Wamen LHK: PSEL Gagal Tanpa Pemilahan Sampah
Gambar atau konten salah?
Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberikan peringatan keras terkait rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali. Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menyatakan bahwa proyek besar ini tidak akan berfungsi maksimal jika masyarakat tidak konsisten memilah sampah sejak dari rumah.
Pernyataan itu disampaikan Diaz saat mengunjungi TPS 3R Sapuh Jagad yang berlokasi di Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Badung, pada Rabu, 8 Juli 2026. Ia menegaskan bahwa PSEL bukanlah solusi instan yang bisa menelan semua jenis sampah begitu saja. "PSEL itu kalau sampahnya tidak terpilah juga tidak akan jalan. Jadi PSEL itu hati-hati juga, bukan berarti semua sampah bisa kita masukin ke situ. Kita tetap harus bisa melakukan pemilahan," ujarnya.
Data dari KLH menunjukkan, volume sampah harian di Indonesia mencapai 146 ribu ton. Fasilitas berskala besar seperti PSEL hanya mampu mengolah sebagian kecil dari angka tersebut. Karena itu, pengolahan sampah di tingkat sumber—seperti yang dilakukan oleh TPS 3R di desa-desa—menjadi langkah yang mutlak diperlukan sebelum sampah menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Diaz menambahkan, "TPS 3R seperti ini masih sangat-sangat diperlukan dan jangan lupa juga, ini PSEL itu kalau sampahnya tidak terpilah juga tidak akan jalan." Ia juga memberikan apresiasi kepada kepala desa, pengurus TPS 3R, dan warga setempat yang telah disiplin memilah sampah. Menurutnya, persoalan sampah tidak akan pernah selesai jika pemilahan tidak dilakukan sejak dari hulu.
Desa Gulingan menjadi contoh nyata keberhasilan pengelolaan sampah berbasis komunitas. TPS 3R di desa tersebut mampu menangani kiriman sampah dari sekitar 10 ribu warga hingga 100 persen. Keberhasilan ini tidak terjadi dalam semalam. Butuh kampanye kesadaran lingkungan yang masif selama tiga bulan penuh untuk membuat warga terbiasa memisahkan sampah organik dan anorganik langsung dari rumah masing-masing.
Diaz mengaku ingin belajar dari pengalaman Desa Gulingan. "Kami dari KLH juga mengapresiasi masyarakat yang bergerak cepat melakukan penanganan. Kita juga pengin belajar dari Desa Gulingan ini untuk di Jakarta ini, gimana caranya mengelola ini," tuturnya. Ia bahkan menyarankan agar model pengelolaan sampah seperti ini diterapkan di seluruh Bali dan Indonesia.
Singkatnya, keberhasilan pengelolaan sampah di Desa Gulingan membuktikan bahwa pemilahan di tingkat rumah tangga adalah kunci utama. Tanpa itu, teknologi secanggih apapun—termasuk PSEL—tidak akan berjalan efektif. Kampanye kesadaran dan disiplin warga menjadi fondasi yang tidak bisa diabaikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
