di Taman Makam Pahlawan seluruh Indonesia; Sabtu-Minggu 23-24 Mei bakti sosial pengobatan gratis; Jumat 29 Mei pengambilan api Dharma; Sabtu 30 Mei pengambilan air berkah; dan Minggu 31 Mei puncak acara Tri Suci Waisak.

Perayaan ini menegaskan kembali peran Waisak sebagai jembatan antara ajaran Buddha dan praktik sosial. Melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat luas, Waisak menguatkan nilai kedamaian, kasih sayang, dan toleransi. Waisak menjadi contoh bagaimana tradisi keagamaan dapat mempengaruhi kehidupan sosial secara positif.

WaisakCandi BorobudurTri SucilampionmeditasiPBBHenry Steel Olcott

Komentar

Memuat komentar...