Wakil Gubernur Trenggalek Rayakan Kupatan di Durenan
Gambar atau konten salah?
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama istrinya Arumi Bachsin hadir di Durenan, Trenggalek untuk merayakan Lebaran Ketupat, atau Kupatan. Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun dan tetap hidup sampai sekarang. Berbeda dengan daerah lain, perayaan Kupatan di Trenggalek berlangsung meriah. Ribuan warga dari berbagai daerah bersilaturahmi di Kecamatan Durenan seolah‑olah sedang merayakan Lebaran hari pertama. Ramainya tidak disebabkan oleh pentas hiburan, melainkan sudah menjadi bagian budaya dan kultur masyarakat.
Emil tidak pernah melewatkan kunjungan ke Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan pada hari Lebaran. Ia datang bersama istrinya dan langsung bertemu dengan keluarga pengasuh pesantren maupun warga setempat. “Biar gimana pun memang kampung halaman saya ini ya Trenggalek. Tapi kalau dulu biasanya hanya ke kediaman dari almarhumah Eyang Dardak, tapi ternyata setelah kami menelusuri salah satu yang menjadi sebuah momen istimewa bagi warga Trenggalek ini juga adalah Kupatan,” kata Emil pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Menurutnya, kesempatan merayakan Lebaran di Trenggalek sejalan dengan rangkaian perayaan Idulfitri. Pada hari pertama Lebaran, Emil tidak bisa pulang kampung karena harus mengikuti salat Idulfitri di Masjid Al Akbar Surabaya bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. “Kalau salat Idulfitri biasanya kami harus bertugas di Masjid Al-Akbar bersama Bu Gubernur, kemudian lanjut di Grahadi, maka momen yang paling pas untuk ke Trenggalek ini juga waktu Kupatan,” jelasnya.
Selain di Durenan, Emil juga sempat menggelar open house bersama warga di kediaman keluarga besarnya di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek. Kegiatan tersebut menjadi ajang bertukar kabar dan mempererat hubungan antarwarga.
Tradisi Kupatan Trenggalek dianggap cukup istimewa karena telah berlangsung ratusan tahun dan tetap lestari. Sejarahnya bermula dari eyang buyutnya Kiai Abdul Masyir atau Mbah Mesir. Menurut perwakilan keluarga Ponpes Babul Ulum, Mohammad Al Haidar mengatakan, “Konon waktu itu setiap Lebaran hari pertama Mbah Mesir diminta mendampingi Adipati Trenggalek di pendapa hingga Lebaran ke-7.”
Selama mendampingi Adipati Trenggalek, Mbah Mesir menjalankan puasa Syawal enam hari. Pada saat Kupatan, beliau menggelar open house bersama santri dan masyarakat. “Nah, pada saat Kupatan beliau menggelar open house bersama santri dan masyarakat,” ujarnya. Sejak itulah santri dan masyarakat bersilaturahmi dengan kiai pada H+7 Lebaran. Tradisi ini akhirnya berkembang dan diikuti oleh masyarakat luas di Kecamatan Durenan dan sekitarnya.
Di momen Kupatan, masyarakat sekitar pesantren menggelar kirab tumpeng ketupat dengan melewati jalan kampung. Kirab tiga gunungan yang terdiri dari ketupat, sayur mayur, hasil bumi, dan jajan pasar dimulai dari Lapangan Duranan, selanjutnya singgah di Ponpes Babul Ulum dan dikirab kembali menuju lapangan. Tumpeng ketupat menjadi rebutan masyarakat yang hadir.
Menurut keluarga pondok, keberadaan kirab dan arak‑arakan bukan menjadi magnet utama perayaan Kupatan. Namun, hanya menjadi hiburan bagi masyarakat sekitar. Esensi perayaan Kupatan justru bersilaturahmi dengan kiai dan masyarakat. Uniknya, dalam tradisi Kupatan, setiap rumah warga menyediakan hidangan berupa ketupat sayur untuk para tamu yang datang.
Perayaan Lebaran Ketupat tahun ini dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah. Dampaknya arus lalu lintas di ruas jalur utama Trenggalek‑Tulungagung di Kecamatan Durenan padat. Dari pantauan, kepadatan arus lalu lintas terpantau mulai simpang empat Kedunglurah hingga Desa Kamulan, Kecamatan Durenan. Kapolsek Durenan Iptu Sagi Janitra mengatakan tingginya antusiasme masyarakat tersebut telah diantisipasi pihak kepolisian dengan menyiapkan jalur alternatif. “Untuk jalur alternatif sudah kami siapkan, kalau dari arah Tulungagung bisa ambil kiri atau ke selatan di SMP 1, nanti tembus jalur Bandung‑Trenggalek, terus tembus ke jalan baru,” ujarnya.
Perayaan Kupatan di Trenggalek menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat tetap hidup dan menjadi sarana silaturahmi antarwarga, sekaligus memicu dinamika sosial dan logistik di tingkat kabupaten. Meskipun tidak disertai pentas hiburan besar, acara ini tetap menjadi momen penting bagi komunitas setempat, memperkuat ikatan sosial dan menjaga warisan budaya yang telah berlangsung lama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
